Advertisement

Sultan Ala`uddin, adalah raja Gowa yang ke-14, memerintah 1593-1639, dan merupakan raja Gowa pertama yang me­meluk agama Islam. Nama aslinya I Mang­ngarangngi Daeng Manra’bia. Ia menggan­tikan kakaknya, Karaeng Tunipasulu yang kejam (Tunipasulu artinya raja yang dike­luarkan atau dimakzulkan), waktu ia baru berusia 7 tahun, sehingga, pemerintahan Gowa, selama ia belum dewasa, dijalankan oleh pabbicara butta atau mangkubumi, yaitu Karaeng Matoaya (raja yang tua). Mangkubumi Matoaya ini adalah raja Tal­lo yang ke-6 dan masih bersaudara dengan Karaeng Biinea, ibu kandung Karaeng Tu­nipasulu dan Sultan Ala’uddin, Karaeng Matoaya ini adalah salah seorang raja di Sulawesi Selatan yang pertama masuk Is­lam 1605 (1014 H) sehingga mendapat ge­lar Sultan Abdullah Awalul Islam. Dengan demikian, kerajaan Gowa dan Tallo pada abad ke-17 sudah menjadi kerajaan Islam dan raja-rajanya bergelar Sultan berkat usaha 3 orang ulama Minangkabau yang datang ke Gowa atas perintah Sultan Aceh Saidi al-Mukammal, yaitu Abdul Makmun Khatib Tunggal (Dato’ ri Bandang), Kha­tib Sulaiman (Dato’ ri Patimang) dan Kha­tib Bungsu (Dato’ ri Tiro).

Sebagai raja muslim yang pertama di Gowa, Sultan Ala’uddin adalah raja yang besar dan bijaksana, dicintai oleh rakyat­nya dan pada masa pemerintahannya ba­nyak negeri lain yang ditaklukkannya, seperti Bulukumba, Bilusu, Sidenreng, Lamuru, Soppeng, Wajo, Bone, sebagian Tempe, Bulu Ceniana, Wawoniao, Bilok­ka, Cemo, Pakkalabbu dan Campaga. Di­taklukkan pula Bima, Sumbawa, Dompu, Kakelu, Sanggara, Buton, Pancana, Tun­bungku, Banggai, Buol, Gorontalo, La­rompong, Selaparang (Lombok), Pasere (Kalimantan Selatan) dan Kutai. Dengan raja-raja Mataram dan Aceh, diadakan pu­la hubungan persahabatan. Ia wafat 15 Ju­ni 1639 (12 Safar 1049 H) dan mendapat gelar anumerta Tumenffnga ri Gaukanna yang berarti wafat dalam waktu masih me­merintah.

Advertisement

Advertisement