Advertisement

Sultan Agung, lengkapnya Sultan Agung Hanyakrakusuma Senapati Ing Nga­laga N,gabdurrahman, adalah raja Mataram Islam yang ke-3 dan terbesar, memerintah antara 1613-1645. Narna kecilnya Raden Mas Rangsang, putra prabu Anyakrawati (Raden Mas Jolang, Panembahan Seda Krapyak), raja Mataram yang ke-2. Ibunya bernama Ratu Mas Adi, putri Pangeran Benawa dari Pajang. Menurut suatu sum­ber, mestinya saudara tuanya, Raden Mas Martapura, yang menjadi raja; tetapi kare­na ia sakit-sakitan, maka Raden Mas Rang­sanglah yang diangkat sebagai pengganti ayahnya. Pemerintahannya semula berpu­sat di Kerta, kemudian dipindahkan ke Plered.

Sejak naik tahta, menyadari banyak tantangan yang akan dihadapinya, teruta­ma dari mereka yang menganggap bahwa raja-raja Mataram bukan keturunan Maja­pahit atau Demak. Pada 1615, harus ber­hadapan dengan aliansi adipati-adipati La­sem, •Tuban, Japan, Wirosobo, Pasuruhan, Arisbaya dan Sumenep (kedua terakhir dari pulau Madura) di bawah pimpinan adipati .Surabaya dan Sunan Giri sebagai penasihat. Untung bagi Sultan Agung, ke­tika sampai di Pajang mereka kehabisan perbekalan, sehingga dapat dipukul mun­dur. Sampai di Wirosobo (Mojokerto), me­reka dapat dikalahkan dan aliansi mereka dapat diceraiberaikan. Setelah itu, ditak­lukkan Lasem (1616), Pasuruhan (1617), dan Tuban (1620). Pajang yang berontak dapat dipadamkan, dan pada 1622, de­ngan 80.000 personil militer Sultan Agung menyerang Surabaya, tetapi gagal. Tahun 1624, Madura menda.pat giliran, dan sete­lah melalui pasang surut pertempuran, akhirnya Madura menyerah. Brasena, sau­dara adipati Arisbaya, diangkat menjadi adipati dengan gelar Cakraningrat I dan memerintah .Madura atas nama Mataram serta berkedudukan di Sampang. Tahun 1625, untuk kedua kalinya Surabaya dise­rang, dan Sultan Agung berhasil. Adipati

Advertisement

Surabaya, Pangeran Pekik, tetap dalam ke­dudukannya semula, bahkan dikawinkan dengan putri Sultan Agung sendiri, Ratu Wandansari, hanya sekarang harus tunduk kepada Mataram. Sunan Giri pun akhirnya dapat dikalahkan mela1ui adipati Suraba­ya. Sunan Giri ditawan dibawa ke Mata­ram, kemudian dikembalikan ke Giri de­ngan diberi .gelar panembahan. Untuk mengikat Cirebon, ia mengawini putri ke­rajaan tersebut. Daerah Priangan yang me­nyatakan tunduk kepada Mataram, peng­urusannya diserahkan kepada adipati Su­medang, Pangeran Kusuma Dinata.

Usahanya untuk mempersatukan tanah Jawa di baWah satu pimpinan, agaknya untuk .menggalang persatuan dan kekuat­an.. Sebelum dapat menaklukkan Banten, Mataram memberi izin kepada Belanda untuk membtika usahanya di Jepara. Usa­ha itu dihalang-halangi oleh adipati Ken­dal, dan Belanda membalas dengan me­rampas beberapa perahu milik pribumi. Mendengar hal itu, Sultan Agung marah. Kantor Belanda di Jepara direbut, dan 17 orang Belanda dibawa ke Mataram (1618). J.P. Coen lalu memerintahkan membakar Jepara (1619), dan Mataram mencabut izin dagang yang semula diberikan kepada Belanda. Coen lalu merebut Jayakarta pa­da tahun itu juga. Utusan Coen pernah da­tang ke Mataram untuk membicarakan soal dagang, tetapi gagal karena Belanda menolak untuk bersama-sama menakluk­kan Banten, Tak ada jalan lain bagi Sultan Agung, kecuali menaklukkan Batavia lebih dahulu. Tahun 1628 ekspedisi I dikirim untuk menyerbu Batavia di bawah pim­pinan Baureksa, .dibantu tentara Sunda yang dipimpin oleh Dipati Ukur. Karena kalah persenjataan dan kekurangan perbe­kalan, tentara Mataram terpaksa mundur dan Baureksa tewas. Ekspedisi II diberang­katkan 1629.. Kali ini diperlengkapi de­ngan perbekalan yang cukup dan disimpan di pos-pos perbekalan, seperti Pekalongan, Brebes dan Tegal. Sayang, pos-pos ini di­ketahui oleh Coen, dan dibakar. Oleh ka­rena itu, ekspedisi ini mengalami nasib yang sama dengan yang terdahulu, meski­pun Coen tewas dalam serangan Mataram yang kedua ini. Karena kekalahan beruntun ini, Giri bangkit lagi 1635, tetapi da­pat ditaklukkan kembali. Tahun 1639 Blambangan ditaklukkan, tetapi tak lama kemudian Blambangan bergabung dengan Bali. Perdagangannya sejak bermusuhan dengan Belanda dialihkan ke Malaka, yang pada 1641 direbut pula oleh Belanda dari kalangan Portugis. Demikian pula usaha­nya untuk mengirim utusan ke Mekah de­ngan kapal Inggris, dapat digagalkan pula oleh Belanda. Namun demikian, Sultan Agung tidak berputus asa. Ia perintahkan adipati Galuh dan adipati Kertabumi un­tuk menduduki Karawang dan diusahakan pula transmigrasi dari Jawa Tengah untuk membuat pesawahan di Karawang guna perbekalan tentara Mataram kalau menye­rang Batavia lagi.

Di samping usahanya tersebut, sebagai muslim, lebih-lebih setelah kegagalan-ke­galan yang dialaminya ketika melawan Be­landa, Sultan Agung sering berhubungan dengan alim-ulama dari Tembayat. Peraya­an grebeg disesuaikan dengan perayaan Idulfitri (Grebeg Pasa) dan Grebeg Mulud (Maulid). Selama grebeg, Gamelan Seka­ten dibunyikan di halaman mesjid besar. Sejak 1633, tahun Saka yang berangka 1555 dan merupakan tahun Syamsiyah, di­sesuaikan dengan tahun Hijrah yang meru­pakan tahun Qamariah dan lebih dikenal dengan tahun Jawa. Sebagai orang yang gemar ilmu dan falsafat, ia mengarang kitab Sastra Gending,yang berisikan mistik. Pa­da masa pemerintahannya, daerah luar Ja­wa yang tunduk kepada Mataram adalah Sukadana (Kalimantan) dan Palembang, bahkan raja negeri Palembang ini pada 1641 pernah datang ke . Mataram untuk minta bantuan untuk melawan Belanda.

Sultan Agung wafat 1645 sebelum ter­capai cita-citanya. Namun kebesarannya tetap diakui baik oleh lawan maupun ka­wan. Ia dimakamkan di Imogiri yang sam­pai sekarang menjadi tempat pemakaman raja-raja Surakarta dan Yogyakarta.

Advertisement