Advertisement

Sultan Ageng Tirtayasa, (1651-1685) adalah sultan yang kelima dari kerajaan Is­lam Banten. Nama aslinya Abul Fathi Ab­dul Fattah, putra Sultan Abul Ma’ali Ah­mad Rahmatullah, dan merupakan sultan yang terbesar kekuasaannya di antara raja­raja Banten. Cita-citanya adalah memer­satukan seluruh tanah Pasundan di bawah kekuasaan Banten di samping memajukan agama Islam.

Untuk memajukan Islam, didatang,kan­nyalah ulama-ulama besar, antara lain Syekh Yusuf dari Gowa (Makasar) yang kemudian diambil sebagai menantu dan mendapat gelar kehormatan Hadiyatullah Tajul Khalwati. Digalakkannya pula pela­jaran tarekat, terutama Khalwatiyah dan Rifalyah yang tujuannya bukan untuk menjauhi kehidupan duniawi, melainkan untuk menguatkan keimanan agar tidak gentar menghadapi maut dalam mengha­dapi musuh.

Advertisement

Teluk Banten yang merupakan pelabuh­an internasional waktu itu lebih dipergiat lagi dalam rangka memajukan perekono­mian Banten terutama di sektor perda­gangan. Komoditi ekspor dari Indonesia, banyak yang dikirim melalui pelabuhan ini, antara lain ke Persia, India, Arab, Ma­nila, Tiongkok dan Jepang. Bahkan juga mengadakan hubungan dagang dengan kongsi perdagangan Inggris, Prancis, Den­mark dan Portugis. Di sektor pertanian, diadakan perladangan baru, perluasan sa­wah dan pengairan. Tidak mengherankan kalau Banten di bawah pernerintahan Sul­tan Ageng Tirtayasa ini maju pesat. I’stana Tirtayasa yang terletak antara sungai Pon­tang dan Tanara dibangun, dan kapal pe­siar “Lancang Kuning” dibuat pula untuk berlayar di sekitar wilayah Banten mem­bawa Sultan atau pembesar-pembesar ke­rajaan pergi berburu rusa atau banteng.

Awal petaka bagi Banten dan bagi Sul­tan Ageng sendiri bermula ketika pada 1671 ia mengangkat putra mahkota Abun Nashr Abdul Kahar sebagai raja muda. Ke­kuasaan dalam negeri ia serahkan kepada putranya, sedangkan politik luar negeri masih pegang sendiri. “Untuk menambah bekal putranya kalau nanti ia memerintah secara penuh dan untuk ketenaran Banten di luar negeri sebagai negara Islam, diutus­lah putranya, Sultan Muda Abun Nashr Ab­dul Kahar untuk melawat ke negeri-negeri Islam dan naik haji 1674, dan karena itu ia disebut juga Sultan Haji. Ketika pulang .dari haji, didapatinya adiknya, Pangeran Purbaya, diberi beberapa wewenang pula oleh ayahnya sehingga hubungannya de­ngan adik dan ayahnya menjadi tegang. Agaknya karena sebab itu, ia menjalin hu­ bungan dengan Belanda yang sangat di­benci oleh ayahnya, dan ayahnya tidak dapat mengawasi secara langsung karena si ayah tinggal di istana Tirtayasa sejak 1671, sedangkan anaknya tinggal di istana Ban­ten.

Sementara itu, tiga orang putra Sultan Cirebon yang selama ini tinggal di Mata­ram (kesultanan Cirebon berada di bawah kekuasaan Mataram) meminta suaka kepa­da Banten karena adanya Perang Trunojo­yo di Mataram. Oleh Sultan Ageng Tirta­yasa. ketiganya dikembalikan ke Cirebon untuk melestarikan kesultanan Cirebon dengan pesan agar jangan bersahabat de­ngan Belanda. Sayang, Belanda terlalu cer­dik sehingga belum sampai ketiga putra Ci­rebon itu cukup mempunyai kekuatan, su­dah dihadang dengan perjanjian yang ha­rus ditandatangani, sehingga gagallah upa­ya Sultan Ageng untuk menambah kekuat­an dalam menghadapi Belanda. Peristiwa ini disusul pula dengan dirampasnya pera­hu Banten oleh Belanda di Jawa Timur de­ngan tuduhan sebagai perampok dan awak perahunya disiksa. Sanggahan keras Sultan Ageng atas tuduhan itu dan tuntutanny agar awak perahu Banten segera dibebas­kan, tidak diindahkan Belanda. Atas kese­wenang-wenangan Belanda itu, Sultan Ageng memaklumkan perang kepada Be­landa. Tindakan ini ternyata ditentang oleh putranya sendiri, Sultan Haji, yang merasa dilampaui kekuasaannya oleh ayah­nya; oleh sebab itu, demi keselamatan Banten, sejak 1 Maret 1680, kekuasaan penuh berada di tangannya dan ayahnya sendiri dipecat dari jabatan Sultan. Istana Tirtayasa dikawal oleh pasukan Sultan Ha­ji agar ayahnya tidak sampai meninggal­kan tempat itu. Rakyat berontak dan me­mihak Sultan Ageng yang kemudian me­nyerbu ke Banten untuk menghukum pu­tranya yang durhaka. Sultan Haji minta bantuan Belanda yang segera sarnpai di keraton Banten 8 Maret 1680 dan terjadi pertempuran sengit di sebelah barat su­ngai Cisadane, daerah perbatasan antara Banten dan daerah yang dikuasai Belanda.

Advertisement