MENGENAL SUKU BANGSA TUNJUNG

adsense-fallback

Suatu kelompok yang termasuk bagian masyarakat Dayak yang berdiam di Propinsi Kalimantan Timur khususnya, atau Pulau Kalimantan umumnya. Sebuah sumber menyebutkan bahwa nama asal kelompok ini adalah Tonyonf, yang artinya “mudik” atau menuju ke arah hulu. Nama lengkap kelompok ini adalah Tonyooi Ristn Banqkaas Melikng Panguruu U lak Alaas, yang artinya pahlawan sebagai dewa pelindung. Sesungguhnya mereka sendiri tidak senang dengan penamaan “dayak”, karena kata itu mempunyai konotasi negatif. Apalagi mite mereka menyebutkan bahwa mereka berasal dari dewa-dewa yang menjelma menjadi manusia yang berperan sebagai pelindung. Itulah sebabnya dalam laporan atau penulisan tentang masyarakat ini, mereka disebut suku bangsa Tunjung, bukan suku bangsa Dayak Tunjung.

adsense-fallback

Orang Tunjung masih dapat dibagi atas beberapa kelompok yang lebih kecil atau subkelompok, yakni Tunjung Bubut, Tunjung Asli, Tunjung Bahau, Tunjung Hilir, Tunjung Lonokg, Tunjung Hinggang, dan Tunjung Berambai. Mereka umumnya berdiam dalam wilayah Kabupaten Kutai, tersebar di berbagai kecamatan, seperti Kecamatan Kota Bangun, Kecamatan Melak, Kecamatan Barong Tongkok, Kecamatan Kembang Janggut, dan Kecamatan Muara Pahu. Berdasarkan sumber data register Kabupaten Kutai tahun 1979 jumlah orang Tunjung di kelima kecamatan tersebut adalah 57.976 jiwa, yang terbagi dalam Kecamatan Kota Bangun (17.098 jiwa), Melak (10.767 jiwa), Barong Tongkok (11.502 jiwa), Kembang Janggut (7.810 jiwa), dan Muara Pahu (10.799 jiwa).

Walaupun rata-rata dapat berbahasa Indonesia, orang Tunjung memiliki bahasa ibu sendiri, yakni bahasa Tunjung. Bahasa Kutai yang menjadi bahasa pergaulan di lingkungan masyarakat Kabupaten Kutai juga dikuasai oleh orang Tunjung. Sebagian dari mereka juga memahami bahasa tetangganya, yaitu bahasa Benuaq.

Pada masa lalu perkampungan mereka berada di sekitar aliran sungai atau anak sungai. Rumah mereka yang berbentuk memanjang, 60-100 meter, disebut lu. Rumah panjang ini sama dengan rumah panjang yang lazim dikenal dengan nama lamin (Lihat LAMIN). Sebuah lu terbagi atas bilik-bilik {orok) yang masing- masing didiami oleh satu keluarga. Pendirian sebuah lu dilakukan dengan bergotong-royong dan diiringi berbagai upacara. Sekarang rumah-rumah panjang itu sudah mulai berganti dengan rumah tunggal yang dihuni oleh satu keluarga. Perkampungan semacam itu dihubungkan dengan perahu-perahu dayung atau perahu motor (ketinting), yang merupakan sarana angkutan yang sangat penting.

Mata pencaharian utama suku bangsa Tunjung adalah pertanian ladang berpindah-pindah, dengan tanaman pokok padi. Di samping itu mereka juga menanam palawija dan tanaman keras, seperti jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang-kacangan, sayur-mayur, kelapa, durian, rambutan, cempedak, dan langsat. Sebagai mata pencaharian sambilan mereka juga menangkap ikan di sungai; mencari rotan, damar, tengkawang, dan sarang burung di hutan.

Dalam sistem kekerabatan, suku bangsa ini menganut prinsip bilateral, yaitu menghitung hubungan kekerabatan melalui pria maupun wanita. Setiap individu termasuk dalam lingkup kerabat ayah dan ibu- § nya. Anak-anak mempunyai kewajiban yang sama terhadap kerabat pihak ayah dan kerabat pihak ibu. Selain itu pada masyarakat ini berlaku prinsip ambilineal, yaitu menghitung hubungan kekerabatan untuk sebagian orang dalam masyarakat melalui pria dan untuk sebagian lainnya melalui wanita. Prinsip ini terwujud dalam sistem penggolongan harta milik keluarga.

Adat menetap sesudah nikahnya utrolokal, artinya sepasang pengantin bebas memilih menetap di ling-kungan kerabat suami atau di lingkungan kerabat istri. Kemungkinan lain adalah adat neolokal, artinya berdiam di luar lingkungan kerabat suami atau istri.

Perkembangan desa yang berasal dari penghuni !’ sebuah rumah panjang (lu) masih tetap mengikat kesatuan penduduk sebuah desa. Ikatan itu disebut satu benua. Perintis pendirian sebuah benua diangkat menjadi pimpinan dengan gelar merhajaq dan semua sanak saudaranya disebut hajiq, yang artinya golongan I bangsawan. Pimpinan itu dibantu oleh pengkawaq, i yang mempunyai bawahan yang berhubungan langsung dengan orang kebanyakan (mantiq tatau). Selain itu ada pula panglima perang {pemaeuk) dan pengelola adat (pemancarak). Pada masa sekarang pemerin- tah desa secara formal dipegang oleh kepala desa dan kepala adat. Kedua tokoh ini biasanya sangat dihormati oleh masyarakat. Tokoh lain yang juga dihormati adalah tua-tua kampung {pelegan kampung).

Anggota masyarakat suku bangsa ini sebagian be- f sar menjadi pemeluk agama Kristen dan ada pula yang beragama Islam. Namun secara umum mereka masih saja mengadakan hubungan dengan roh-roh berdasarkan kepercayaan asli mereka. Roh-roh itu dihubungi untuk meminta keselamatan, rezeki, dan lain-lain. J Penghubung roh itu adalah para dukun {belian).

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback