MENGENAL SUKU BANGSA TORAJA

adsense-fallback

Mata pencaharian utama orang Toraja adalah pertanian di sawah dan ladang dengan tanaman utama padi, jagung, ubi-ubian, sayuran, dan kopi. Akhir- akhir inf banyak penduduk yang menanam cengkeh. Sejak dahulu Tana Toraja terkenal akan hasil kopinya, sehingga mengundang datangnya pedagang-pedagang luar, seperti pedagang Bugis. Kini kopi merupakan komoditas ekspor penting ke luar negeri. Sumber penghasilan lain yang penting pula adalah peternakan kerbau, babi, dan ayam. Kerbau dan babi sangat dibutuhkan sebagai hewan korban dalam berbagai upacara yang sering dilakukan oleh masyarakat Toraja. Setelah Toraja menjadi salah satu daerah pariwisata, timbul sejumlah mata pencaharian baru, misalnya di bidang jasa pemandu wisata, di bidang akomodasi hotel dan penginapan, restoran dan warung makanan, dan toko atau kios yang memasarkan kerajinan tangan Toraja. Selain itu, banyak pula orang Toraja yang menjadi pegawai, ABRI, pedagang/pengusaha, ilmuwan, dsb.

adsense-fallback

Orang Toraja hidup dalam satuan kekerabatan luas yang disebut parapuan. Prinsip keturunannya bersifat parental atau bilateral, dengan satu atau lebih rumah adat tongkonan sebagai perwujudan satuan kekerabatan tersebut. Hubungan keturunan dapat ditelusuri melalui suami-istri pendiri rumah adat tongkonan. Karena penelusuran dapat dilakukan menurut garis ibu atau melalui garis bapak, setiap orang Toraja dapat menelusuri asalnya dari lebih dari satu tongkonan, yang masing-masing memiliki nama-nama sendiri.

Pola perkawinan yang berlaku umumnya adalah endogami suku. Pilihan jodoh yang ideal adalah antara orang-orang yang masih keturunan dari satu nenek, yakni antara sepupu tingkat satu, tingkat dua, dan seterusnya. Tetapi dewasa ini muda-mudi memilih jodohnya sendiri dan sering tidak lagi mengindahkan aturan-aturan adat. Upacara perkawinan umumnya dilakukan lebih sederhana dibandingkan dengan upacara kematian, yang dilaksanakan selengkap-lengkapnya dengan biaya besar dan korban banyak hewan. Dalam perkawinan tidak lazim dilakukan pengurbanan kerbau. Babi atau ayam pada perkawinan hanya digunakan untuk menjamu para tamu, dan tidak untuk sesaji atau persembahan pada penguasa alam supranatural.

Di kalangan orang Toraja penganut agama asli Aluk To Dolo, pengesahan perkawinan dilakukan di hadapan tokoh-tokoh adat dan para kerabat saja. Salah satu acara yang penting dalam upacara perkawinan adalah yang disebut perjanjian Kapa’ (Rampa- nan Kapa), yaitu penentuan jumlah denda dalam bentuk hewan kerbau yang disesuaikan dengan lapisan sosial atau tana’ kedua mempelai. Denda ini harus dibayar oleh pihak yang dianggap merusak rumah tangga mereka kepada pihak yang dirugikan di kemudian hari, bilamana terjadi perzinahan atau perceraian. Semakin tinggi lapisan sosial yang bersalah, semakin besar jumlah denda kerbau yang harus dibayar. Kini di kalangan masyarakat Toraja yang telah menganut agama-agama besar, adat tersebut umumnya tidak berlaku lagi. Pola menetap setelah nikahnya bilokal, artinya kedua mempelai dapat menetap di lingkungan keluarga pihak istri atau pihak suanT namun biasanya mereka menetap di lingkungan k luarga pihak istri.

Di masa lalu masyarakat Toraja terdiri atas bebera pa lapisan sosial. Lapisan atas disebut Tana’ Bulaan atau golongan bangsawan yang disebut Ruang, Sianl be atau Ma’dika. Lapisan kedua adalah Tana Bassi atau golongan Tomakaka, yaitu para tokoh dan pemimpin adat. Lapisan ketiga adalah Tana’ Karurunv yaitu golongan rakyat merdeka atau rakyat biasa. Lapisan keempat adalah Tana’Kua atau golongan rakyat yang tidak merdeka atau budak. Golongan bangsawan memiliki sejumlah wewenang, misalnya dapat menduduki jabatan-jabatan pemerintahan tradisional menggunakan atribut-atribut tertentu seperti ukiran dan warna tertentu pada rumah, mempunyai hak untuk upacara kematian yang dilakukan setinggi-tingginya dengan pengorbanan kerbau sebanyak-banyaknya (dirapai’ atau rapasan), dsb. Setelah agama Kristen masuk ke daerah Toraja, sistem pelapisan sosial tradisional tersebut dihapuskan. Namun hingga kini pelapisan tersebut masih berlaku dalam peristiwa- peristiwa yang berkaitan dengan pemilihan kepala desa, pemilihan jodoh, dan dalam berbagai upacara.

Agama yang paling banyak dianut oleh orang Toraja adalah agama Kristen Protestan (48 persen), kemudian Katolik (12 persen), Islam (6 persen), dan selebihnya agama asli Alukta atau Aluk To Dolo (31 persen). Aluk To Dolo adalah seperangkat sistem kepercayaan dan upacara yang ditujukan kepada tiga unsur kekuatan dalam alam semesta, yaitu Puang Ma- tua (Sang Pencipta), deata atau dewa-dewa penguasa bagian-bagian alam semesta dan bumi, dan roh-roh leluhur atau roh nenek moyang yang telah mencapai kesempurnaan dan disebut To Membali Puang. Setiap kekuatan tersebut mempunyai tempat-tempat yang khusus. Puang Matua bersemayam di arah utara, para deata di bagian timur arah matahari terbit, dan To Membali Puang di sebelah barat arah matahari terbenam, sedangkan arah selatan adalah tempat roh-roh orang mati yang belum disempurnakan upacaranya oleh keluarganya. Manusia diwajibkan memuja ketigakekuatan tersebut melalui upacara-upacara tertentu dengan aturan-aturan tertentu. Misalnya orang baru boleh melakukan upacara tertinggi, yaitu Bua atau La’pa yang ditujukan kepada Puang Matua apabila ia lelah menyelesaikan segala upacara yang dituju, baik yang berkaitan dengan kehidupan (Rambu Tuka’) seperti upacara siklus hidup, pertanian, pembangunan rumah adat, maupun upacara yang berkaitan dengan kematian {Rambu Solo’).

Upacara-upacara yang dilakukan menurut keten- luan adat dihubungkan pula dengan lapisan sosial seseorang. Di masa lalu hanya golongan bangsawan atau Tana Bulan yang mungkin melakukan upacara- upacara tingkat tinggi seperti bua’ atau upacara kema- tian rapasan yang membutuhkan banyak persiapan dan buya besar. Namun sekarang aturan adat tersebut mulai diabaikan, dan siapa saja yang mampu dapat melakukannya. Hal ini menyebabkan sering diadakannya upacara kematian di daerah Toraja, yang kini menjadi salah satu daya tarik kepariwisataan di daerah Toraja.

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback