Advertisement

Berdiam di sekitar Gunung Ngga Simbangnggela dan Gunung Mbot Meli yang terletak di daerah Pegunungan Tengah, Irian Jaya. Rumah perkampungan mereka yang berjumlah ratusan biasanya mengelompok di dekat sungai yang banyak ierdapat di daerah tersebut. Orang Timorini bertubuh kecil dan berambut keriting. Bahasa Timorini termasuk rumpun bahasa Irian, yang memiliki kosakata dan ciri-ciri khas yang berbeda dari bahasa kelompok-kelompok lain di sekitarnya.

Mereka hidup dari perladangan di hutan, yang diejakan dengan peralatan sederhana. Pembukaan suatu daerah hutan untuk dijadikan ladang dilakukan secara bergotong royong oleh kaum laki-laki, sedangkan pekerjaan selanjutnya, seperti menanam dan memanen, dilakukan oleh kaum perempuan. Umumnya mereka menanam ubi-ubian cfan sayur, yang menjadi makanan pokok. Bjla sebuah ladang sudah dianggap tidak subur, mereka meninggalkannya dan mencari lahan baru. Selain berladang, mereka menanam tembakau di sekitar rumah di desa. Orang Timorini memiliki kebiasaan mengisap tembakau dengan pipa.

Advertisement

Selain berladang, orang Timorini juga memelihara babi, yang dianggap sebagai simbol kekayaan. Babi dibiarkan bebas berkeliaran di desa dan hanya disembelih untuk dimakan pada upacara tertentu. Dalam berdagang orang Timorini mengenal sistem pertukaran (barter). Pada masa lalu, alat tukar yang dipergunakan adalah semacam kerang dan siput, yang disebut tinale. Pekerjaan lainnya di waktu senggang adalah berburu, terutama berburu burung dengan busur dan panah.

Orang Timorini mengenal adat poligini yang mem-bolehkan seorang laki-laki mengawini lebih dari seorang perempuan. Oleh sebab itu, sebuah rumah sering kali didiami oleh suatu keluarga yang terdiri atas seorang suami, beberapa istri, dan anak-anak mereka. Dengan adanya prinsip keturunan yang patrilineal, beberapa keluarga yang tinggal dalam satu desa biasanya membentuk kelompok yang terikat oleh hubungan kekerabatan dari garis laki- laki. Bahkan kadang-kadang kelompok patrilineal ini meluas sampai ke.beberapa desa. Kelompok klen ini memiliki nama masing-masing, yang biasanya diambil dari nama hewan, tumbuhan, dan sebagainya. Rasa kesatuan di antara anggota suatu klen, antara lain, diwujudkan dengan gotong royong dalam mengerjakan ladang.

Kelompok kekerabatan seperti ini juga mengatur sistem perkawinan anggotanya. Orang Timorini diha-ruskan kawin dengan orang yang berasal dari klen dengan nama lain. Selain itu, berbagai klen terikat oleh hubungan secara adat, dan di antara warga klen- klen tersebut juga terdapat pantang kawin. Dengan adanya pembatasan pemilihan jodoh, banyak laki-laki Timorini yang terlambat kawin. Dalam adat mereka, ada benda-benda khusus yang harus dijadikan mas kawin dan diserahkan kepada orang tua si gadis, yaitu tinale, kapak batu, pisau, tembakau, dan berbagai perhiasan.

Kepercayaan asli orang Timorini meyakini adanya bermacam- macam makhluk halus, yang disebut kugi. Kugi yang bertempat tinggal di puncak-puncak gunung dianggap dapat mencelakakan orang, misalnya menimbulkan penyakit, bencana, dan sebagainya. Untuk melayani kugi, orang Timorini memberikan sesajian di tempat-tempat tertentu di sekitar rumah. Mereka juga mengadakan upacara besar untuk mengusir kugi, yaitu dengan melakukan tarian dan nyanyian dengan mengenakan pakaian perang bersenjata.

Advertisement