Advertisement

Mendiami wilayah Pegunungan Bromo yang seolah-olah berpusat di Gunung Bromo, Jawa Timur. Gunung Bromo merupakan sebuah simpul tempat bertemunya batas empat kabupaten, yaitu Kabupaten Malang, Pasuruan, Probolinggo, dan Lumajang. Pada keempat kabupaten di sekitar Gunung Bromo itulah tersebar 38 desa permukiman orang Tengger. Data Sensus Penduduk tahun 1930 mencatat jumlah mereka sebesar 10.000 jiwa. Kini jumlah orang Tengger tidak lagi diketahui dengan pasti.

Pada masa kini orang Tengger umumnya hidup sebagai petani. Mereka terkenal sebagai petani yang rajin dan terbiasa bekerja keras. Sifat kerja keras itu terwujud di kalangan keluarga inti, mulai dari suami, istri, sampai anak-anak mereka. Sejak pukul enam pagi mereka sudah berangkat ke ladang dan kembali ke rumah menjelang malam. Sekembali dari ladang barulah sang istri menyiapkan makan malam untuk keluarganya. Kesibukan semacam itulah yang mungkin menyebabkan rata-rata jumlah anak orang Tengger sedikit, walaupun tanpa mengikuti program Keluarga Berencana.

Advertisement

Anak-anak perempuan sejak kecil sudah dilibatkan untuk membantu ibunya mengerjakan jenis-jenis pekerjaan yang seharusnya dikuasai oleh seorang wanita yang kelak akan menjadi ibu rumah tangga. Pekerjaan yang dimaksud misalnya memasak, menjahit, dsb. Sang ibu seolah-olah khawatir kalau-kalau seorang perjaka (lancing) datang meminang putrinya, sementara si gadis belum bisa memasak. Sebelum adanya Undang-undang Perkawinan, banyak anak Tengger yang kawin dalam usia belia, misalnya pada usia 10-14 tahun.

Dalam sistem kekerabatan, seperti pada orang Jawa lainnya, orang Tengger menarik garis keturunan berdasarkan prinsip bilateral, yaitu ke pihak bapak atau ibu. Dalam hal adat menetap sesudah nikah, mereka cenderung menjalankan adat neolokal.

Orang Tengger memeluk agama Hindu Mahayana, meskipun ada juga yang memeluk agama Islam, Protestan, dll. Pada tahun 1985, penduduk desa Wo- nokitri dan beberapa desa lain d: Tengger sebagian besar memeluk agama Hindu (99,4 persen), sedangkan selebihnya memeluk agama Islam (0,6 persen). Tetapi pada beberapa desa lainnya, seperti desa Tosa- ri, jumlah tersebut berimbang, misalnya Hindu (55,7 persen), Islam (41,2 persen), dan sisanya memeluk agama lain. Kedua desa ini termasuk Kecamatan To- sari, Kabupaten Pasuruan. Berdasarkan ajaran agama Hindu yang mereka anut, setiap tahun mereka melakukan upacara Kasodo.

 

Advertisement