Advertisement

MENGENAL SUKU BANGSA LAUT – Terdiri atas kelompok-ke­lompok sosial yang berdiam di berbagai kawasan per­airan Indonesia, seperti di perairan sekitar Pulau Su­matra bagian timur, Kalimantan, Sulawesi, Flores, bahkan ada yang mengembara sampai ke perairan Malaysia dan Filipina. Orang Laut biasa juga dinamakan Suku Laut. Pada berbagai kawasan perairan terse­but subkelompok orang Laut disebut orang Bajau atau Bajo (lihat Bajau, Suku Bangsa), orang Muara, dan orang Ameng Sewang.

Dilihat dari latar belakang asal-usul mereka, para ahli mengkategorikan orang Laut sebagai sisa turunan nenek moyang bangsa Indonesia yang datang bermi­grasi dari daratan Benua Asia sekitar tahun 2500- 1500 SM. Mereka tergolong sebagai Melayu Tua (Proto Melayu) dengan ciri-ciri fisik ras Melayu (Ma­layan Mongoloid). Pada masa itu mereka merupakan pendukung kebudayaan batu baru (neolithicum). Ba­hasa yang mereka gunakan merupakan suatu dialek bahasa Melayu. Contoh kata dialek orang Laut (Ba­jau) di Jambi adalah mando (mandi), nosi (nasi), koyu (kayu), dll.

Advertisement

Jumlah keseluruhan orang Laut tidak dapat lagi di­ketahui secara pasti. Berbagai sumber menunjukkan angka-angka yang bervariasi. Jumlah orang Laut di Kepulauan Riau berdasarkan hasil penelitian Univer­sitas Riau tahun 1977 sebesar 3.500 jiwa atau 577 ke­pala keluarga. Data lain menunjukkan jumlah orang Laut pada tahun 1981 sebesar 2.894 jiwa, yakni yang berdiam di Kecamatan Reteh dan Kecamatan Man- dah, Kabupaten Indragiri Hilir, dan Kecamatan Tam- belan, Kabupaten Kepulauan Riau, Propinsi Riau.

Orang Laut yang berdiam di pesisir Pulau Belitung disebut orang Ameng Sewang. Mereka berdiam di wij layah Kecamatan Tanjung Pandan, Kecamatan Mem- balong, Kecamatan Manggar, dan Kecamatan Ganlung, di Kabupaten Belitung, Propinsi Sumatra Selatan. Jumlah mereka pada tahun 1950-diperki­rakan sekitar 1.000 kepala keluarga. Pada tahun 1980 jumlahnya menjadi 150 kepala keluarga dengan jum­lah keseluruhan sekitar 500 jiwa (Amin Sarwoko, 1981). Direktorat Bina Masyarakat Terasing Departe­men Sosial mencatat jumlah orang Ameng Sewang di daerah Belitung hanya 115 kepala keluarga (Widodo Setyobudi, 1987).

Jumlah orang Laut pada umumnya tampak semakin menciut, karena sistem pengetahuan mereka masih sederhana, sehingga mereka tidak mampu menjawab tantangan alam £eras di sekitar hidup mereka. Hasil penelitian Universitas Riau tahun 1977 menunjukkan angka kematian orang Laut di propinsi itu sebanyak 11 persen. Angka kematian yang tinggi itu. antara lain, disebabkan oleh penyakit seperti malaria dan muntah-berak.

Kelompok orang Ameng Sewang kiranya dapat menjadi salah satu kasus untuk mengenali pola kehi­dupan sosial budaya orang Laut secara keseluruhan Sumber kepustakaan lama menunjukkan bahwa mere^ ka telah berabad-abad lamanya menghuni laut dan pu. lau-pulau kecil di sekitar Pulau Bangka dan Belitung Ketika pada tahun 1668 kapal Belanda mendarat di Pulau Belitung, para awak kapal mendapat serangan orang Ameng Sewang. Ini menunjukkan bahwa di masa lalu mereka pernah mempunyai kekuatan yang cukup berarti.

Lingkungan alam mereka adalah laut di antara pu­lau-pulau kecil di sekitar Pulau Belitung. Kawasan ini berada di antarfi Laut Cina Selatan dan Laut Jawa yang sepanjang tahun menjadi arena peralihan musim yang kadang-kadang terasa sangat ganas bagi mereka. Lingkungan yang demikian menyebabkan mereka ha­rus menyesuaikan diri dengan teknologi dan sistem pengetahuan mereka yang masih sederhana. Musim barat yang garang menyebabkan mereka harus ber­henti mencari nafkah di laut. Kadang-kadang mereka harus mengungsi ke pulau-pulau tertentu selama be­berapa bulan.

Sebagian besar siklus hidup orang Laut berada di laut, di atas perahu (kolek). Perahu adalah rumah dan arena tempat melakukan berbagai aktivitas seha­ri-hari. Di luar musim ikan mereka menetap untuk se­mentara di sekitar pantai, hidup dalam perahu atau gu­buk yang bersifat sementara. Mereka berada di darat rata-rata sekitar dua bulan dalam satu tahunnya. Se­buah perahu didiami oleh satu keluarga inti dengan anak-anak yang biasanya berjumlah kecil. Satu ke­luarga yang pernah melahirkan enam orang anak su­dah merasa bersyukur apabila dua saja di antaranya hidup. Satu perahu kadang didiami oleh keluarga luas, yaitu suatu keluarga inti bersama orang tuanya yang sudah berusia lanjut. Anak-anak mereka yang sudah remaja biasanya berdiam di perahu tersendiri dengan anak remaja dari keluarga kerabat lain. Prinsip ketu­runannya patrilineal dengan adat menetap sesudah ni­kah patrilokal.

Dalam lintasan hidup individu orang Laut, masa hamil seorang wanita merupakan masa yang penuh kebimbangan dan ketegangan. Pada masa ini ada be­berapa pantangan. Orang yang sedang hamil tidak bo­leh keluar dari perahu atau rumahnya pada saat tengah hari, menjelang senja, dan tengah malam. Pada saat itu mereka percaya setar akan datang mengganggu. Pada masa itu juga dilarang memukul, menyakiti, dan membunuh binatang. Seorang ibu melahirkan anak di atas perahu dengan bantuan dukun beranak (teng- guling). Perahu tempat melahirkan itu harus dilepas dari segala ikatannya, namun perahu lainnya harus ada di sekitarnya. Dengan demikian mereka percaya kelahiran akan menjadi lebih mudah.

Apabila ada kematian, mayat segera dimandikan berturut-turut dengan air pasir, air daun jeruk nipis atau jeruk purut, dan terakhir dengan air bersih. Mayat juga diberi kain kafan. Sebelum mayat dimasukkan ke dalam liang lahad, ada orang yang terlebih dahulu ma­suk ke liang lahad itu untuk menyampaikan pesan sang mayat kepada malaikat Nungka Wanangkir. Dalam cara penguburan itu tampak adanya pengaruh jslam. Pada masa ini sebagian besar orang Laut sudah memeluk agama Islam.

Orang Laut mengenal beberapa jenis kesenian da­lam wujud seni tari dan seni suara. Hampir semua nyanyian dan tarian mereka bersifat gembira. Di anta­ra tarian yang dikenal adalah tarian hujung dan ketimpang-burung. Tarian hujung merupakan tarian muda- mudi yang menggambarkan kaum laki-laki sedang penangkap ikan duyung. Tarian ketimpang-burung menggambarkan kegembiraan sambil berpantun ber­sahut-sahutan dalam bahasa Melayu. Nyanyian ulah besin adalah nyanyian yang selalu ada dalam setiap upacara guna mengusir setan dan memohon perlin­dungan kepada dewa dan arwah roh nenek moyang. Mereka juga sangat menggemari tarian semacam tari joget. Belakangan ini banyak pemudanya yang mena­ri sambil minum bir, ciu, dan minuman keras lainnya sampai mabuk. Pada masa lalu masyarakat ini me­mang sudah terbiasa minum tuak nira kelapa. Kebia­saan merokok menjadi kegemaran, yang sudah dimu­lai sejak usia sangat muda.

Pihak pemerintah pernah berusaha memukimkan mereka dengan jalan menyediakan perumahan. Na­mun usaha ini belum berhasil karena pada musim menangkap ikan yang cukup lama rumah itu mereka tinggalkan. Mereka memang masih sukar berbaur de­ngan anggota masyarakat lain di sekitarnya, meskipun sudah biasa masuk ke kota Tanjung Pandan. Kawin campur dengan anggota masyarakat lain terhambat karena mereka masih berpegang teguh pada adat en­dogami kelompok sendiri, dan kesetiaan pada adat itu masih sangat kuat.

Advertisement