Advertisement

MENGENAL SUKU-BANGSA KULAWI – Berdiam di wilayah Kecamatan Kulawi, Kabupaten Donggala, Propinsi Sulawesi Tengah. Kecamatan Kulawi terletak sekitar 70 kilometer di sebelah selatan Palu, ibu kota Propinsi Sulawesi Tengah. Wilayah kecamatan ini merupakan dataran tinggi yang subur di sela-sela perbukitan yang berhutan lebat, dilalui sungai-sungai sepeni Sungai Karo, Mi u, Sore^Mewe, Adele; dar» sebuah danau, yaitu Danau Lindu.

Daerah yang luasnya 22.320 kilometer persegi ini berpenduduk 22.298 jiwa pada tahun 1977. Orang Kulawi menggunakan bahasa Kulawi yang terbagi atas dua dialek. Asal-usul orang Kulawi, antara lain, dapat disimak dari legenda-legenda yang menyatakan oahwr mereka timbul secara gaib. Peninggalan seja­rah menunjukkan bahwa mereka telah melewati pe­riode sejarah yang sangat tua. Pada masa lalu Kulawi merupakan kerajaan, yang konon pertama kali dipim­pin oleh ratu bernama Sang kala.

Advertisement

Sisa-sisa budaya kerajaan tersebut masih tampak dalam sistem pelapisan sosialnya, yang terdiri atas li­ma lapisan. Pertama, lapisan madika meliputi para raja dan bangsawan. Kedua, tetua ngata terdiri atas para penasihat agama dan adat. Ketiga, ntina terdiri atas pegawai kerajaan atau golongan menengah. Keempat, ntodea terdiri atas para pekerja, petani, atau orang kebanyakan. Kelima, batua terdiri atas tawanan pe­rang, budak, dan mereka yang dianggap sebagai peng­khianat. Pada masa kini, golongan tadi sudah tidak ada lagi, terutama golongan batua. Hal ini adalah ka­rena pengaruh agama Kristen dan perubahan masya­rakat itu sendiri. Namun turunan golongan madika masih terasa berpengaruh, terutama dalam meng­hadapi upacara kematian anggota golongan tersebut.

Mata pencaharian orang Kulawi pada masa kini pada umumnya bercocok tanam di ladang dan di sawah dengan tanaman pokok padi, jagung, dan pala­wija. Jenis mata pencaharian sambilan adalah beter­nak kerbau, babi, dan ikan tambak. Pada periode ta­hun 1970-an mereka menanam cengkeh, kopi, dan kelapa secara besar-besaran. Hal ini mereka lakukan atas pengarahan dari pemerintah, sehingga hasil tana­man ini menjadi komoditi penting dari kecamatan Ku­lawi.

Dalam lapangan kekerabatan mereka menarik garis keturunan secara bilateral. Adat menetap sesudah nikahnya matrilokal, namun setelah mempunyai anak pertama, suatu keluarga pindah ke lingkungan kerabat suami (patrilokal). Namun sekarang sudah banyak yang memilih adat menetap neolokal.

Tata busana orang Kulawi yang dipakai dalam sua­tu upacara atau menari (rego) tampak khas. Kaum wa­nita memakai rok bawah bersusun tiga yang diberi hiasan guntingan kain beraneka-warna berbentuk bu­nga yang digantungkan pada tiap lipatan. Baju atas­nya dihiasi dengan manik-manik bermotif tertentu. Mereka juga menggunakan kalung emas yang disebut kamagi atau enu. Kaum pria memakai kemeja longgar dengan model sederhana, selempang, dan celana pen­dek yang menyempit di bagian bawah. Selain itu kaum pria memakai kain penutup kepala, ikat ping­gang dengan kelewang tergantung di sebelah kiri. Bentuk rok wanita dan celana pria tersebut berkaitan dengan pengaruh pakaian orang Portugis, yang konon pernah terdampar ke daerah ini empat abad lalu.

Pada masa kini orang Kulawi umumnya memeluk agama Kristen, namun unsur kepercayaan lama masih bertahan. Dalam kepercayaan lama orang Kulawi ada roh baik (karampua) dan roh jahat (topeule). Yang da­pat mendatangkan roh baik dan mengusir roh jahat lia­nglah orang tertentu, yaitu para dukun (Nyaman). Para syaman itu masih berperanan sampai sekarang, misalnya untuk menyembuhkan orang sakit yang ti­dak bisa disembuhkan oleh dokter. Cara penyembuh­an dilakukan antara lain dengan tarian tertentu (rego).

Advertisement