MENGENAL SEJARAH PSIKOLOGI SOSIAL

adsense-fallback

Dalam sejarahnya yang masih pendek, perkembangan psikologi sosial dapat diuraikan dalam beberapa tahap, yaitu masa dalam kandungan, masa bayi, masa kanak-kanak, masa dewasa, dan masa yang akan datang.

adsense-fallback

Selain itu, perkembangan jurnal-jurnal psikologi sosial juga dapat mencerminkan perkembangan psikologi sosial itu sendiri, khususnya di Amerika Serikat di mana jurnal-jurnal itu diterbitkan.

Masa Prakelahiran

Sebelum ilmu induknya, yaitu Psikologi, dikukuhkan sebagai ilmu yang berdiri sendiri dengan didirikannya Laboratorium Psikologi yang pertama di dunia di Leipzig oleh Wundt pada tahun 1879, bibit-bibit psikologi sosial sudah mulai tumbuh, yaitu ketika Lazarus & Steindhal pada tahun 1860 mempelajari bahasa, tradisi, dan institusi masyarakat untuk menemukan “jiwa umat manusia” ‘. (human’ mind) yang ‘berbeda.dari “jiwa individual” (Bonner, 1953).

Upaya Lazarus & Steindhal yang masih sangat dipengaruhi oleh ilmu antropologi tersebut, kemudian dikembangkan oleh W. Wundt sendiri yang pada tahun 1880 mulai mempelajari “Psikologi Rakyat” (Folk Psychology) dan menyejajarkannya dengan psikologi individual dalam eksperimen-eksperimennya. Eksperimeneksperimen Wundt dalam bidang psikologi rakyat itu, antara lain untuk menemukan “proses mental yang lebih tinggi” (higher mental process) dari kelompok atau rakyat, yang berbeda dari proses mental individual. Hal-hal yang diteliti antara lain adalah bahasa, tradisi, agama, seni, dan hukum. Sebagai seorang elementaris, yai£u yang mengajurkan penelitian psikologi dengan cara mempelajari bagian-bagian (elemen-elemen) dari jiwa, Wundt juga berusaha menguraikan “Psikologi Rakyat” itu ke dalam elemen-elemen. Dapat disimpulkan bahwa masyarakat, rakyat, kelompok atau kumpulan orang mempunyai “jiwa” yang berbeda dari “jiwa” perorangan. Pendapat ini kemudian mempengaruhi pandangan seorangsosiolog terkemuka E. Durkheim yang terkenal dengan teorinya tentang perilaku masyarakat (Bonner, 1953).

Masa Awal

Kelahiran psikologi sosial ditandai dengan terbitnya dua buah buku berjudul sama, yaitu “Psikologi Sosial” (Social Psychology) pada tahun 1908 yang ditulis oleh dua ilmuwan dari dua disiplin yang berbeda, yaitu W.McDougall (Psikologi) dan Ross (Sosiologi). McDougall menerangkan perilaku sosial dengan teori-teori instink (manusia berperilaku sosial karena nalurinya), sedangkan Ross menerangkannya dengan teori struktur sosial (manusia berperilaku sosial karena ada tata-aturan dalam masyarakat yang harus diikuti) (Lindgren, 1969; Shaver, 1977; Baron & Byrne, 1994). Jika diterapkan pada contoh pada awal bab ini, perilaku ibu Ririn yang melecehkan ha’sil utarigan anaknya itu, menurut Mc Dougall.disebabkan oleh naluri kemarahan atau naluri keibuan yang ada pada seorang ibu, sedangkan menurut Ross disebabkan karena adanya tatanan hubungan ibu-anak dalam masyarakat, sehingga si ibu mempunyai posisi yang lebih tinggi dari anak dart karenanya bisa melecehkan si anak.

Pada tahapberikutnya, F. Allportpada tahun 1924 mengeluarkan bukunya yang juga berjudul “Psikologi Sosial”. Buku “Psikologi Sosial” versi yang lebih modern ini sudah menggunakan pendekatan individual dalam menerangkan perilaku sosial. Ia mengatakan bahwa perilaku sosial bukan hanya disebabkan oleh naluri atau instink (yang bersifat biologik dan berlaku sama untuk setiap orang) dan juga tidak sematamata dipengaruhi oleh struktur sosial. Dikatakannya bahwa perilaku sosial terjadi pada individu karena berbagai faktor yang majemuk yang secara bersama-sama mempengaruhi individu tersebut. (Lindgren, 1969; Baron & Byrne, 1994). Kembali pada kasus di atas, ibu Ririn berperilaku seperti itu merupakan akibat dari berbagai faktor: naluri, tatanan sosial, pengalaman masa lalu, kelelahan si ibu, cara Ririn memamerkan nilai ulangannya, keadaan hubungan ibu-anak, dan sebagainya. Dengan demikian, dalam keadaan lain, atau di hari yang berbeda, ibu Ririn mungkin saja bereaksi lain jika Ririn memamerkan hasil ulangannya. Demikian pula ibu-ibu lain akan bereaksi berbeda-beda jika anak mereka memamerkan hasil ulangannya.

Perkembangan selanjutnya terjadi pada tahun 1935 ketika Sherif melakukan eksperimennya tentang pembentukan norma sosial dari pendapat individu-individu dan selanjutnya individu-individu itu berperilaku dengan berpatokan pada norma sosial itu (rincian dari eksperimen ini akan diuraikan lebih lanjut dalam bagian lain dari bab ini). Eksperimen itu menjelaskan bagaimana interaksi timbal-balik antara perilaku individual dan norma sosial yang merupakan dasar yang penting dari berbagai teori psikologi sosial di masa-masa yang akan datang (Baron & Byrrte, 1994).

Setelah eksperimen Sherif itu, Psikologi Sosial makin berkembang dengan penelitian-penelitian tentang kepemimpinan dan proses kelompok oleh Kurt Lewin pada tahun 1939 (Baron & Byrne, 1994).

Masa Perang Dunia I & II

Di masa-masa Perang Dunia Pertama dan berkuasanya Nazi di Jerman selama Perang Dunia Kedua, perhatian psikologi sosial berkembang ke arah studi-studi tentang otoritarianisme (kekuasaan) (Baron & Byrne, 1994) .

Setelah perang dunia selesai, perhatian psikologi beralih ke proses individual dan psikologi sosial mulai mempelajari proses interaksi sosial. Pengaruh psikologi Gestalt di Jerman yang terbawa ke Amerika Serikat dengan hijrahnya tokoh-tokoh aliran tersebut. (W. Kohler, K. Koffka dan M. Wertheimer) dan tokoh psikologi lapangan (K. Lewin) dari Jerman karena kejaran Nazi (Sarwono, 1991a), merangsang penelitian-penelitian tentang proses kesadaran (kognitif) dan pengaruhnya pada perilaku sosial individu. Oleh karena itu, di sekitar tahun 1957 lahirlah aliran psikologi kognitif yang tokohnya antara lain adalah Festinger. Aliran ini antara lain mengemukakan teori tentang “Disonansi Kognitif”, yaitu keadaan dalam kesadaran di mana ada dua elemen kesadaran yang tidak saling menunjang (keadaan disonan) sehingga manusia berperilaku tertentu untuk mengembalikan keseimbangan (konsonan) antara elemen-elemen kesadaran itu (Baron & Byrne 1994). Dalam kasus Ririn dan ibunya, teori Disonansi Kognitif akan menjelaskannya dengan menunjuk ke dua elemen kesadaran dalam alam kesadaran si ibu yang saling bertentangan, yaitu pengetahuan tentang nilainilai ulangan Ririn yang selama ini selalu jelek dan informasi yang diberikan pleh Ririn bahwa nilai ulangan matematikanya delapan. Pertentangan antara kedua elemen kesadaran ini dicoba Untuk dikembalikan ke keadaan yang seimbang (konsonan,tidak bertentangan) dengan menyatakan bahwa nilai delapan yang sekarang tidak benar dan yang benar adalah nilai-nilai yang jelek yang selama ini selalu disembunyikan oleh Ririn.

Masa Mutakhir

Proses pendewasaan psikologi sosial mencapai puncaknya antara tahun 1970 sampai tahun 1980 dengan berbagai penelitian mengenai atribusi, sikap (attitude),perbedaan jenis kelamin  diskriminasi, psikologi lingkungan, psikologi massa, dan sebagainya.

Tahap ini pun ditandai dengan berkembangnya penelitianpenelitian psikologi sosial terapan (Baron & Byrne, 1994) seperti psikologi kesehatan, psikologi hukum, psikologi lingkungan kerja, psikologi kepolisian, dan psikologi lingkungan.

Masa yang akan datang

Perkembangan psikologi sosial masih akan berlanjut di masamasa yang akan datang (pasca tahun 1990-an). Cirinya adalah penelitian kognisi dan penerapan psikologi sosial yang makin canggih, yang menggunakan perspektif kultural yang multidimensional (psikologi lintas budaya) dan kemajemukan sosial.

 

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback