Advertisement

Aceh Darussalam adalah kerajaan Islam Aceh yang dikembangkan oleh Sul­tan Ali Mugayat Syah. Menurut hikayat Aceh, pendiri Darussalam sebenarnya ada­lah Sultan Musaffar Syah, setelah menak­lukkan Inayat Syah, raja Darulkamal, dan menggabungkan kerajaannya, Makuta Alam, dengan kerajaan taklukannya terse­but. Musaffar Syah kalah perang dengan Sultan Ma’ruf Syah dari Pedir (1497). Pe­nguasa di kerajaan Musaffar Syah (Darus­salam) dipercayakan kepada raja Syamsu Syah dan putra Syamsu Syah ini adalah Ali Mugayat Syah yang berhasil melepas­kan Darussalam dari Pedir. Sultan Ali Mu­gayat Syah kemudian menaklukkan kera­jaan-kerajaan kecil di sekitar Darussalam, (yang agaknya semula bernama Lamuri), termasuk Daya, Pedir dan Pasai, dan seka­ligus membebaskan Aceh dari intervensi. Portugis. Di samping keberhasilannya itu, perdagangannya pun sangat maju. Ia wafat 1530 setelah 10 tahun meme­rintah (1507-1522), digantikan oleh pu­tranya, Salahuddin (1530-1537), yang pemerintahannya hanya diurus oleh Mang­kubuminya, Raja Bungsu. Hal ini menye­babkan adik Ali Mugayat Syah yang me­merintah Pasai, mengambil alih kekuasaan di kerajaan Darussalam dengan gelar Sul­tan Ala’uddin Ri’ayat Syah al-Kahhar (1537-1571). Wilayah kekuasaan Aceh di­perluas sampai ke Selebar (Bengkulu) di pantai Barat, seluruh pantai Sumatra Ti­mur, dan di pedalaman, tanah Batak mengakui Aceh sebagai pelindungnya. Aru (Deli) diperangi 1539 dan 1564, lalu dija­dikan kesultanan di samping Pariaman dan Inderapura. Hubungan niaga maju sekali, terutama dengan Gujarat, Arab dan Turki.

Dengan Portugis, terjadi persaingan yang tajam. Tercatat 3 kali terjadi pertempur­an, yaitu 1537, 1547 dan 1568. Meskipun Aceh tidak berhasil mengusir Portugis dari Malaka, tetapi dapat mempertahankan ke­utuhan wilayahnya yang luas.

Advertisement

Al-Kahhar digantikan oleh putranya, Sultan Husin, dengan gelar Sultan Ali Ri’ ayat Syah (1571-1579). Perang dengan Portugis terjadi 1573 dan 1575 dengan ha­sil seperti sebelumnya, tetapi Perak yang bekerja sama dengan Portugis dapat ditak­lukkan. Putra raja Perak, Ala’uddin, dika­winkan dengan putri al-Kahhar, dan raja­nya, Sultan Mansur Syah, dikembalikan kepada kedudukan semula. Hubungan da­gang dan persahabatan diperluas dengan kerajaan Mugal. Sayangnya, Sultan Muda yang menjadi penggantinya baru berusia 4 bulan, dan 7 bulan kemudian mangkat pula. Sultan Sri Alam, keturunan Ali Mu­gayat Syah yang menjadi raja Pariaman, mengambil alih kekuasaan, tetapi karena kekejamannya, ia terbunuh 1576. Sultan Zainal Abidin yang merebut kekuasaan, membasmi semua pendukung Sri Alam; tetapi ia terbunuli pula di 1579. Ala’ud­din, asal Perak, menggantikannya dengan gelar Sultan Ala’uddin Mansur Syah (1579- 1586). Pemerintahannya cukup baik, na­mun sayang, sewaktu akan menaklukkan Johor, ia terbunuh di Aru (Deli) yang diam-diam bersahabat dengan Johor. Sul­tan Buyung, keturunan Ali Mugayat Syah yang menjadi raja Inderapura, menjadi ra­ja Aceh dengan gelar Sultan Ali Ri’ayat Syah (1586-1588). Karena kegemarannya hidup bermewah-mewah yang mengaki­batkan perbuatan-perbuatan yang melang­gar agama, ia terbunuh, dan digantikan olek Saidi al-Mukammal (bangsawan tua keturunan Musaffar Syah) dengan gelar Sultan Ala’uddin Ri’ayat Syah (1588- 1604). Perdagangan makin diperluas de­ngan datangnya kapal-kapal kompeni Be­landa dan Inggris. Dengan kedua negara ini, terjadi tukar-menukar duta untuk ter­ciptanya hubungan dagang. Sultan yang wafat 1607 ini, digeser oleh putranya, Sul­tan Muda dengan gelar Sultan Ali Ri’ayat Syah (1604-1607). Karena tidak pandai memerintah, Ali Ri’ayat Syah digantikan oleh kemenakannya, Sultan Iskandar Mu­da (lihat Iskandar Muda, Sultan) yang me­merintah antara 1607-1636. Pada masa pemerintahannya dan juga penggantinya (Iskandar Sani, asli Pahang dan menantu Iskandar Muda) yang bergelar Sultan Ala’ uddin Mugayat Syah (1636-1641), Aceh mencapai puncak kejayaannya. Perluasan wilayah, perdagangan dan hubungan inter­nasional maju pesat. Islam semakin ber­kembang, terutama dengan munculnya tokoh-tokoh ulama, seperti Syamsuddin Pasai (Sumatrani) dari ulama-ulama tasa­wuf, Abdurrauf dari Singkel dan Nurud­din ar-Raniri dari ulama fikih. Setelah itu, Aceh diperintah oleh raja-raja wanita dan merupakan titik awal kemunduran Aceh yang di samping kemelut dalam negeri, ju­ga karena intervensi asing, terutama Belan­da dan Inggris, dan ini berlangsung sampai awal abad ke-20 ketika rajanya yang ter­akhir, Sultan Ala’uddin Muhammad Daud Syah, menyerah kepada Belanda 1903 dan sekaligus merupakan pertanda berakhir­nya Perang Aceh, dan juga berakhirnya kerajaan Aceh Darussalam.

Raja-raja wanita tersebut adalah janda Iskandar Sani yang bergelar Sri Sultan Ta­jus Safiatuddin Syah (1641-1675), Sulta­nah Nurul Alam Nakiatuddin Syah (1675- 1678), dan sejak ini pemerintahan sehari­hari dijalankan oleh tiga Panglima Sagi, Sultanah Inayat Zakiatuddin Syah (1678- 1688), dan Sultanah Kamalat Syah (1688- 1699). Setelah ini, Kadi Malikul Adil men­dapat fatwa dari Mekah bahwa wanita ti­dak dapat menjadi raja. Naiklah raja-raja keturunan Arab, yaitu Sultan Badrul Alam Syarif Hasyim Jamaluddin (1699- 1702), Syarif Ibrahim dengan gelar Sultan Perkasa Alam Syarif Lamtui (1702-1703), Sultan Jarnalul Alam (1703-1726), Sultan Jauharul Alam Ama’uddin Syah (22 hari), Sultan Syamsul Alam Wandi Teubeng (be­berapa minggu), Maharaja Lela yang ber­gelar Sultan Ala’uddin Ahmad Syah (1727- 1735) dan sejak raja ini, bermula keturun­an Bugis, Pocut Ue (Pucuk Awak) dengan gelar Ala’uddin Johan Syah (1735-1760), Tuanku Raja dengan gelar Sultan Mahmud Syah (1760-1781), Sultan Ala’uddin Mu­hammad Johan Syah (1781-1795), Tuan­ ku Husin dengan gelar Sultan Ala’uddin Jauharul Alam Syah (1795-1815 dan 1819-1823) yang pernah kena kudeta oleh Sultan Saiful Alam Syah, Tuanku Daud dengan gelar Ala’uddin Muhammad Syah (1823-1838), Tuanku Sulaiman dengan gelar Sultan Ali Iskandar Syah (1838- 1851/52), Tuanku Ibrahim dengan gelar Sultan Ala’uddin Mansur Syah (1851/52- 1870), Sultan Mahmud Syah (1870-1874), dan Sultan Daud Ala’uddin Syah (1874- 1903).

Advertisement