Advertisement

Sayid Ahmad Khan, dilahirkan di Delhi, India, pada 1817. Berdasarkan sua­tu keterangan, ia mempunyai pertalian da­rah dengan Husein, cucu Nabi Muhammad. Mulanya memperoleh pendidikan tradisio­nal dalam bidang pengetahuan agama, be­lajar bahasa Arab, dan belajar bahasa Per­si. Meskipun memperoleh pendidikan tra­disional dalam bidang keagamaan, namun ia tidak berpandangan sempit. Hal ini dise­babkan oleh minat dan semangat bacanya yang tinggi untuk berbagai bidang penge­tahuan. Pada jenjang kepemudaannya, ia sempat bekerja pada Serikat India Timur, dan karena kemampuan yang ditunjuk­kannya, ia pernah pula menjadi hakim. Namun, rupanya semangat belajamya te­rus membayanginya. Tahun 1846 ketika berusia sekitar 29 tahun, ia kembali ke Delhi untuk melanjutkan studinya.

Sekitar 1857, terjadi pemberontakan di India untuk melawan Inggris. Dalam peris­tiwa ini, Ahmad Khan memainkan peran­an penting dalam upaya menjembatani ke­senjangan kepentingan politik antara pi­ hak India, khususnya umat Islam, dengan pihak Inggris. Peranan seperti ini dilaku­kannya atas dasar suatu kesadaran pc;litik, bahwa India tidak akan mampu berhadap­an dengan kekuatan Inggris. Karenanya, India harus memperlakukan Inggris seba­gai mitra dalam upaya menjalin kerjasama untuk tujuan-tujuan yang lebih luas demi kepentingan India sendiri. Rupanya, tero­bosan politik yang diperankan Ahmad Khan mendapat tantangan dari kalangan­nya sendiri. Tetapi, sebaliknya, ia berhasil mengubah pandangan Inggris terhadap umat Islam. Dan, reputasi Ahmad Khan di mata Inggris cukup baik. Oleh karenanya, ia memperoleh penghargaan, gelar Sir, dari pemerintah Inggris. Bahkan, lebih dari itu, ia hendak diberikan hadiah atas jasa-jasa­nya, namun ditolaknya.

Advertisement

Sejak .semula, hubungan baik yang dija­linnya dengan pemerintah Inggris, semata­mata untuk kepentingan perjuangan sosial politik umat Islam. Bila situasi ini telah tercapai, ia lebih leluasa dalam usaha me­numbuhkan kesadaran baru keagamaan di kalangan umat Islam. Karenanya, kesem­patan ini dipergunakannya untuk mengun­jungi Inggris guna mempelajari sistem ke­budayaan Barat, khususnya sistem pendi­dikannya. Akhirnya, ia sampai pada ke­simpulan, bahwa Barat mencapai kemaju­an dalam bidang sains dan teknologi mo­dem, terutama, karena mereka sangat menjunjung tinggi rasionalitas. Menurut­nya, sikap seperti ini pun pernah berkem­bang dalam dunia Islam pada masa klasik. Karenanya, umat Islam ketika itu berhasil menunjukkan kemajuan besar kepada du­nia. Atas dasar ini, tidak ada cara lain bagi Ahmad Khan selain harus menumbuhkan kembali sikap dan semangat rasionalitas umat Islam.

Pengalaman yang diperolehnya selama di Inggris, 1869-1870, sangat kuat mem­bakar semangatnya untuk segera memben­tuk lembaga pendidikan modern bagi umat Islam. Sekembalinya dari sana, ia langsung membentuk Panitia Peningkatan Pendidikan Umat Islam. Pada 1878 ia mendirikan sekolah Muhammedan Anglo Oriental College (MAOC) di Aligarh. MAOC diberikan sesuai dengan model sekolah di Inggris. Bahkan, bahasa pengan­tar, direktur, dan sebagian besar staf peng­ajarnya adalah kebangsaan Inggris. Satu hal yang membedakannya dari sekolah yang diasuh pemerintah Inggris adalah di­ajarkannya pengetahuan agama di sekolah itu. Sungguhpun demikian, sekolah ini bu­kan hanya terbuka untuk orang Islam, me­lainkan juga untuk kalangan non-Islam.

Ahmad Khan sangat yakin bahwa pen­didikan merupakan lembaga yang paling strategis dalam proses penyadaran umat Islam, baik dalam kesadaran baru keaga­maan maupun dalam kesadaran mengejar ketertinggalannya dari bangsa Barat, ter­utama dalam bidang sains dan teknologi modern. Oleh karena itu, ia membentuk Panitia Dana Pembentukan Perguruan Tinggi Islam, sebagai kelanjutan dari MAOC. Bahkan, pada 1886 ia membentuk Muhammedan Educational Conference (MEC) dalam upaya mewujudkan sistem pendidikan nasional untuk umat Islam In­dia. Program lembaga ini mencakup usaha menyebarluaskan sistem pendidikan Barat di kalangan umat Islam. Juga lembaga ini bertujuan mengamati pendidikan agama yang diajarkan di sekolah-sekolah Inggris yang didirikan oleh golongan Islam, serta menunjang pendidikan agama yang diajar­kan di sekolah-sekolah swasta.

Selain melalui lembaga pendidikan, ide­ide pembaharuan Ahmad Khan disebar­luarkan melalui tulisan-tulisannya, baik berupa buku maupun artikel-artikel yang dimuat di majalah Tahzib al-Akhlaq. Pikir­an-pikiran Ahmad Khan terkenal sangat rasional, baik dalam masalah-masalah teo­logi maupun hukum Islam. Untuk masalah teologi, misalnya, selain manusia mempu­nyai kehendak bebas, juga menurutnya manusia tunduk kepada hukum alam. Ka­rena kuatnya kepercayaan Ahmad Khan kepada konsep hukum alam, ia dituduh kafir oleh kalangan Islam tradisional. Me­nurut mereka, pendapat rasional Ahmad Khan bertentangan dengan takdir Tuhan. Apalagi bila dikaitkan dengan pendapatnya mengenai fungsi doa: baginya doa tidak le­bih dari gejala psikologis guna menente­ramkan jiwa seseorang. Dengan kata lain, doa dipahaminya melalui konteks konsep hukum alam.

Sedangkan dalam bidang hukum, ia me­nolak hukum potong tangan. Begitupun, ia menolak sistem perkawinan poligami. Baginya, baik hukum potong tangan mau­pun poligami hanya mungkin dilakukan dalam keadaan-keadaan tertentu. Ahmad Khan, yang terkenal sangat rasional ini, wafat pada 1898.

Advertisement