Advertisement

Salahuddin ai-Ayyubi, pendiri dinasti Ayyubi di Mesir dan Siria yang bertahan mulai dari 1.171 (567 H) sampai dengan 1250 (648 H). Salahuddin lahir pada 1138 (532 H), anak seorang Kurdi bernama Naj­muddin Ayyub yang menjadi anak buah penguasa Aleppo Nuruddin Zengi. Semen­jak usia muda Salahuddin telah menjadi anggota tentara Nuruddin, kendatipun masa kanak-kanaknya banyak dilewatkan­nya di madrasah.

Nama Salahuddin melejit dengan keber­hasilan misi pamannya, Syirkuh, mengusir raja Almaric beserta pasukan salibnya dari Mesir pada 1168 (564 H). Kedatangan Syirkuh sebagai panglima pasukan Nurud­din ke Kairo adalah atas undangan tokoh­tokoh khalifah Fatimiyah guna mengusir Almaric yang menduduki Kairo. Kematian Syirkuh pada awal 1169 (565 H) telah membuka kesempatan bagi Salahuddin untuk mengambil alih pimpinan pasukan menggantikan pamannya yang juga berpe­ran sebagai wazir bagi khalifah Fatimiyah al-Adil li Dinilah yang masih di bawah umur. Mulai saat itu Salahuddin adalah de facto penguasa di Mesir. Namun ia tak me­ngusik simbol-simbol Syi`ah Ismailiyah, misalnya ia tetap menambahkan kalimat bayya `ala khai• al- amal dalam azan, mem­pertahankan hakim-hakim Ismaili dan me­nyebut nama khalifah Fatimi dalam khut­bah Jumat. Hanya setelah al-Adil mening­gal pada 1171 (567 H) Salahuddin meng­hapuskan kebijaksanaan tersebut dan me­nyatakanloyalitasnya kepada khalifah Ab­basi (al-Mustadi ) di Bagdad yang secara formal menandai berakhirnya rezim Fa­timi di Kairo.

Advertisement

Keberhasilan Salahuddin di Mesir men­dorongnya untuk menjadi penguasa oto­nom. Dalam mengkonsolidasikan kekuat­annya Salahuddin banyak memanfaatkan tenaga anggota-anggota familinya. Ia me­ngizimkan saudaranya, Turansyah, untuk menguasai Yaman pada 1173 (569 H); ke­menakannya, Taqiyuddin, untuk melawan tentara salib yang menduduki Dimyat; clan pamannya, Syihabuddin, untuk me­nundukkan Mesir Hulu (Nubia). Kematian Nuruddin pada 1174 (570 H) yang tanpa meninggalkan pengganti pasti telah me­nimbulkan perselisihan di antara para pim­pinan pasukan sehingga memberikan alas-an kuat, dan melicinkan jalan, bagi Sala­huddin untuk menguasai Siria termasuk Damaskus, Aleppo dan Mosul. Karenanya tak mengherankan jika pada 1175 (571 H) khalifah Abbasi mengakuinya sebagai sul­tan atas Mesir, Yaman dan Siria. Sebagai penguasa muslim yang dihadapkan lang­sung kepada ancaman pasukan salib. Sala­huddin berusaha ,memenangkan simpati para penguasa muslim di kawasan lain, dan khususnya membina kekuatan militer dan topangan ekonomi di wilayahnya. Hal ini terbukti dengan dibangunnya kembali tembok kota Kairo, berikut bentengnya yang terkenal di bukit Muqattam, dan di­perkuatnya pasukannya dengan orang­orang Barbar, Turki dan Afrika; juga, di­galakkannya perdagangan dengan kota­kota di Laut Tengah dan Lautan Hindia serta disempurnakannya sistem perpajak an.

Setelah kokoh kekuasaannya, Salahud­din melancarkan gerakan ofensif guna mengambil alih al-Quds (Jerusalem) dari tangan tentara salib. Tanpa banyak kesu­litan Salahuddin menghancurkan pasukan salib di bawah Guy de Lusignan di Hittin dan langsung menguasai Jerusalem pada 1187 (583 H). Walaupun dalam situasi perang Salahuddin tak mengusik pendu­duk sipil non muslim di kota suci terse-but. Kekalahan besar yang diderita tentara salib ini berpengaruh besar untuk selanjut­nya dalam melemahkan entitas politik tentara salib (Latin) di pantai timur Laut Tengah (Levant), dan memojokkannya ke kantong-kantong tepian pantai raja. Bah­kan usaha besar-besaran yang dilancarkan pasukan-pasukan salib dari Inggris, Prancis dan Jerman antara 1189-1192 (585­588 H) pun tak berhasil mengubah kedu­dukan Salahuddin, meskipun raja Inggris Richard berhasil membikin perjanjian gen­catan senjata dengan Salahuddin yang di­manfaatkannya untuk menguasai kota Acre

Sampai meninggalnya pada 1193 (589 H) Salahuddin mewariskan satu pemerin­tahan yang stabil dan kokoh bagi anak­anak dan saudara-saudaranya yang bertin­dak sebagai amir di berbagai kota. Di an­tara mereka saudaranya, al-Malik al- Adil (w. 1218/615 H) dan kemenakannya, al­Kamil (w. 1238/636 H) lah yang paling menonjol sehingga mampu menyatukan para penguasa Ayyubi lokal dengan me­musatkan kekuatan mereka pada Mesir. Namun setelah 1238 (636 H) Bani Ayyub menjadi lemah karena perebutan kekuasa­an di antara mereka sendiri, sehingga pada 1250 (648 H) kekuasaan pun berpindah kepada kelompok tentara budak (Mamluk) yang mengangkat Syajarat ad-Durr, bekas “istri” penguasa Ayyubi terakhir di Kairo, as-Sahli (w. 1249/647 H), sebagai sultanah. Walaupun Bani Ayyub tetap memegang kekuasaan di Siria, kecemerlangan pasu­kan Mamluk di bawah Qutuz menghadang invasi tentara Mongol dalam suatu pertem­puran besar di Ain Jalut, Siria pada 1260 (658 H), telah otomatis mengakhiri ke­kuasaan dinasti Ayyubi secara keseluruh­an.

 

 

Advertisement