Advertisement

MENGENAL RAMBU-RAMBU DALAM BERBICARA – Suksesnya suatu perbincangan benar-benar bergantung pada pembicara serta pendengar. Karenanya dituntut syarat-syarat pada seseorang pembicara serta pendengar. Dibawah ini yaitu beberapa hal yang perlu di perhatikan oleh seseorang pembicara.

a. Menguasai persoalan yang dibicarakan. Penguasaan persoalan ini bakal menumbuhkan kepercayaan pada diri pembicara, hingga bakal tumbuh keberanian. Keberanian ini adalah modal pokok untuk pembicara. Hal semacam ini bisa dicapai dengan giat menghimpun bahan dengan pelajari berbagai sumber seperti telah diterangkan pada mulanya.

Advertisement

b. Mulai bicara bila kondisi telah mengizinkan. Sebelum saat mengawali perbincangan, sebaiknya pembicara mencermati kondisi semuanya, terlebih pendengar. Bila pendengar telah siap, barulah mulai bicara. Hal semacam ini sebenarnya juga di pengaruhi oleh sikap atau tampilan pembicara. Sikap pem-bicara yang tenang, tak gugup, lumrah, dan tampilan yang rapi, bakal banyak menolong.

c. Pengarahan yang pas akan memancing perhatian pendengar. Setelah berikan kata salam dalam buka perbincangan, seseorang pembicara yang baik bakal menginformasikan maksud ia bicara serta menuturkan pen¬tingnya pokok perbincangan itu untuk pendengar. Dalam hal semacam ini meskipun tema perbincangan kurang menarik, namun lantaran pendengar tahu faedahnya untuk mereka, maka pendengar juga bakal bersedia dengarkan.

d. Berbicara mesti terang serta tak terlampau cepat. Bunyi-bunyi bhs mesti disampaikan dengan cara pas serta terang. Kalimat mesti efisien serta pilihan kata juga mesti pas. Jangan sampai bicara terlampau cepat serta beberapa hal yang utama di beri desakan hingga pendengar dengan gampang bisa menangkapnya.

e. Pandangan mata serta gerak-gerik yang menolong. Sebaiknya berlangsung kontak batin pada pembicara dengan pendengar. Pendengar terasa di ajak bicara serta terasa di perhatikan. Pandangan mata dalam hal semacam ini benar-benar menolong. Pandangan mata yang menyeluruh bakal mengakibatkan pendengar terasa di perhatikan. Sekian juga dengan gerak-gerik atau mimik yang sesuai sama adalah daya pikat sendiri.

f. Pembicara sopan, hormat, serta melihatkan rasa persaudaraan. Pembicara yang congkak serta melihat rendah pendengar dengan sikap serta kalimat kasar, bakal menyingkirkan rasa simpati pendengar. Siapa juga pendengarnya serta bagaimana juga tingkat pendidikannya, pembicara mesti menghargainya. Jauhkan karakter emosional. Pembicara tak bisa gampang terangsang emosinya hingga gampang terpancing amarahnya.

g. Dalam komunikasi dua arah, awalilah bicara bila telah dipersilakan. Kalau kita mau menyampaikan respon, berbicaralah bila telah di beri peluang. Janganlah memotong perbincangan orang lain serta janganlah berebut bicara. Janganlah juga bicara berbelit-belit, namun segera pada tujuan.

h. Kenyaringan nada. Nada sebaiknya bisa didengar oleh seluruhnya pendengar dalam ruangan itu. Volume nada janganlah terlampau lemah serta janganlah juga terlampau keras, terlebih berteriak.

i. Pendengar bakal lebih berkesan bila ia bisa melihat pembicara seutuhnya. Upayakanlah berdiri atau duduk pada posisi yang bisa dipandang oleh semua pendengar. Begitupun sebaliknya.

Advertisement