Advertisement

Prawoto Mangkusasmito adalah se­orang tokoh politik Islam nasional. Ia la­hir di Tirto Grabag, Magelang, Jawa Te­ngah, pada 4 Januari 1910 (1328 H), seba­gai putra sulung dari Bapak Mangkusasmi­to.

Sejak usia muda, ketika belajar di AMS­B Yogyakarta, Prawoto sudah aktif dalam dunia pergerakan. Dimulai dari sebagai anggota Jong Java, yang kemudian menja­di Indonesia Muda, dan anggota Jong Is­lamieten Bond (JIB). Setamat dari AMS­B, ia menjadi guru pada sekolah MULO Kebumen (1932-1935/1351-1354 H). Beberapa tahun kemudian ia pindah ke Ja­karta untuk melanjutkan pendidikannya di RHS (Rechts Hoge School), yang hanya diselesaikan sampai tingkat IV, sambil mengajar pada sekolah Muhammadiyah. Ketika di RHS, ia aktif di Studenten Islam Studie Club (SIS), dan menjadi ketuanya yang terakhir. Selain itu ia menjadi redak­tur majalah Moslemsche Reveille (milik SIS). Selanjutnya ia menjadi anggota Peng­urus Besar Partai Islarri Indonesia (PII), yang pada waktu itu dipimpin oleh Dr. Sukiman Wiryosanjoyo.

Advertisement

Pada masa ‘pendudukan Jepang, Prawo­to bekerja sebagai pegawai kantor Kadas­ter di Jakarta. Pada masa kemerdekaan, ia menduduki berbagai jabatan penting, antara lain: anggota BK-KNIP (1946— 1949/1365-1368 H), ketua BK KNIP (1949-1950/1368-1369 H), anggota Ko­misaris Pemerintah Pusat (PDRI) di Jawa, penasihat Delegasi Indonesia yang perta­ma di PBB (1950/1369 H), anggota DPRS RI sebagai ketua Fraksi Masyumi, memim­pin Delegasi Parlementer ke Pakistan (1952/1371 H), wakil Perdana Menteri pa­da Kabinet Wilopo (1952-1953/1371— 1372 H), wakil ketua Panitia Pemilu per­tama (1955/1374 H), wakil ketua I Kon­stituante (1955-1959/1374-1378 H), dan anggota Komisaris GIA (1956-1960/ 1375-1379 H).

Selain dalam dunia politik, Prawoto ak­tif juga dalam dunia pendidikan, antara lain sebagai sekretaris II Pengurus Univer­sitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Dewan Kurator Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN), dan mendirikan be­berapa yayasan pendidikan dan pengeta­huan Islam.

Prawoto termasuk tokoh politik. dan pergerakan yang berhaluan “keras”, se­hingga kerap kali ia menjadi tahanan poli­tik. Hidupnya tidak dapat dipisahkan dari

Partai Masyumi, karena ia termasuk orang pertama dalam partai tersebut. Karirnya dalam•Partai Masyumi dimulai dari sebagai Sekretaris Umum (hasil Muktamar VII di Surabaya, pada 1954/1373 H), Wakil Ke­tua I (hasil Muktamar VIII di Bandung pa­da 1956/1375 H), dan Ketua Umum Pim­pinan Masyumi Pusat (Hasil Muktamar IX di Yogyakarta, pada 1959/1378 H), sam­pai partai ini dibubarkan pada 17 Agustus 1960 (1379 H).

Sebagai Ketua Umum Pimpinan Masyu­mi Pusat, Prawoto berusaha keras mereha­bilitasi partai itu dengan berbagai cara. Namun, sebelum usahanya berhasil, pada 24 Juli 1970 (1389 H) ia meninggal dunia, dan jenazahnya dimanamkan di Keba­yoran Baru, Jakarta Selatan. Almarhum meninggalkan seorang istri bernama Ra­bingah, yang dinikahinya pada 20 Okto­ber 1932 (1351 H), dan empat orang pu­tra-putri, yaitu Sri Syamsiar, Arief Budi­man, Nuruddin Ahmad dan Ahmad Basu­ki.

Rupanya karena kesibukannya dalam dunia pergerakan dan politik, Prawoto ti­dak sempat merumuskan gagasan-gagasan pentingnya dalam bentuk tulisan. Satu­satunya karya Prawoto yang sempat diter­bitkan oleh Penerbit Hudaya Jakarta pada 1970 (1389 H) adalah Pertumbuhan His­toris Rumus Dasar Negara dan Sebuah Proyeksi.

Advertisement
Filed under : Review,