Advertisement

Pondok Pesantren Tebuireng merupakan salah satu pesantren tertua dan terbesar di Jawa Timur. Komplek pe­santren Tebuireng terletak di desa Cukir kecamatan Diwek, kurang lebih sekitar 8 kilometer sebelah tenggara kota Jom­bang. Pesantren ini memiliki tanah seluas 16 hektar yang terdiri dari tiga blok yang terpisah. Komplek pesantren yang terdiri dari tempat belajar dan asrama para santri berada di sebuah blok seluas kurang lebih dua hektar, blok kedua dipakai sebagai la­pangan olahraga dan blok ketiga berupa persawahan.

Pesantren Tebuireng didirikan oleh Kiai Haji Hasyim Asy`ari yang digelari Hadratus Syekh pada 1899 (26 Rabiulawal 1317 H). Sejak berdirinya pesantren ini dipimpin oleh Kiai Haji Hasyim Asy’ari sampai wa­fatnya. Setelah K.H. Hasyim Asy’ari wafat kepemimpinan beralih secara berturut­turut, kepada ketiga anaknya, yaitu Kiai Haji Wahid Hasyirn (1947-1953). Kiai Haji Abdul Khaliq Hasyim (1953-1965) dan Kiai Haji Yusuf Hasyim (dari 1965 sampai sekarang).

Advertisement

Di bawah asuhan Kiai Hasyim, pesan­tren mengalami kemajuan yang pesat; san­tri yang pada mulanya hanya berjumlah 28 siswa dalam waktu yang singkat telah menjadi 200 orang. Sedangkan metode pengajarannya pada waktu itu sama de­ngan metode pengajaran di pesantren tra­disional lain, yaitu metode bandongan dan sorogan. Pada 1919 mulai dikenalkan sis­tem klasikal sebagaimana yang dipakai dalam sekolah umum. Ketika Kiai Haji Muhamad Ilyas dan Kiai Hasyim masuk dalam jajaran pimpinan pesantren Tebu­ireng, mulailah beberapa pembaharuan da­lam sistem pendidikannya diperkenalkan. Langkah pertarna adalah dimasukkannya majalah dan surat kabar sebagai bacaan para santri untuk menambah pengetahuan para santri. Langkah kedua dalam rangka pembaharuan ini adalah memasukkan pe­ngetahuan umum ke dalam kurikulum madrasah yang sebelumnya tidak dikenal. Pengetahuan umum yang diajarkan antara lain adalah membaca dan menulis huruf Latin, bahasa Melayu, berhitung, ilmu bu­mi, sejarah yang kesemuanya diajarkan memakai huruf Latin. Langkah yang ke­tiga adalah mengintensifkan bahasa Arab secara aktif agar para santri dapat dengan mudah memahami literatur pelajaran. Ide Kiai Ilyas ini mendapat dukungan kuat dari K.H. Abdul Wahid Hasyim yang me­mang menginginkan adanya pembaharuan dalam sistem pendidikan di Tebuireng. Pada 1926 di Tebuireng mulai diajarkan Ba­hasa Belanda, dan pada 1934 K.H. ‘Abdul Wahid Hasyim mendirkan madrasah Nid­zamiyah, yang kurikulumnya 70% meru­pakan pengetahuan umum sedang sisanya, 30%, merupakan pengetahuan agama. Da­ri pembaharuan ini, Tebuireng ketika itu banyak menghasilkan santri-santri yang tidak hanya mengenal pengetahuan aga­ma tetapi juga mendalam pengetahuan umumnya.

Pada 1953 K.H. Abdul Wahid Hasyim meninggal dunia, maka kepemimpinan pe­santren Tebuireng dipegang oleh K.H. Abdul Khaliq Hasyim sampai ia meninggal (1965), dan kemudian digantikan oleh K.H. Yusuf Hasyim. Dia adalah seorang politisi, menjabat sebagai salah seorang ketua NU, dan pernah menjadi anggota DPR RI. Di bawah pimpinannya terjadi perubahan-perubahan baru di pesantren Tebuireng. Pertama, ia mendirikan Uni­versitas Hasyim Asy`ari pada 1967 yang terbuka bagi mahasiswa dan mahasiswi. Sampai 1985 universitas ini memiliki tiga fakultas, yaitu Fakultas Dakwah, Syariah dan Tarbiyah, dengan jumlah mahasiswa­nya sebanyak 750 orang. Kedua, ia men­dirikan Madrasah Huffadz pada 1971, yang mendidik siswanya untuk menghafal al­Quran 30 juz, dan juga 7 macam qiraat (Qiritat Sab`ah ). Jumlah siswa di Madra­sah ini mencapai 235 orang pada 1985. Kemudian pada 1975 dibuka SMP dan SMA untuk putra dan putri, dengan jum­lah murid sebanyak 1392 orang.

Sejak berdirinya Pesantren Tebuireng mempunyai pengaruh yang besar pada berbagai aspek kehidupan masyarakat. Pesantren ini mempunyai peranan yang besar dalam mengembangkan tradisi pe­santren dan menjadi sumber pencetak kiai paling penting untuk kepemimpinan di se­luruh Jawa dan Madura sejak 1910. Para pemimpin pesantren di Jawa dan Madura pada umumnya pernah memperoleh pen­didikannya di Tebuireng. Selain daripada itu Tebuireng juga mempunyai peran yang besar dalam kehidupan politik di Indo­nesia. Di sinilah muncul gagasan untuk mendirikan organisasi NU yang mulanya hanya bersifat keagamaan, namun kemu­ dian berubah menjadi organisasi politik yang cukup berperan dalam percaturan politik di Indonesia. Selain daripada itu pimpinan tertinggi Tebuireng pernah men­jadi bagian dari kehidupan politik nasio­nal, baik dalam organisasi politik, kabi­net maupun parlemen. K.H. Hasyim Asy`ari, pendiri Tebuireng, adalah pen­diri NU dan menjadi ketuanya (1926­1947), Ketua MIAI (1937-1942), dan pimpinan Masyumi (1943-1947). K.H. Abdul Wahid Hasyim merupakan se­orang tokoh nasional yang turut me nyusun naskah Pembukaan UUD 1945 dan pernah menjabat sebagai Menteri Agama RI. K.H. Yusuf Hasyim, direk­tur pesantren yang sekarang, adalah sa­lah seorang ketua Pengurus Besar NU dan pernah menjadi anggota DPR RI periode 1971-1978.

Advertisement