Advertisement

Perang Aceh (Perang Kompeni), ada­lah perang antara Belanda yang bernafsu untuk menjajah melawan rakyat dan kera­jaan Aceh yang berusaha mempertahan­kan integritasnya sebagai penduduk di ne­geri sendiri yang merdeka dan berdaulat.

Dengan ditandatanganinya Traktat Su­matra (1 November 1871), Belanda terle­pas dari kewajiban menghormati kedaulat­an Aceh. Aceh yang merasa lemah dan merasa terancam oleh Belanda, berusaha mencari bantuan kepada Amerika dan Ita­lia melalui konsulnya di Singapura, juga kepada Turki dan negara-negara Islam lain serta berusaha mempengaruhi negara-nega­ra Eropa agar Belanda mengurungkan niat­nya untuk menguasai Aceh. Hal ini justru mendorong Gubernur Jenderal Louden untuk mengirimkan angkatan lautnya ke Aceh. Dikirimnya F.N. Niewenhuys untuk meminta pengakuan Sultan Aceh atas ke­daulatan Belanda di negerinya. Karena ja­waban Sultan tidak memuaskan Belanda, 26 Maret 1873 Belanda mengumumkan perang terhadap Aceh dengan tuduhan bahwa Aceh melanggar perjanjian niaga, perdamaian dan persahabatan yang dibuat 30 Maret 1857. Pada 1 April 1873 pecah­lah Perang Aceh secara resmi.

Advertisement

Meskipun tidak sekuat dulu, laskar Aceli yang dipimpin oleh Teuku Luengba­ta tidak gentar menghadapi pasukan Be­landa di bawah komando Jenderal Mayor Kohler dengan kekuatan 168 perwira dan 3200 bawahan. Pertempuran sengit terja­di, terutama dalam usaha Belanda untuk merebut mesjid raya Aceh yang dikiranya istana Sultan. Belanda berhasil, tetapi mesjid itu terpaksa ditinggalkan karena keletihan di pihak laskarnya. Mesjid didu­duki kembali oleh laskar Aceh, dan ketika esok paginya terjadi lagi perebutan, Koh­ler tewas (14 April 1873). Van Daalen yang menggantikannya, juga tidak tahan atas- serbuan Aceh, dan terpaksa kembali ke Batavia (29 April 1873).

Pada ekspedisi II, Laskar Belanda di­pimpin oleh Letjen Purnawirawan J. Van Swieten dengan perlengkapan yang lebih sempurna, terutama persenjataan. Pada 6 Januari, Belanda merebut mesjid raya, te­tapi kehilangan. 1/7 personil militernya. Pada 24 Januari, istana Sultan diduduki, tetapi sudah kosong. Sultan meninggalkan­nya 15 Januari menuju Luengbata dalam keadaan sakit kolera, dan 28 Januari ia wa­fat. Gantinya, Muhammad Daud Syah yang baru berusia 6 tahun, didampingi oleh wa­li-wali: Teuku Hasyim, Teuku Luengbata dan Teuku Panglima Polem. Sampai 1884, Aceh berperang di bawah pimpinan perwa­lian Sultan.. Pada 1 April, van Swieten di­tarik dengan kalkulasi bahwa selama 5 bu­lan pertempuran,la.kehilangan 25% perso­nil militernya. Gantinva, Kolonel Pel, menduduki. Krueng Raba sampai Krueng Raya dan membangun garis pos-pos mela­lui Aceh Besar. Setelah mendapat bantuan dari Jawa, ia merebut Mukim XXV dan se­kitarnya meskipun dengan korban cukup banyak. Desember 1875 — Januari l’876 dilakukan “operasi 70 hari”. Pada 24 Ja­nuari, Pel meninggal tiba-tiba, digantikan oleh Jenderal Mayor G.B.T. van Kerchem yang memperluas lini penghubung. Van Kerchem digantikan oleh Jenderal Mayor A.F.E. Diemont (6 November 1876). Sela­ma November 1876, laskar Aceh meng­hantam kedudukan Belanda di wilayah-wi­layah yang telah didudukinya, namun Be­landa masih dapat merebut Pidie (Juni 1876), Simpang Ulim dan Tanjong Seu­mantok (Desember 1876). Sampai awal 1877, Belanda sudah menghabiskan biaya 60 juta gulden, sehingga Gubernur Jende­ral J.W. van Lansberge yang berkunjung ke Aceh (Maret 1877) menghentikan per­luasan di Aceh Besar, diganti dengan sikap menunggu dan melalui jalan persuasif, te­tapi sampai Diernont digantikan oleh Ko­lonel Van der Heyden (Januari 1878) yang diangkat menjadi gubernur sipil dan mili­ter, hasilnya hampir tidak ada, bahkan ser­buan dari pihalc. Aceh semakin sengit. Akhirnya, sficap non agresi dicabut, dan dengan serbuan terus-menerus dan keke­jaman di luar batas kemanusiaan, sampai akhir 1880, Van der Heyden berhasil me­lumpuhkan kekuatan Aceh di Aceh Besar dan meredakan perlawanan mereka di luar Aceh Besar.

Van der Heyden yang kemudian terke­nal dengan nama jenderal bermata satu (ia kehilarigan sebelah matanya dalam per­teMpuran di Batee Iliek) digantikan oleh gubernur Pruys van der Hoeven (Maret, 1881). Sebagian besar pelabuhan Aceh di­tutup dan: armada Belanda diperkuat de­ngan 2 buah kapal. Sementara itu, Teuku Luengbatajanglima Polem, dan Teungku Cik di Tiro terus mengobarkan semangat jihad melawan orang kafir. Pada Maret 1883, Van der Hoeven digantikan oleh Laging Tobias yang terpAsa menyelesai­kan kasus kapal “Nisero” (kapal Inggris yang terdamp6 di daerah Teunom, Aceh Barat) yang disandera oleh raja Teunom, dan terpaksa membayar ganti rugi 100.000 ringgit. Sebelumnya, Teuku Umar yang menyerah kepada Belanda, dan dipercayai untuk membebaskan tawanan Inggris ter­sebut, membelot dan melarikan beberapa senjata dan amunisi. Sementara itu biaya perang telah mencapai 150 juta gulden. Stelsel konsentrasi dijalankan, yaitu me­narik diri ke daerah yang betul-betul su­dah dikuasai, Kutaraja dan Ulee — Lheue serta daerah sekitarnya di bawah pimpin­an Kolonel Demmenie (Maret, 1885). Aki­batnya, Teuku Umar berani inenyandera kapal Hok Canton (Juni, 1886) dan Let­kol Van Tijn yang menggantikan Demme­nie terpaksa menebusnya dengan 25.000 ringgit, bahkan mengusulkan kepada pe­merintah Hindia Belanda agar Teuku Umar diampuni agar dapat membantu memulih­kan keamanan. Sementara itu, Kolonel Pompe .van Meerdervoort menggantikan Van Tijn (Mei, 1891) dan sejak Juli 1891 sampai Februari 1892 penyelidikan ten­tang agama dan politik di Aceh dilakukan oleh Dr. C. Snouck Hurgronje atas per­mintaan Pompe, dan hasilnya bahwa rakyat Aceh hanya tunduk kepada ulama dan hanya dapat ditaklukkan melalui senjata. Dalam pada itu, atas saran Snouck Hur­gronje pula, 30 September 1893, Teuku Umar diangkat menjadi Pan,glima Besar dengan gelar Teuku Johan Pahlawan oleh pemerintah Belanda; akan teta,pi, 1896 ia membelot lagi, sehingga Van Heutsz seba­,gai gubernur militer Aceh niengejar terus sampai Teuku Umar gugur 1899. Kemu­dian, Sultan Muhammad Daud Syah me­nyerah (Januari 1903), diikuti oleh Teuku Panglima Polem (September 1903). Mung­kin atas dasar penyerahan Sultan ini, Pe­rang Aceh dinyatakan selesai 1904. Teta­pi menurut Dr. T. Ibrahim Alfian, M.A., Perang Aceh baru selesai 1912, bahkan menurut Paul Van’t Veer, perang ini sele­sai setelah Belanda takluk kepada Jepang 1942.

 

Advertisement