Advertisement

Suatu pemberontakan yang dilancarkan oleh organisasi Sarekat Rakyat anak cabang Silungkang (Sumatra Barat) melawan pemerintah kolonial Belanda pada awal tahun 1927 tetapi mengalami kegagalan. Silungkang adalah nama sebuah desa dengan sekitar 300 rumah tangga di Kecamatan Sawahlunto, Kabupaten Sawahlunto Sijunjung, Propinsi Sumatra Barat, yang lama terkenal karena kain tenunannya.

Sejak tahun 1918 daerah Silungkang telah ber-golak. Pada tahun ini terjadi gerakan protes organisasi Sarekat Islam anak cabang Silungkang terhadap pemerintah kolonial Belanda. Organisasi ini me- mrotes keadaan masyarakat Silungkang yang kekurangan bahan pokok berupa beras. Akhirnya pemerintah kolonial mendistribusikan beras menanggapi protes itu.

Advertisement

Keberanian organisasi Sarekat Islam mengadakan aksi protes tersebut mengakibatkan penduduk Silungkang beramai-ramai masuk Sarekat Islam. Pada tahun 1924 organisasi Sarekat Islam cabang Silungkang dilebur menjadi Sarekat Rakyat anak cabang Silungkang dan menjadi Sarekat Rakyat yang tergolong besar di Indonesia.

Karena khawatir akan timbulnya gerakan yang dapat mengancam ketertiban dan keamanan, pemerintah kolonial mengadakan pengawasan terhadap kegiatan organisasi ini. Kantor mereka digeledah, tokoh-tokohnya ditangkap, antara lain Idrus, penanggung jawab redaksi majalah Sarekat Islam yang bernama Panas. Bahkan polisi rahasia (PID) memberlakukan peraturan larangan mengadakan rapat tanpa izin dan menjaga ketat kantor Sarekat Rakyat. Karena itu, salah seorang anggota/pengurus organisasi Sarekat Rakyat, yakni A. Muluk Nasution, menyampaikan instruksi kepada komisaris-komisaris Sarekat Rakyat agar membatalkan kedatangan mereka yang akan mengadakan rapat.

Pada tahun 1926 suhu politik di Silungkang makin panas. Terjadi penangkapan massal terhackip pemimpin-pemimpin Sarekat Rakyat, PKI, dan partai-partai berhaluan kiri yang menggunakan asas perjuangan non-kooperasi terhadap pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun itu juga pemerintah kolonial Belanda merencanakan pemberlakuan pers breidel ordonnantie, dengan pembredelan setiap pers yang artikelnya dianggap menghasut rakyat atau mencela pemerintah Hindia Belanda.

Sarekat Rakyat menginstruksikan kepada para anggotanya agar segala arsip dan surat penting disembunyikan dan para anggota sedapat mungkin menghindarkan diri dari tangkapan polisi dengan cara pindah ke kampung yang aman. Mereka mulai melancarkan gerakan bawah tanah. Sarekat Rakyat terus mengadakan pengkaderan bagi anggota-anggotanya dengan memberi kursus-kursus yang terkenal dengan “kursu s 5 menit” dan memperbanyak jumlah anggota di s< luruh pelosok kampung dan kota, di kalangan petai: dan buruh kasar, dengan membentuk kelompok-kelompok kecil yang dinamakan “Kelompok Nan Sepuluh”. Dari kursus-kursus ini dibentuk barisan-barisan yang dilatih secara sembunyi-sembunyi dan dipersenjatai. Mereka dipersiapkan untuk melancarkan pemberontakan. Senjata untuk pemberontakan sudah dipersiapkan. Beberapa anggota Sarekat Rakyat ditugaskan untuk merancang granat tangan.

Pada tanggal 11 November 1926 pimpinan Sarek; Rakyat Silungkang mengadakan rapat guna mem bahas situasi kemungkinan dilancarkannya aksi pemberontakan. Pada tanggal 12 November 1926 pimpinan Sarekat Rakyat Padang, yakni Mohammad Nur Ibrahim dan Pakih Tahir, tiba di Silungkang untuk membahas rencana pemberontakan. Mohammad Nur Ibrahim mengusulkan agar pemberontakan dilakukan pada tanggal 16 November 1926. Anggota Sarekat Rakyat lainnya, di antaranya Rajo Sampono, berpendapat bahwa lebih baik pemberontakan dilancarkan bila situasi telah memungkinkan. Namun pimpina Sarekat Rakyat cabang Sumatra Barat, yakni Harui . menyampaikan berita bahwa pemberontakan akan dimulai pada tanggal 1 Januari 1927.

Adanya perbedaan di antara para pemimpin Sare-kat Rakyat dalam menentukan waktu yang tepat untuk melancarkan pemberontakan telah menimbulkan keresahan para anggota Sarekat Rakyat di seluruh Sumatra Barat pada umumnya dan anak cabang Sijung- kang pada khususnya. Mereka bertambah resah lapi setelah Sarekat Rakyat di Betawi melancarkan pen berentakan pada tanggal 12 November 1926, tetap mengalami kegagalan.

Pada tanggal 21 Desember 1926 sekali lagi diadakan rapat yang dipimpin Thayib Ongah. Hasilnya pemberontakan akan dimulai pada tanggal 1 Januari 1927, sesuai dengan imbauan pimpinan Sarekat Rakyat cabang Sumatra Barat.

Selanjutnya rencana pemberontakan tersebut diserahkan kepada suatu Badan Komite Pemberontakan yang susunannya sebagai berikut: (a) Ketua: Thayib Ongah; (b) Sekretaris: Sampono Kayo; (c) Bendaha ra/perbekalan: Talaha gelar Rajo Sampono; (d) Komisaris: H. Jamaluddin; (e) Komandan Barisan dan Strategi atau Pengatur Perlawanan: Rumuat dan Sersan Mayor Pontoh.

Pada tanggal 31 Desember 1926 pukul 9.00 malam diadakan rapat komando untuk menggariskan rencana operasi pemberontakan yang dibagi dalam beberapa barisan dengan tugas masing-masing yang ditentukan secara terperinci dan urutan waktu yang disusun rapi.

Bila rencana tersebut di atas terlaksana dengan baik dan kota Sawahlunto berhasil direbut, diduga hal ini dapat mengobarkan perjuangan di daerah-daerah lainnya dan pemberontakan akan diikuti oleh Sarekat Rakyat lainnya, baik di Padang, Payakumbuh, Tapanuli, dan lain sebagainya.

Namun rencana dan harapan para pemberontak tersebut mengalami kegagalan, mungkin karena adanya

ghianat yang melaporkan rencana pemberontakan kepada pihak pemerintah kolonial, mungkin juga karena ahlinya polisi rahasia Belanda (PID) dalam -tor setiap gerak langkah organisasi Sarekat. Dengan diketahuinya rencana pemberontakan ter-sebut, pemberontakan Sarekat Rakyat di Silungkang dapat dengan mudah dibasmi. Para pemberontak, vang tidak seluruhnya terdiri atas orang-orang komunis (sekitar 4.000 orang), kemudian ditangkap. Mereka kemudian diadili pada tahun 1928. Di antara mereka ada yang terkena hukuman penjara dua tahun, belasan tahun, seumur hidup, sampai hukuman mati di TIANS gantungan.

Advertisement