Advertisement

Nuh adalah salah seorang nabi atau rasul besar dalam rangkaian kerasulan yang ber­jumlah duapuluh lima. Kebesarannya, misalkan, dapat ditelusuri sampai kepada ras suatu bangsa yang tercatat dalam ren­tangan sejarah hidup umat manusia. Ada beberapa ras atau rumpun bangsa yang da­pat dikaitkan dengan nama anak-anak atau keturunan Nuh, Sam, Ham, dan Ya­fit. Menurut penyelidikan sejarah, ketiga anak Nuh tersebut telah melahirkan tiga ras atau rumpun bangsa, Semit, Hamit, dan Yafit. Rumpun Semit, misalnya, di samping telah melahirkan salahsatu rum-pun bahasa tertua di dunia, juga telah me­lahirkan rumpun kenabian dan agama Ibrahimiyah (Semetic Religions), mulai dari Ibrahim, Ismail, dan sampai kepada Nabi Muhammad.

Nabi Nuh diutus kepada kaum penyem­bah berhala. Di antara berhala yang mere­ka sembah terkenal lima nama jenis pa­tung, masing-masing bernama Wadd (da­lam wujud laki-laki), Suwaa’ (dalam wu­jud wanita), Yagui (dalam wujud singa), Ya`uq (dalam wujud kuda), dan Nasr (da­lam wujud elang). Menurut satu catatan penyelidikan, kelima patung tersebut terus terabadikan ke dalam tradisi pe­nyembahan berhala Arab Jahiliyah pada masa kerasulan Muhammad. Suku-suku Arab Jahiliyah yang menyembah patung­patung tersebut di antaranya, bani al-Kal­by menyembah Wadd, bani Hamazan me­nyembah Suwaa’, bani Mujhij menyembah Yagui, bani Marad menyembah Ya`uq, dan bani Himyar menyembah patung Nasr.

Advertisement

Umat Nabi Nuh termasuk salah-satu umat yang sangat keras menentang nabi­nya. Tantangan tersebut, terutama datang dari kalangan aristokrat yang ingin tetap mempertahankan sistem feodalisme. Oleh karena itu mereka sangat menentang keras ajaran tentang persamaan derajat manusia (egalitarianisme) yang dibawakan Nuh. Karena kepembangkangannya terhadap ajaran kebenaran Tuhan, akibatnya mere­ka ditimpa bencana alam, banjir besar, yang terkenal dengan banjir Nabi Nuh. Kalau menurut bahasa teologis (keyakin­an agama), banjir tersebut merupakan ku­tukan Tuhan terhadap hamba-Nya yang tidak berterima-kasih dan menyimpang dari kebenaran ajaran-Nya. Sedangkan menurut bahasa ilmiah, bencana alam itu terjadi akibat sikap eksploitatif terhadap lingkungan alam (perusakan lingkungan). Namun demikian, kedua informasi tersebut tidak berarti saling bertentangan, me­lainkan hanya sekedar perbedaan ragam bahasa. Di satu sisi, bahasa teologis cen­derung bersifat simbolis, sedangkan, pada sisi lain, bahasa ilmiah bersifat empiris. Oleh karena itu, secara sepintas, antara informasi teologis dengan informasi ilmi­ah tentang bencana alam tersebut menge­sankan pertentangan.

 

Advertisement