Advertisement

Kepala Negan Kerajaan Kambodia yang digulingkan melalui kudeta oleh Jenderal Lon Nol pada tahun 1970. Selama puluhan tahun ia mempunyai pengaruh besar di kalangan rakyatnya.

Sihanouk naik takhta sebagai raja Kambodia menggantikan kakeknya, Sisowath Monivang, yang meninggal tahun 1941. Waktu itu Kambodia masih dijajah Peran- cis. Untuk mempersiapkan kemerdekaan negerinya, ia mengubah sistem pemerintahan dari kerajaan monarki absolut menjadi monarki berkonstitusi (1947).

Advertisement

Tahun 1953 Perancis memberikan kemerdekaan pada Kambodia sementara Norodom Sihanouk tetap bertakhta sebagai raja. Agar rakyat Kambodia lebih menikmati demokrasi dan ia mendapat peran lebih besar dalam pemerintahan, dua tahun kemudian ia turun takhta dan terjun ke dunia politik. Parlemen Kambodia kemudian mengangkatnya, sebagai Kepala Negara Kambodia dengan gelar Pangeran (1960).

Tahun 1970, Perdana Menteri Lon Nol yang merangkap sebagai Panglima Angkatan Darat Kam-bodia, merebut kekuasaan lewat kudeta dengan bantuan saudara tiri Sihanouk, Pangeran S irik Matak. Sihanouk bersama beberapa menteri dan keluarganya menyingkir ke RRC. Di RRC ia membentuk pemerintahan pengasingan, tetapi kurang mendapat dukungan dunia internasional.

Kaum komunis Kambodia yang pro RRC, di bawah bendera Khmer Merah, berhasil merebut kekuasaan dari tangan Lon Nol (1975). Khmer Merah pimpinan Pol Pot memproklamasikan Kambodia sebagai negara republik dengan nama Republik Khmer. Mereka juga mengangkat Sihanouk yang tetap bermukim di RRC sebagai kepala negara seumur hidup, namun ia menolaknya karena tidak dapat menerima paham komunis.

Dengan bantuan Vietnam Heng Samrin berhasil mendesak Khmer Merah. Hingga kini (1991) di Kambodia terdapat tiga kelompok yang bertikai, yaitu kelompok Heng Samrin yang pro Vietnam, kelompok Khmer Merah yang pro RRC, dan kelompok nasionalis pimpinan Sonn San. Sihanouk mencoba membentuk kelompok sendiri, Sihanoukist, tetapi kalah bersaing dengan kelompok lain. Pemerintah Indonesia beberapa kali membantu memecahkan pertikaian itu dengan mempertemukan mereka dalam Jakarta Informal Meeting, tetapi belum menampakkan hasil.

 

Advertisement