Advertisement

Nawawi adalah seorang ahli hukum Is­lam ternama dan ahli hadis dipercaya. Nama lengkapnya ialah Yahya ibnu Sya­raf ibnu Muri ibnu Hasan ibnu Husein ibnU Muhammad ibnu Jum`ah ibnu Hizam, Abu Zakaria an-Nawawi ad-Dimasyqi. la lahir pada 631 H di dusun Nawa, kira-kira 70 km dari kota Damaskus (sekarang). Bapaknya Syaraf ibnu Muri adalah se­orang yang terkenal saleh dan taat di du-sun itu. Dalam rumah tangga yang taat dan saleh itulah Imam Nawawi dibesar­kan. Diriwayatkan bahwa Nawawi yang terkenal pintar itu, di masa kecilnya selalu menyendiri dan teman-temannya yang suka menghabiskan waktu bermain. Da-lam kondisi yang demikian Nawawi yang dan kecilnya mendapat perhatian besar dan orang tuanya itu, banyak mengguna­kan waktunya untuk membaca dan mem­pelajari al-Quran.

Pada mulanya ia mempelajari ilmu pe­ngetahuan dan ulama-ulama terkemuka di desa tempat kelahirannya. Kemudiah sete­lah umurnya menginjak dewasa, ayahnya merasa tidak cukup kalau anaknya belajar di dusun tempat kelahirannya itu. Maka pada 649 H, bersama ayahnya, Imam Na­wawi berangkat ke Damaskus. Damaskus di waktu itu tempat berkumpulnya ulama­ulama terkemuka, dan tempat kunjungan orang dari berbagai pelosok untuk mendalami ilmu-ilmu keislaman. Di kota itu juga terdapat beberapa sekolah agama, dan ada yang mengatakan tidak kurang dari 300 buah sekolah tersebar di Damaskus waktu itu.

Advertisement

Begitu Nawawi sampai di Damaskus, ia langsung berhubungan dengan seorang alim terkenal, yaitu Syekh Abdul-Kati ibnu Abdul-Malik ar-Rabi (w. 698 H), dan dengan Syekh Abdurrahman ibnu Ibrahim ibnu al-Farkah (w. 690 H), dan dari mere­ka Nawawi banyak belajar. Beberapa wak­tu kemudian, ia dikirim oleh gurunya itu ke sebuah lembaga pendidikan yang terke­nal dengan al-Madrasah ar-Rawwahiyah, dan di situlah ia tinggal dan banyak be­lajar.

Banyak ilmu Keislaman yang dikuasai oleh Imam Nawawi. Dalam bidang fikih ia belajar dari ulama-ulama terkemuka dari mazhab Syafri. Sebab itu Imam Nawawi terbilang sebagai seorang pembela mazhab Syafil. Di antara guru-guru fikihnya ialah; Syekh Abu Ibrahim Ishaq ibnu Ahmad ibnu Usman al-Magribi ad-Dimasyqi (w. 650 H). Ia juga belajar dari Mufti Damas­kus Abu Muhammad Abdurrahman ibnu Nuh Ibnu Muhammad ad-Dimasyqi (w. 654 H) dan dari Abul Hasan Sallar ibnu al­Hasan ad-Dimasyqi, seorang ulama terke­nal ahli dalam seluk beluk mazhab Syafil (w. 670 H).

Dalam bidang hadis ia belajar antara lain kepada al-Hafiz Ibrahim Isa al-Muradi al-Andalusi ad-Dimasyqi (w. 668 H), ke­pada Abu Ishaq Ibrahim ibnu Abi Hafas Umar ibnu Mudar al-Wasiti, dan kepada­nya Imam Nawawi menamatkan pelajaran kitab Sahih Muslim. Kemudian ia belajar pula kepada Syekh al-Hafiz al-Mutqin Zai­nuddin Abul Baqa Khalud ibnu Yusuf ibnu Sead an-Nabulisi (w. 663 H).

Dalam bidang Usul-Fikih ia belajar ke­pada Abul Fath Umar ibnu Bandar ibnu Umar at-Taflisi asy-Syafil. Dengan guru­nya ini ia mempelajari kitab al-Muntakhab oleh al-Fakhrur Razi dan sebagian dari kitab al-Mustaffa oleh Imam al-Gazali. Dalam ilmu tata bahasa Arab ia belajar ke­pada seorang ahli bahasa terkenal, yaitu Abul Abbas Ahmad ibnu Salim al-Misri al-Lugawi (w. 664 H). Dan banyak lagi ulama-ulama terkemuka lainnya tempat
Imam Nawawi belajar ilmu-ilmu keislaman.

Boleh dikatakan seluruh kitab kitab ha­dis yang mulamad (dipercaya) telah sem­pat dipelajari oleh Imam Nawawi. Yang paling ditekuninya ialah kitab Saljilj Mus­lim, dan akhirnya kitab tersebut disyarah (dikomentari)nya dalam beberapa jilid. Bersama-sama peminat-peminat hadis lain­nya, ia belajar di sekolah Dar al-hadis al­Asyrafiyah dan menjadi direktur sekolah tersebut sampai wafatnya.

Imam Nawawi terkenal tekun dalam mempelajari sesuatu ilmu pengetahuan. Diriwayatkan dalam satu hari tidak ku­rang dari sebelas mata pelajaran yang dipe­lajari dan diajarkanya. Untuk itu hanya se­dikit tidur di malam hari. Dalam menun­tut ilmu pengetahuan keislaman, ulama yang tekenal kuat hafalannya ini pernah menasihatkan beberapa hal, seperti ikhlas, berakhlak mulia, jangan busuk hati. De­ngan sifat-sifat tersebut seseorang akan mencapai ketinggian di sisi Allah. Keteliti­an dalam mempelajari sesuatu ilmu adalah sikap Imam Nawawi. Dalam sejarah hidup­nya, walaupun ia menyatakan diri sebagai pengikut Imam Syafil, namun ia tidak akan mengikuti mazhab Imamnya itu, ke­cuali jika ia telah meyakini kebenarannya.

Seseorang yang telah mampu menga­rang, demikian nasihat Nawawi, hendak­lah menggunakan sebagian waktunya untuk mengarang. Karena dengan menga­rang seseorang akan lebih banyak mem­baca dan meneliti, dan dengan itu sese­orang tidak lagi terbelenggu oleh ikatan taklid. Tetapi jika belum mampu, lanjut Nawawi, janganlah ia berlagak pandai, karena akan menyesatkan orang lain. Ia sendiri adalah seorang pengarang. Banyak karya ilmiah yang diwariskannya yang masih dapat kita saksikan sampai seka­rang. Karya-karya peninggalannya itu cu­kup menjadi bukti akan kealimannya. Di antara karya-karya ilmiah yang ditinggal­kannya ialah: Kitab Riyad ats-Salitlin, al-Mar al-Muntakhabah min Kalam Sayyid al-Abrar, al-A rba`in an-Nawawiyah, kitab al-Minhaj, Syarh Sal* Muslim, Tahiti) al-Asma wa al-Lughat, Tabaqat al-Fuqaha, dan Kitab al-Majmu `syarh dari kitab al-Muhazzab oleh Abu Ishaq asy-Syirazi.

Setelah 28 tahun tinggal di Damaskus, ia pun kembali ke dusun tempat kela­hirannya, Nawa. Di perkampungan ia mu­lai sakit dan wafat pada malam Rabu 24 Rajab 676 H, dalam usia 45 tahun.

 

Advertisement