MENGENAL NASIR AL-DIN TUSI (1201-1274)

adsense-fallback

Lengkapnya Khwajah Nasir al-Din Abu Ja’far Muhammad bin Muhammad bin Hasan, sarjana yang mahir, ahli matematika, astronomi, dan politikus dari kalangan Syi’ah.

adsense-fallback

Seperti tersirat dari namanya, ia lahir di Tus. Setelah menerima pendidikan dasar dari ayahnya dan Muhammad bin Hasan, ia mempelajari fiqh, ushul, hikmah, dan kalam, di Nishapur. Selanjutnya, ia pergi ke Baghdad dan mempelajari ilmu pengobatan dan filsafat dari Qut al-Din, matematika dari kamal al-Din bin Yunus, dan fiqh serta ushul dari Salim bin Badran.

Tusi membagi metafisika dalam dua bagian, yaitu ilmu ketuhanan (llm-i Ilahi) dan filsafat pertama (fal- safah-i u/a). Pengetahuan tentang Tuhan, akal, dan jiwa, merupakan ilmu ketuhanan, sedangkan pengetahuan mengenai alam semesta dan hal-hal yang berhubungan dengan alam semesta merupakan filsafat pertama.

Menurut Tusi, perintah-perintah Quran diberikan kepada manusia sebagai seorang individu, sebagai anggota keluarga, dan sebagai penghuni kota atau negara. Pembagian menjadi tiga jenis kedudukan itu menggambarkan pembagian filsafat praktis menjadi etika, rumah tangga, dan politik, yang banyak dilakukan para ahli pikir Muslim.

Tusi berutang budi kepada Ibnu Miskawaih dalam hal logika dan kepada Farabi dalam hal politik, namun Ibnu Sinalah yang paling mempengaruhinya. Logika, metafisika, psikologi, ilmu rumah tangga, dan dogmatik yang dikembangkannya, pada dasarnya berasal dari Ibnu Sina. Di samping itu, hubungannya yang lama dengan Nizari Ismailiah telah pula mempengaruhi spekulasi etik, psikologis, dan metafisika yang dikembangkannya.

Karyanya dalam bidang filsafat antara lain Asas al-lqtibas (mengenai logika), Akhlaq-i N asiri (etika), Risaleh dar Ithbat-i Wajib dan Risaleh Darurat-i Marg (metafisika).

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback