Advertisement

Namrud adalah nama seseorang yang dikenal oleh umat Islam terutama melalui kisah Nabi Ibrahim, yang terdapat dalam kitab kisah nabi-nabi (para rasul Tuhan). Sebenamya nama Namrud tidaklah dijum­pai dalam kitab suci al-Quran; sebaliknya nama Namrud tersebut dapat dijumpai da­lam Kitab Kejadian (kitab pertama dalam Perjanjian Lama, yang dipercayai sebagai kitab suci oleh Yahudi dan Kristen), yakni dalam fasal 10 ayat 6. Menurut informasi yang amat terbatas dalam kitab tersebut, is dikatakan sebagai putra Kusy bin Ham bin Nabi Nuh. Ia disebut sebagai orang pertama yang berkuasa di bumi dan se­orang pemburu yang gagah perkasa di ha­dapan Tuhan. Kekuasaannya bermula di Babel (Irak) dan terus meluas ke daerah­daerah sekitamya (sampai ke wilayah Siria sekarang). Hanya demikian yang diinfor­masikan Kitab Kejadian tentang Namrud (Nimrod), sedang informasi yang lebih panjang dapat dijumpai orang dalam le­genda yang diturunkan dari zaman ke za­man oleh masyarakat Yahudi.

Nama Namrud, yang dibicarakan dalam Kitab Kejadian dan legenda kaum Yahudi itu, rupanya telah dikaitkan oleh para pe­nulis kisah nabi-nabi (di kalangan muslim) dengan kisah Nabi Ibrahim yang terdapat dalam al-Quran. Dan al-Quran dapat di­pahami bahwa Nabi Ibrahim lahir dan besar dalam masyarakat atau kaumnya yang menyembah berhala. Ketika Ibrahim berusia pemuda, ia hancurkan berhala-ber­hala kaumnya, kecuali satu berhala yang paling besar. Perbuatannya itu menimbul­kan amarah kaumnya, sehingga mereka menyeru pihak penguasa (raja) agar mem­bakar Ibrahim. Raja dari kaum Ibrahim inilah yang ditetapkan oleh para penulis kisah nabi-nabi sebagai raja yang bernama Namrud. Apakah benar atau salah pene­tapan itu tidaklah mudah untuk dipasti­kan secara ilmiah-historis. Yang pasti ada­lah bahwa al-Quran, sebagai kitab suci umat Islam, tidak pernah menyebut nama raja kaum Nabi Ibrahim, yang berhala-ber­hala mereka dihancurkan. Demikian juga kitab suci kaum Yahudi dan Kristen tidak pernah menghubungkan Namrud (Nim­rod) dengan Nabi Ibrahim.

Advertisement

Seandainya benar penetapan di atas, maka itu berarti bahwa Namrud itu ber­kuasa di kawasan Irak, terrnasuk daerah kelahiran Nabi Ibrahim (Ur, Khaldea), se­kitar abad ke-19 atau 18 SM. Dalam kitab kisah nabi-nabi biasanya digambarkan bahwa Namrud dan para bawahannya me­nyalakan api yang besar dan melemparkan Nabi Ibrahim ke dalamnya. Akan tetapi Nabi Ibrahim tidaklah terbakar oleh api yang menyala-nyala itu, kendati semua tumpukan kayu yang menjadi bahan ba­karnya hangus menjadi bara atau debu. Apakah benar Nabi Ibrahim dilempar­kan ke dalam api yang menyala-nyala, seperti yang biasa digambarkan itu, ma­sih panta-s dipertanyakan, karena al-Qur­an sendiri tidaklah mengimformasikan tentang pelemparan Nabi Ibrahim ke dalam api dan tidak pula menjelaskan ba­gaimana hal-ihwal selamatnya ia dan pem­bakaran api; juga tidak dijelaskan bagai­mana caranya Tuhan menjadikan api itu menjadi dingin, sehingga Ibrahim menjadi selamat. Karena tidak adanya penjelasan yang terang tentang itu dari al-Quran, maka penggambaran bahwa Ibrahim betul­betul dilemparkan ke dalam api oleh Nam­rud dan bawahannya, tetapi tidak terba­kar oleh api, tidak lain dan sebuah ke­mungkinan yang biasa dibayangkan oleh kebanyakan ulama dan umat Islam. Di samping itu ada pula kemungkinan lain yang juga bisa dibayangkan, seperti ter­jadinya hujan badai yang dingin, yang memporak-porandakan persiapan pelak­sanaan hukuman terhadap Ibrahim dan memadamkan kobaran api. Dalam suasana kalang-kabut oleh hujan badai yang dingin itu, Ibrahim bisa menyelamatkan diri dan pergi ke tempat lain (ke Harran), semen­tara Namrud dan kaumnya kemudian te­tap saja menyembah berhala-berhala mere­ka.

Advertisement