Advertisement

Nafi` bin al-Azraq, lengkapnya Abu Rasyid Nafi` bin al-Azraq bin Qais al-Ha­nafi, adalah pemimpin pertama sub-sekte Khawarij, yang dihubungkan kepada nama ayahnya: al-Azariqah, al-Azraqiyyah, atau al-Azraqiyyun. Tidak begitu jelas riwayat hidup tokoh Khawarij ini. Sumber-sumber masa lalu hanya menyajikan data yang amat terbatas tentang dirinya. Disebutkan bahwa pada mulanya kaum Khawarij Irak berdatangan ke Mekah untuk bergabung dengan Abdullah bin Zuber (yang telah memproklamasikan dirinya sebagai khali­fah pada 682 (61 H), untuk ikut berpe­rang melawan pasukan Bani Umayyah, yang datang mengepung kota Mekah pada 685 (64 H). Setelah pengepungan kota Mekah itu dihentikan oleh pihak pasukan Bani Umayyah, karena datangnya berita kematian Khalifah Yazid bin Mu`awiyah, timbul perbedaan paham antara pihak Ab­dullah bin Zuber dengan pihak Khawarij. Pihak Khawarij ini segera meninggalkan Mekah, dan disebutkan bahwa Nail’ bin al-Azraq, Abdullah bin Saffar, Abdullah bin Ibad, dan Hanzalah bin Baihas pergi ke Basrah (Irak), sedang Abu Talut, Abu Fudaik, dan ‘ Atiyyah bin Aswad pergi ke Yamamah.

Di Basrah Nair bin al-Azraq bertindak sebagai pemimpin jemaah Khawarij dan segera menghancurkan pintu penjara Basrah untuk membebaskan orang-orang Kha­warij yang dikurung di sana. Setelah itu mereka bergerak menuju Ahwaz, dan da­pat menaklukkan negeri itu, serta negeri Faris dan Kirman. Dengan keberhasilan itu, mereka menjelma menjadi sub-sekte terbesar dalam Khawarij. Rangkaian per­tarungan-pertarungan antara mereka de­ngan pasukan yang berpihak kepada Abdullah bin Zuber atau kemudian de­ngan pasukan yang berpihak kepada Bani Umayyah berlangsung dengan sengit, baik di Irak maupun di kawasan sebelah barat Persia. Nati’ bin al-Azraq sendiri tewas da­lam suatu pertempuran sengit pada 686 (65 H). Kendati demikian kaum Khawarij Azariqah masih terus melakukan perla­wanan keras. Kalau tidaklah terjadi per­pecahan di kalangan mereka pada masa kepemimpinan Qatari, niscaya pertarung­an mereka dengan pihak Bani Umayyah akan berlangsung lebih lama. Mereka bare dapat dihancurkan oleh pasukan Bani Umayyah pada 697 (77 H).

Advertisement

Nei’  bin al-Azraq dapat dipandang se­bagai pemimpin pertama dan kaum Kha­warij, yang berhasil menghimpun kekuat­an, setelah kaum Khawarij angkatan per­tama, yang dikenal juga dengan nama golongan Muhakkimah, mengalami ke­hancuran total di tangan pasukan Khalifah Ali bin Abi Talib pada pertempuran di Nahrawan 659 (38 H) (konon dari semua pasukan Khawarij beberapa orang saja yang selamat dan kematian). Mungkin ka­rena pengalaman pahit ini, Nafi` bin al­Azraq, yang berhasil menghimpun pengi­kut lebih kurang seperempat abad kemu­dian, memiliki pandangan yang sangat eks­trim. Dan belasan• sub-sekte Khawarij yang pernah muncul dalam sejarah, ter­nyata sub-sekte al-Azariqah inilah yang memiliki pandangan yang paling ekstrim. Pandangan-pandangan mereka adalah se­bagai berikut:

(1)   Orang Islam yang melakukan dosa besar, atau tidak sepaham dengan mereka, atau sepaham tapi tidak ikut hijrah dan berperang bersama mereka, adalah kafir musyrik.

(2)   Mereka yang kafir-musyrik itu ha­lal dibunuh, dan mereka akan kekal ber­ sama anak-anak mereka di dalam neraka.

(3)   Anak-anak dan para wanita yang berada di luar golongan Azariqah juga ha­lal dibunuh.

(4)   Prinsip taqiyyat (menyembunyikan pendirian) tidak boleh, baik dalam bentuk perkataan maupun dalam bentuk perbuat­an.

(5)   Hukum rajam tidak boleh dilaksana­kan kepada para pezina, karena hukum tersebut tidak terdapat dalam al-Quran.

(6)   Hukum dera tidak diberlakukan ke­pada para penuduh orang lain berzina, bila yang dituduh itu orang laki-laki yang su­dah beristri, sebab hukumannya tidaklah disebutkan demikian dalam al-Quran. Akan tetapi bila yang dituduh berzina itu orang perempuan yang bersuami, maka hukuman dera berlaku atas si penuduh yang tidak mampu mendatangkan empat orang saksi, sebagaimana disebutkan da­lam al-Quran.

(7)   Hukuman potong tangan diberlaku­kan kepada orang yang mencuri, baik ba­rang yang dicuri itu banyak maupun sedi­kit.

Kaum Khawarij yang menjadi pengikut Nati’ bin al-Azraq tidak mudah percaya pada orang yang datang untuk menyatakan pengakuan bahwa ia. orang Azraqi. Orang yang datang ini lebih dulu diuji, yakni di­suruh membunuh seorang tawanan. Bila tawanan itu dibunuhnya, maka si pengaku itu diterima, tapi kalau tawanan itu tidak dibunuh, maka si pengaku yang datang itu sendiri yang dibunuh. Orang Islam yang kebetulan melewati daerah yang mereka kuasai, akan selamat bila ia mengaku bah­wa ia seorang iimmi (orang Kristen atau Yahudi yang. dilindungi), tapi akan celaka bila mengaku seorang muslim. Karena ke­beradaan mereka yang amat berbahaya bagi ketenteraman kaum muslimin, maka kehancuran mereka pada 77 H itu melega­kan masyarakat Islam.

Advertisement
Filed under : Review,