Advertisement

Mustafa Kemal Attaturk, dilahirkan pada 1881 di Salonika, Turki. Ayahnya, Ali Reza, seorang pegawai biasa di salah­satu kantor di kota tersebut. Ibunya, Zubeyde, seorang wanita yang sangat da­lam perasaan keagamaannya. Karenanya, setelah ayahnya meninggal, ibunya men­desak Kemal untuk memasuki sebuah ma­drasah. Tetapi ia tidak merasa senang bela­jar di madrasah. Melihat gejala ini, ibunya memindahkannya ke sekolah dasar modern di Salonika. Kemudian, atas kehendak dan usahanya sendiri, ia memasuki Sekolah Menengah Militer, dan melanjutkannya ke Sekolah Latihan Militer. Pada usia 18 ta­hun, 1899, ia berhasil menyelesaikan sekolahnya. Pada tahun yang sama, ia me­lanjutkan studinya ke Sekolah Tinggi Mi­liter di Istambul. Enam tahun kemudian, 1905, ia berhasil menamatkan studinya dengan meraih pangkat kapten.

Ketika masih menjadi mahasiswa, ia su­dah mulai memasuki kehidupan politik praktis atas pengaruh temannya, Ali Fethi. Melalui temannya ini pula, ia didorong untuk memperdalam bahasa Prancis, se­hingga ia mampu membaca buku-buku para pemikir Prancis, seperti Rousseau, Voltaire, Aguste Comte, Montesquieu, dan lain-lain.

Advertisement

Kecenderungan Kemal untuk memasuki dunia politik sejak masa studinya, selain karena belajar di lembaga pendidikan mili­ter, juga karena situasi kehidupan politik di Turki ketika itu sudah menghendaki yang demikian. Struktur kekuasaan abso­lut Sultan Abdul Hamid membuka pe­luang untuk tumbuhnya gerakan-gerakan politik, baik yang diorganisasikan oleh para tokoh politik maupun oleh perkum­pulan-perkumpulan kepemudaan dan mahasiswa. Setelah selesai studinya, ia se­makin mengaktifkan diri dalam kegiatan politik. Sehingga akhirnya, bersama-sama temannya, ia ditangkap dan dipenjarakan, kemudian diasingkan ke Suriah. Selama dalam pengasingan, ia terus melakukan kegiatan-kegiatan politik.

Pada 1907, ia dipindahkan ke Salonika dan dipekerjakan sebagai Staf Umum. Se­tahun kemudian 1908, terjadi Revolusi, namun ia tidak mempunyai peranan, kare­na belum dapat menandingi para pemim­pin politik senior, seperti Enver, Talat, Je­mal, dan lain-lain. Ia bersama temannya, Ali Fethi, banyak melancarkan kritik poli­tik. Akhirnya, pada 1913 Fethi didutabe­sarkan ke Sofia, Bulgaria, dan Mustafa Ke­rne disertakan sebagai Atase Militer. Di sinilah Mustafa Kemal berkenalan lang­sung dengan kebudayaan dan peradaban Barat yang sangat menarik perhatiannya, terutama sistem pemerintahan parlemen­ter. Ketika Perang Dunia I pecah, is di­panggil kembali untuk menjadi Panglima Divisi XIX. Karena keberaniannya dan kecakapan di medan pertempuran, pang­katnya dinaikkan dari Kolonel menjadi Jenderal, dan sekaligus dianugerahi gelar Pasya. Usai Perang Dunia I, ia diangkat menjadi Panglima untuk seluruh pasukan yang berada di wilayah Turki Selatan.

Keberhasilannya di bidang militer, me­licinkan jalan baginya ke jenjang kekuasa­an politik. Ia bersama kawan-kawannya dari barisan nasionalis terus bergerak me­nguasai situasi politik baik dalam negeri maupun luar negeri. Akhirnya kekuasaan Sekutu terpaksa mengakui mereka sebagai penguasa sah di Turki. Pada 23 Juli 1923 ditandatangani Perjanjian Lausanue, dan pemerintahan Mustafa Kemal mendapat pengakuan dunia internasional. Atas pres­tasinya ini, ia digelari Attaturk (Bapak Turki).

Setelah perjuangan kemerdekaan ber­akhir, demikian menurut Kemal, sesung­guhnya, perjuangan baru dimulai, yaitu perjuangan untuk menerapkan peradaban Barat di Turki.’ Sistem kehidupan tradi­sional, baik keagamaan maupun sosial politik harus diubah dengan sistem ke­hidupan modern model Barat. Dengan demikian, westernisme, sekularisme, dan nasionalisme itulah yang menjadi dasar pemikiran pembaharuan Mustafa Kemal.

Pertama kali yang diperbaharui adalah bentuk negara. Sistem politik tradisional yang bercorak keagamaan, kekhalifahan, hams disekularisasikan. Sistem pemerin­tahan hams dipisahkan dari sistem keaga­maan. Pada 3 Maret 1924, Majelis Agung Nasional memutuskan tentang penghapus­an jabatan khalifah. Dalam sistem baru, menurut Konstitusi 1921, Islam masih diakui sebagai agama negara. Baru pada 1928, negara memutuskan samasekali hu­bungannya dengan agama. Sembilan tahun kemudian, setelah dasar-dasar sekularisme dimasukkan ke dalam Konstitusi pada 1937, barulah Republik Turki secara res­mi menjadi negara sekuler.

Dalam proses sekularisasi, bersamaan dengan penghapusan kekuasaan khalifah, Biro Syekh al-Islam dan Kementerian Sya­riat pun dihapuskan pada 1924. Hukurn syariat dan hukum adat digantikan oleh hukum model Barat. Westernisasi dan se­kularisasi bukan saja dilakukan terhadap sistem institusi, melainkan juga terhadap sistem sosial budaya.

Betapapun, negara sekuler Turki tidak sama persis dengan negara sekuler Barat. Terbukti, meskipun hukum agama di­hapuskan dan pendidikan agama dikeluar­kan dari kurikulum sekolah, Republik Turki Mustafa Kemal masih mengurusi coal agama untuk sekolah-sekolah peme­rintah melalui Departemen Urusan Aga-ma. Apa yang dilakukan Mustafa Kemal, sesungguhnya, bukan penentangan terha­dap ajaran Islam, tetapi terhadap sistem keagamaan tradisional yang menurut pan­dangannya adalah penyebab kemunduran Islam. Dengan kata lain, sekularisasi Mus­tafa Kemal dipusatkan terhadap golongan ulama dengan perangkat kelembagaannya dalam mengurusi sistem sosial politik dan kenegaraan.

Mustafa Kemal, yang terkenal sebagai tokoh kontroversial, wafat pada 1938. Betapapun, sekularisasi yang dilancar­kannya, sesungguhnya, tidak lebih dari proses pembentukan sistem sekularisme politik. Karenanya, tidak mengherankan jika semangat hidup keagamaan tidak ter­cerabut dari akar budaya Turki.

Advertisement