Advertisement

Musa bin Nusair yang hidup antara 640-717 (19-99 H), adalah seorang pah­lawan muslim, gubernur Afrika Utara dan Magrib pada masa pemerintahan dinasti Bani Umayyah yang atas prakarsa dan usa­hanya, Andalus dapat ditaklukkan. Pada masa pemerintahan Ali bin Abi Talib, ia menolak untuk bergabung dengan Mu`awi­yah untuk melawan Ali yang menurut pendapatnya adalah khalifah yang sah. Karirnya dimulai ketika bertindak sebagai asisten (wazir) dan Bisyr bin Marwan, gu­bernur Basrah dan kemudian juga Kufah. Kematian Bisyr secara mendadak, menye­babkan Musa meminta perlindungan Ab­dul Aziz bin Marwan untuk’ menghindar­kan dirinya dan hukurnan berat yang mungkin dijatuhkan oleh al-Hajjaj bin Yu­suf yang menggantikan kedudukan Bisyr di Irak, dan atas pertolongan Abdul Aziz pula, ia dapat menghadap khalifah Abdul Malik bin Marwan, sehingga mendapat ke­ringanan hukuman. Kemudian, atas kebi­jaksanaan Abdul Aziz sebagai gubernur Mesir yang waktu itu masih membawahi seluruh Afrika Utara dan Magrib, Musa bin Nusair diangkat sebagai penguasa di Afrika Utara dan Magrib (dalam pengerti­an ini, Mesh tidak termasuk Afrika Utara) menggantikan Hasan bin an-Nu`man al­Gassani. Untuk merampungkan penakluk­an di wilayah tersebut, Musa menakluk­kan Tanjah (Tanger) dan kota Sabtah yang semula tunduk kepada penguasa bangsa Ghotia; bahkan penguasa Sabtah, Count Julian, memberi dukungan bagi usaha penaklukan Andalus sebagai balas dendam atas raja Roderijk yang konon mempermainkan anak gadis Julian.

Untuk menaklukkan Andalus, Musa mengutus Tarif bin Malik untuk menye­berang ke Andalus sebagai pionir dengan kekuatan 500 orang prajurit. Usaha Musa yang menjabat sebagai penguasa Afrika Utara sejak 698 (79 H) ini ternyata berha­sil gemilang, karena ekspedisinya ke Anda­lus pulang kembali dengan membawa har­ta rampasan yang banyak. Tahun 710 (92 H), Musa mengirimkan ekspedisi lagi di bawah pimpinan bekas budaknya yang terpercaya, Tarik bin Ziad dengan kekuat­an 7000 prajurit, sebagian besar orang Barbar. Setelah menyeberangi selat, de­ngan perahu-perahu yang disediakan oleh Count Julian, ekspedisi itu mendarat di bukit yang kemudian dikenal dengan na­ma komandan ekspedisi itu, Jabal at-Tariq (Gibraltar). Roderick yang menyiapkan personil konon sampai 70.000 prajurit, memaksa Tarik untuk meminta tambahan prajurit dan olehMusadikirim 5000 orang. Pertempuran sengit terjadi di Wadi Bak­kah/Lakkah (mulut sungai Barbate). Bagi tentara muslim, pertempuran ini merupa­kan perjuangan hidup dan mati, karena tak ada tempat lari, sedang prajurit Rode­rick adalah tentara pendahulunya yang di­kalahkannya, sehingga tidak ada kesung­guh-sungguhan bertempur. Tarik menang dengan gemilang dan selanjutnya ditakluk­kannya Archidona, Elvira, Granada dan Malaga. Di Ecija terjadi pertempuran se­ngit, tetapi dimenangkan pula oleh Tarik dan akhirnya Toledo, pusat pemerintah Visigoth, jatuh ke tangan prajurit muslim. Tahun 711 (93 H), seluruh kerajaan Visi­goth yang merupakan 50% wilayah Spa­nyol dikuasai penakluk muslim. Musa bin Nusair yang tertarik oleh keberhasilan be- kas budaknya, dengan 10.000 prajurit me­nyeberang ke Spanyol. Kota-kota yang di­hindari Tarik ditaklukkan, seperti Sidonia dan Carmona. Sevilla, kota terbesar di Spanyol waktu itu, ditaklukkan 713 (95 H). Dekat Toledo, Musa bertemu dengan Tarik. Konon Musa mendera dan merantai Tarik karena tidak menaati instruksinya untuk berhenti setelah kemenangan perta­ma diperoleh. Namun penaklukan dilan­jutkan dengan menduduki Saragosa, Ara­gon, Leon, Asturia dan Galicia. Sayang, ia dipanggil oleh khalifah al-Walid yang ce­mas akan semakin besarnya kekuasaan Musa.

Advertisement

Dengan meninggalkan anaknya yang ke­dua, Abdul Aziz, sebagai pengawas terha­dap teritorial yang baru saja dikuasainya. Musa bin Nusair dengan diiringi oleh para pengawal, 400 bangsawan Visigoth yang berpakaian gemerlapan, arak-arakan bu­dak dan tawanan perang yang masing•ma­sing dibebani dengan harta benda yang tak ternilai harganya, berangkat ke Damaskus. Sampai di Tiberias, Musa ditemui oleh utusan Sulaiman, calon pengganti khalifah al-Walid yang sudah sakit-sakitan, agar Musa jangan masuk kota lebih dahulu, me­nunggu wafatnya al-Walid. Musa menolak, dan pada akhir awal 715 (96 H), ia masuk kota Damaskus dan diterima dengan baik oleh al-Walid yang ternyata tidak sampai lagi menikmati hadiah yang besar yang di­persembahkan oleh Musa. Hadiah itu ja­tuh ke tangan pengganti khalifah, Sulai­man, bahkan harta Musa sendiri disita, ke­mudian ia hidup sebagai peminta-minta di dusun Wadi al-Qura, Hijaz, dan itulah akhir karir penakluk Spanyol yang ber­sejarah itu sampai meninggalnya 717 (99 H).

Advertisement