Advertisement

Mulla Sadra lengkapnya adalah Sad­ruddin asy-Syirazi. Ia dilahirkan pada 1572 di Syiraz. Pada usia remaja ia pindah ke Isfahan, sebuah pusat budaya yang penting di masa itu. Di Isfahan ini ia me­nuntut ilmu kepada Mir Damad dan Mir Abu al-Qasim Fendereksi, dua orang to­koh pemikir dan gum filosof kenamaan pada masa Safawi.

Mulla Sadra banyak menulis buku-buku komentar di samping juga buku-buku ori­sinil. Karyanya yang dianggap monumen­tal adalah Kitab al-Hikmah al-Muta’aliyah (Kebijaksanaan Tertinggi) dan Kitab al­Asfar al-Arba`ah (Kitab Empat Pet alanan). Karya originalnya yang sampai ke tangan kita antara lain, fludu:s. (Penciptaan dalam Waktu), al-Hasyr (Kebangkitan), Kitab al-Masydir, Kitab Kasr Asnam al-Jahili­yah dan lain-lain.

Advertisement

Bila di kalangan Sunni, setelah serangan al-Gazali, falsafat memasuki masa kemu­ramannya, tetapi di kalangan Syi`ah pe­mikiran falsafat terus berkembang dan sa­lah satu di antara tokohnya adalah Mulla Sadra ini. Ia meneruskan pemikiran al­isyraq (illumination/pencerahan) yang pertama sekali diceritalcan oleh Syihabud­din Yahya as-Suhrawardi al-MaqtuL

Dalam pengantar karyanya Kitab al­Asfar al-Arba’ah, Mulla Sadra mengeluh­kan betapa menyedihkannya pandangan umat terhadap falsafat. Dalam keyakinan­nya falsafat kuno yang dipertalikan de­ngan kebenaran wahyu yang dianugerah­kan kepada para nabi dan wall, merupa­kan ungkapan kebenaran yang paling ting­gi. Falsafat isyraq dikatakan merupakan percampuran dari pemikiran filosofis dan kesadaran sufi. Oleh sebab itulah Mulla Sadra dalam pengembaraan kontemplasi­nya itu menemukan kesadaran mistis se­hingga hatinya dapat menangkap Api Ketuhanan, dengan ucapannya “cahaya dunia Bahl berkilau di atasku”.

Jalan pemikiran falsafat isyraq yang ia kembangkan itu tergambar dalam empat tahap perjalanan, yakni jiwa dari pencip­taan (al-khalq) menuju Realitas Tertinggi (al-Haq), dari Realitas ke Realitas, dad Realitas kembali ke penciptaan, dan akhir­nya ke Realitas sebagaimana yang menge­jawantah dalam penciptaan.

Pemikiran campuran filosofis dan sufi Mulla Sadra ini diterapkannya pula kepa­da teologi Syi`ah. Ia mengatakan bahwa dengan mangkatnya Nabi Muhammad, pe­riode kenabian telah berakhir. Hal ini menurutnya merupakan tanda bagi di­mulainya periode Imamah dan Wilayah da­lam Islam. Lebih jauh dikatakannya bah­wa periode Imamah dan Wilayah ini di­mulai dua belas Imam Syi`ah, dan akan terus berlangsung sampai kembalinya imam yang kedua belas, yang kini sedang berada dalam persembunyiannya semen­tara.

Mulla Sadra dikatakan menemukan ba­sis filosofis bagi ajarannya ini dalam kon­sep Ibnu Arabi tentang nur Muhammad, di mana Nabi Muhammad merupakan manifestasi atau perwujudan yang terakhir dan paling sempurna. Lebih jauh Mulla Sadra mengatakan bahwa realitas mempu­nyai dua dimensi, lahir dan batin. Sebagai­mana Muhammad adalah manifestasi prin­sip kenabian, maka Ali bin All Talib se­bagai imam pertama adalah manifestasi dari prinsip kewalian. Ketika imam yang ditunggu atau al-Mandi menampakkan diri kembali di akhir zaman, maka seluruh makna wahyu Illahi akan diperlihatkan ke­pada umat manusia.

Banyak murid Mulla Sadra yang mene­ruskan pemikiran isyraq ini, antara lain Ibrahim, Ahmad, Fayaz Abdul Razzaq Lahiji, Muhsin Fayadh Kasyani, Muham­mad Baqir Majlis dan lain-lain. Mulla Sa­dra wafat pada 1641 di Basrah.

Advertisement