Advertisement

Muhammad Rum, Mr. lahir di desa Klewongan, Parakan, Temanggung, Jawa Tengah, pada 16 Mei 1908 (1326 H), se­bagai anak keenam dari tujuh bersaudara. Ayahnya bernama Dulkamaen Jayasasmi­to, ibunya bernama Siti Tarbiyah.

Muhammad Rum memulai pendidikan­nya di Volkschool (semacam Sekolah Dasar) di desa kelabirannya, kemudian melanjutkan ke HIS (Hollandsche Inlands­che School) Temanggung sampai kelas III, dan diteruskan ke HIS Pekalongan. Tamat dari HIS Pekalongan (1924/1343 H), ia ..nelanjutkan ke STOVIA Jakarta sampai tingkat persiapan, kemudian ke AMS (Algemene tvliddelbare School) yang di­selesaikan pada (1930/1349 H). Dua ta­hun berikutnya ia belajar di GHS (Geness­kundigde Hoge School) dan terakhir ia memasuki RHS (Rechts Hoge School). Dan perguruan tinggi terakhir ini ia ber­hasil meraih gelar Mr. (Mester in de Rech­ten) pada 1939 (1358 H).

Advertisement

Muhammad Rum adalah seorang aktifis berbagai kegiatan kepemudaan, keagama­an, politik dan masalah-masalah sosial lainnya. la termasuk salah seorang tokoh nasional yang hidup pada tiga zaman (zaman penjajahan Belanda, Jepang dan Mer­deka).

Pada masa penjajahan Belanda, bersama­sama dengan para pemuda Jawa lainnya, ia aktif di Jong Java. Ia pun ikut berparti­sipasi dalam pembentukan Jong Islamie­ten Bond (JIB). Dalam JIB ini is menjadi anggota pimpinan pusatnya, dan Ketua Panitia Kongres di Jakarta (1930/1349 H). Ketika JIB membentuk kepanduan (Natipij) ia menjadi Ketua Umumnya (1933/1352 H). Muhammad Rum aktif juga di Partai Syarekat Islam Indonesia (PSII), dan pernah menjadi Ketua Panitia Kongres PSII di Jakarta (1932/1351 H). Ketika teijadi kemelut di PSII, ia ber­sama-sama dengan Haji Agus Salim dan lain-lainnya keluar dari partai tersebut dan mendirikan partai baru yang disebut Partai Penyadar. Dalam partai baru ini ia menjabat sebagai Ketua Komite Central Executif (Lajnah Tanflzhijah). Pada 1937 (1356 H), bersama-sama dengan Yusuf Wibisono dan kawan-kawan lainnya, Mu­hammad Rum mendirikan organisasi ke­mahasiswaan, Studenten Islam Studie Club (SIS), dan ia sendiri yang menjadi ketuanya. Dan ketika SIS membuat majalah Muslimche Reveille, ia menjadi anggota Dewan Redaksinya. Selain itu, untuk mengembangkan ilmu hukum yang pernah digelutinya di RHS, Muhammad Rum membuka kantor Advokat dan Procureur di Jakarta. Ia pun menjadi pengacara pada Rumah Piatu Muslim di Jakarta dan Perhirnpunan Dagang Indone­sia (Perdi) di Purwokerto.

Pada masa pendudukan Jepang, Mu­hammad Rum menjadi Ketua Muda Baris­an Hizbullah di Jakarta. Pada masa kemer­dekaan, ia memangku berbagai jabatan penting, antara lain: Ketua Komite Nasio­nal Jakarta Raya, anggota Pimpinan Pusat Masyumi, Komisaris. Agung Indonesia di Belanda (1950/1369 H), Menteri Dalam Negeri dalam Kabinet Natsir (1950-1953/ 1369-1372 H), Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet All Sastroamijoyo (1956­1957/1375-1376 H), Rektor Universitag Islam Sumatra Utara (1953 —1956/1372 — 1375 H) dan lain-lain. Muhammad Rum juga banyak mengikuti perundingan-rundingan dan pertemuan-pertemuan pen­ting bersekala nasional dan internasional seperti Penanda-tangan Perundingan Ren­ville (17 Januari 1948/1367 H), Penanda­tangan Persetujuan Roem-Royen (14 April 1949/1368 H). Penanda-tangan Konpe­rensi Meja Bundar di Den Haag (2 Nopem­ber 1949/1368 H), Conference for Mus­lem and Christian Cooperation di Iskan­dariah Mesir (1955/1374 H), mengadakan perjalanan keliling Amerika untuk mem­perkenalkan negara-negara Asia dan Timur Tengah kepada organisasi dan masyarakat Amerika, mengetuai Goodwill Mission ke Australia dan’ menghadiri International Conference Against Colonialisme di India (1959/1378 H).

Sejak Partai Masyumi dibubarkan pada (17 Agustus 1960/1379 H), Muhammad Rum tidak lagi memegang jabatan di pe­merintahan. Ia kemudian memusatkan perhatian pada penulisan buku dan peneli­tian sejarah perpolitikan di Indonesia serta bidang ilmiah lainnya. Kegiatan ini tidak beijalan lancar, karena pada 16 Januari 1962 (1381 H) ia bersama-sama dengan beberapa tokoh Masyumi dan PSI ditahan pemerintah, atas tuduhan terlibat peristi­wa Cenderawasih, yang mengadakan per­cobaan pembunuhan terhadap Presiden Sukarno di Makasar.

Keluar dari tahanan politik (1966/1385 H), kegiatan tersebut diteruskan kembali. Bahkan, ia kemudian memegang beberapa jabatan penting lagi (di luar pemerintah­an), antara lain: Wakil Ketua Dewan Kura-tor Sekolah Tinggi Kedokteran Islam Ja­karta (1971/1390 H) dan anggota Dewan Eksekutif Muktamar Alam Islami (1975/ 1394 H). Di samping itu ia aktif mengikuti beberapa konperensi internasional, seperti Konperensi Internasional tentang Bangla­desh di New Delhi (1971/1395 H), Kon­perensi Menteri-menteri Luar Negeri Islam di Tripoli dan Member of Broad Asian Conferense of Religion for Peace di Singa­pura (1977/1396 H).

Muhammad Rum meninggal dunia di Jakarta pada September 1983 (1402 H). Ia mewariskan beberapa buku penting, an-tam lain: Jejak Langkah H. Agus Salim, Karena Benar dan Adil, Pelajaran dari Se pejarah, Tinjauan Pemilihan Umum I dan II dari Sudut Hukum, Tiga Peristiwa Berse­jarah, Bunga Rampai dari Sejarah, Sum­pah Pemuda Puncak Perkembangan Awal Pertumbuhan, dan Suka Duka Berunding dengan Belanda.

Advertisement