Advertisement

Muhammad Jamil Jaho, lahir pa­da 1875 (1280 H) di Jaho, Padang Pan­jang, Sumatra Barat. Ayahnya, Kadi Tam­bangan, seorang tokoh agama. Sejak kecil, ia memperoleh pendidikan agama di ling­kungan keluarga. Pada 1888, ketika ber­usia 13 tahun, ia dipesantrenkan di Gu­nung Rajo, di bawah bimbingan Syekh Jafri. Lima tahun kemudian, 1893, ia pindah ke pesantren Tanjung Bungo, pa­dang Ganting, di bawah pimpinan Syekh Ayub. Di sini, ia berjumpa dengan Syekh Sulaiman Rasuli; kemudian menjadi saha­bat karibnya. Enam tahun berselang, 1899, bersama dengan Sulaiman ar-Rasuli, ia pindah ke Biaro IV Angkat, Candung. Tahun berikutnya, ia pindah ke Halaban, Kabupaten Lima puluh Koto.

Pada usia sekitar 33 tahun, 1908, ia melanjutkan studinya ke Mekah. Di sana ia belajar, di antaranya, kepada Syekh Ah­mad Khatib Minangkabau..Selain itu, di sana ia pun berjumpa dengan teman-te­man setanah airnya, di antaranya, Syekh Abdul Karim Amrullah, Sulaiman ar-Rasu­li Candung, Ibrahim Musa Parabek, dan K.H. Ahmad Dahlan. Setelah sepuluh ta­hun belajar di Mekah, pada 1918, ia kern­bali ke tanah air. Sekembali dari.Mekah, ia mengajar, terutama, di daerah asalnya, Ja­ho. Kemudian, pada 1924, di Jaho, ia mendirikan pesantren.

Advertisement

Ketika organisasi Muhammadiyah mulai memasuki daerah Minangkabau, terutama, atas usaha S.Y. St. Mangkuto, Jamil Ja­ho turut menggabunglcan dini ke dalam or­ganisasi tersebut, pada 1926. Selain Ja­mil Jaho, masuk pula Syekh Muhammad Zain Simabur dan Engku Tafakis. Setahun kemudian, 1927, Jamil Jaho bersama dengan Syekh Muhammad Zain Simabur turut menghadiri Kongres Muhammadiyah ke 16 di Pekalongan. Melalui kongres ter­sebut kedua ulama ini baru mengetahui apa sesungguhnya orientasi Muhammadi­yah. Mereka, sebelumnya, tidak mengira kalau Muhammadiyah mempunyai orien­tasi kepada paham Wahabiyah yang, se­sungguhnya, selama ini sangat mereka ten-tang. Mereka, terutama, Jamil Jaho, adalah ulama yang sangat kuat memperta­hankan paham lama, konservatif. Padahal, ketika itu, Muhammadiyah terkenal de­ngan semangat pembaharuannya. Hal ini, misalnya, Jamil Jaho ketahui secara langsung dan isi pidato K.H. Mas Mansur, dalam kongres tersebut, yang menekan­kan bahwa Majelis Tarjih begitu penting bagi Muhammadiyah. Sebagaimana diketa­hui, Majelis Tarjih merupakan lembaga se­leksi dan penetapan hukum yang dipan­dang lebih kuat argumentasinya. Dengan demikian, Majelis Tarjih sangat menentang semangat taklid.

Sekembali dari Pekalongan, Kongres Muhammadiyah, Jamil Jaho segera mengundurkan diri dan kepengurusan, Ketua Cabang, Muhammadiyah Padang Panjang. Setelah mengundurkan din dari Muhammadiyah, Jamil Jaho mengaktif­kan diri di organisasi yang lebih konserva­tif, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI). Untuk kalangan organisasi ini, Jamil Ja­ho memainkan peranan sangat penting; karena, memang, ia merupakan salah se­orang pendiri utamanya. Selain itu, dalam upaya mengembangkan lembaga pendidik­an, Jamil Jaho sempat membentuk be­berapa halacia.h, semacam lingkaran studi, misalnya, di Koto Katik Lareh Nan Pan­jang dan di Ekor Lubuk Gunung. Kemudi­an, pada tingkat pendidikan tinggi, Jamil Jaho sempat mendirikan Kuliah Syari’ah, semacam Fakultas Hukum, di Padang Pan-j ang.

Di samping aktif dalam bidang pendi­dikan praktis, Jamil Jaho pun sempat menulis beberapa buku dalam bidang tasa­wuf dan teologi; misalnya, Tazkirat-al­Quh7b, dan Nujiim al-Hidifyah fi Radd

Ahl Jamil Jaho wafat pada 1941 (1360 H). Menurut suatu catat­an, ketika itu revolusi Indonesia mulai me­masuki daerahnya, Jaho, Padang Panjang, Sumatra Barat.

 

Advertisement