Advertisement

Muhammad Abduh   lahir dari keluar­ga petani di Mesir pada sekitar 1849 (1244 H). Ayahnya, Abduh Hasan Khai­rulblh berasal dari Turki, sedangkan ibu­nya keturunan Arab. Sebagaimana layak­nya “seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga Yang taat beragama, sejak kecil Abduh sudah diajar membaca al-Quran. Selain membaca al-Quran, ia pun diajar menulis. Sekitar usia 13 tahun, ia diki­rim ke Tanta untuk belajar agama di mesjid Syekh Ahmad. Setelah dua tahun belajar di sana, ia merasa tidak mengerti apa-apa, mungkin karena metode penga­jarannya bersifat hafalan. Selain tidak mengerti, metode hafalan membuatnya jenuh; karena itu ia memutuskan lebih baik pulang dan menjadi petani.

Setahun kemudian, dalam usia 16 ta­hun, ia melangsungkan pernikahan. Em­pat puluh hari setelah perkawinannya, ia dipaksa orang tuanya kenibali belajar ke Tanta. Karena trauma belajar dengan metode hapalan masih melekat kuat da­lam dirinya, ia menyimpang ke rumah pamannya. Namun di luar dugaannya, di sini ia berjumpa dengan paman ayah­nya, Syekh Darwisy Khadr, yang lebih menguasai metode pengajaran. Syekh Dar­wisy ini menggunakan metode pengajaran text reading. Setiap kalimat yang dibaca Abduh diberikan penjelasar luas oleh Syekh Darwisy. Beberapa hari kernudian, akhirnya Abduh mulai tertarik pada me­tode ini. Kini ia mulai .memahami apa yang dibacanya. Karena itu, semangat be­lajarnyapun mulai turnbuh. Akhirnya, ia mexnutuskan untuk melanjutkan kembali pelajarannya di Tanta.

Advertisement

Sekitar usia 17 tatiun Abduh melanjutkiet studinya ke al-Azhar, Kairo. Lima tals= kemudian, ia bertemu dengan Afgarti yang datang ke sana. Abduh sangat aertar& kepada kuliah-kuliah yang diberi­kart. Afrani. Sejak itu, Abduh menjadi mu­Jal Afrani yang paling setia. Di antara ma­ta yang paling menarik perhatian­arya adalah falsafat dan pemikiran teologi saelauaL Pada 1877 ia telah menyelesai­laa studinya di al-Azhar dengan meraih gebr Alim. Setelah itu, ia mulai mengajar, amilanya di al-Azhar sendiri, kemudian di Darul-Llurn. Di samping itu ia pun meng­ajar di rumahnya.

Dua tahun berikutnya, 1879, ia ditu­duh terlibat gerakan politik anti peme­rinzah. Ia diasingkan ke luar kota Kairo. Setahun kemudian, ia diizinkan kembali ke Kairo Pada tahun yang sama ia diang­kat reesjadi redaktur surat kabar resmi peanerbaah Mesir, 41-447iyyat. leasebmg dra tahms. Abduh turut berpe­sam dabm gerakan resoltz nasionalis Uraiht hesya.. Sebagaimana para pemimpin retrobsi lairtnya, ia pun dipenjarakan, kentudian diasingkan ke Beirut dan, sestadah itu ia pergi ke Paris. Pengasing­annya ke Paris bukan membuat ia ter­kual. malahan semakin memberikan ke­Iduasaannya untuk tetap membuat ge­rakan. Di sana ia bertemu dengan gu­runya, Afgani, yang datang dari India melalui London. Abduh bersama Afgani menerbitkan jurnal pergerakan politik dan keagamaan. al-Unvat al-ItitiqJ, pada 1884. Empat tahun kemudian (1888) melalui bantuan teman-temannya, di antaranya se­oran2 Inggris, Abduh diizinkan kembali ke Mesir. Namun, ia tidak lagi diizinkan men2ajar, karena pemerintah khawatir ter­hadap pengaruh politiknya.

Larangan mengajar membuat Abduh memilih profesi lain; ia bekerja menjadi hakim di salah satu pengadilan. Betapa­pun. al-Azhar masih sangat membutuhkan kemampuan intelektualnya. Karenanya, pada 1894 ia diangkat sebagai anggota Majelis Tinggi al-Azhar. Kesempatan ini ia pergunakan sebaik-baiknya untuk me­lakukan perubahan-perubahan dalam Lembaga Pendidikan Tinggi ini. Lima ta­hun kemudian (1899) ia diangkat menjadi

Mufti Mesir. Kedudukan terhormat ini di jabatnya sampai akhir hayatnya, 1905.

Abduh adalah seorang tokoh pembaha­ru yang lebih banyak menekankan perha­tiannya dalam bidang pendidikan. Ia ber­usaha keras melakukan proses penyadaran intelektual. Bagi Abduh, pendidikan me­rupakan lembaga paling strategis untuk mengadakan perubahan-perubahan sosial secara sistematik. Ini sama sekali tidak berarti bahwa ia mengecilkan peranan lembaga politik. Hanya saja, pengalaman telah mengajarinya bahwa jalur politik, meskipun cukup strategis, namun jaring­an persoalannya jauh lebih kompleks. Bila ia mendayagunakan saluran politik dalam upaya memasyarakatkan ide-ide pembaharuannya, ia bidcan-saja harus ber­hadapan dengan kekuatan sistem politik dalam negeri yang masih sangat otokratis, melainkan juga harus berhadapan dengan kekuatan kolonialisme politik asing. Ka­renanya, kemudian ia memilih lembaga pendidikan.

Gagasan utama pembaharuannya berangkat dari asumsi dasar bahwa sema­ngat rasional harus mewarnai sikap pikir masyarakat dalam memahami ajaran Is­lam. Jika semangat ini telah dapat ditum­buhkan, kecenderungan taklid dan menu­tup pintu iftihad maupun ketergantungan kepada nasib yang sangat kuat melekat dalam tubuh masyarakat, dengan sendi­rinya akan mudah dikikis. Jika proses pengikisan sikap-sikap tradisional telah berhasil dilakukan, masyarakat akan mu­dah berkomunikasi dengan pikiran-pikiran yang lebih maju, baik dalam bidang aga­ma, kebudayaan, ilmu pengetahuan, mau­pun teknologi. Seiring dengan itu, tentu­nya dalam masyarakat diharapkan sudah tumbuh sikap pandang terhadap. Islam, bahwa ajarannya tidak bertentangan de­ngan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.

Di antara gagasan Abduh yang paling mendasar dalam sistem pendidilcan adalah bahwa ia sangat menentang sistem dualis­me, Menurutnya, dalam sekolah-sekolah umum harus diajarkan agama, sedangkan dalam sekolah-sekolah agama harus diajar­kan ilmu pengetahuan modern.

Advertisement