Advertisement

Mu’az bin Jabal adalah seorang saha­bat Rasulullah, dari kelompok al-Ansgr (orang-orang Islam yang menyambut ke­datangan Rasulullah di Madinah dan mem­bantunya) dan dari suku Khazraj. Nama lengkapnya ialah Mu’az ibnu Jabal ibnu Amru ibnu.. Aus ibnu Aid ibnu Adi ibnu Ka’ab ibnu Amru al-Ansari al-Khazraji. Gelarnya ialah Abu Abdurrahman. Ia memeluk agama Islam dari waktu mudanya.

Ia adalah di antara sahabat yang diakui akan kealimannya. Rasulullah pernah mengatakan bahwa Mu’az bin Jabal adalah orang yang paling tahu dalam masalah ha­lal dan haram. Oleh karena kealimannya itu Rasulullah pada 10 H mengutusnya ke Yaman sebagai hakim dan untuk mengajar umat Islam di negeri itu. Ia pergi ke Ya­man dengan membawa sepucuk surat dari Rasulullah yang isinya mengatakan bah­wa: “Aku utus kepada kalian orang pilih­an di antara sahabatku.” Sebelum ia ber­angkat, waktu ditanya oleh Rasulullah ba­gaimana ia memecahkan sesuatu permasa­lahan hukum, ia menjawab: “Aku akan putuskan dengan kitab Allah (al-Quran). Jika tidak aku dapati dalam kitabullah, aku akan putuskan dengan sunnah Rasu­lullah. Jika tidak aku dapati dalam dua sumber itu, maka aku akan putuskan hu­kumnya dengan ijtihadku.” Mendengar jawaban itu Rasulullah bersabda: “Segala pujian adalah untuk Allah yang telah memberi taufik kepada rasul (utusan) dari Rasulullah.” (al-Hadis)

Advertisement

Dari dialog Rasulullah dan Mu’az terse­butlah kemudian dipahami urutan sumber hukum, yaitu Kitabullah, Sunnah Rasulul­lah dan kemudian ijtihad. Ia, seperti dica­tat oleh al-Maragi dalam al-Fatljul-Mubin­nya, terkenal sebagai seorang mujtahid ka­langan sahabat yang amat banyak menggu­nakan ijtihad dengan pikiran dalam me­mecahkan hukum. Di Yaman kota tern­patnya menjadi hakim, karena jauh dari Madinah tempat Rasulullah berada, ba­nyak persoalan-persoalan yang harus dipe­cahkan segera dan tidak sempat ditanya­kan hukumnya kepada Rasulullah. Hal itu menipakan suatu faktor yang mendorong Mu’az untuk banyak menggunakan ijtihad sebagai jalan pemecahan hukum. Aliran­nya sempat berkembang di kalangan ula­ma di Yaman. Diriwayatkan bahwa Imam Syafil pendiri mazhab Syafil waktu ber­ada di Yaman, sempat mempelajari aliran hukum Mu’az bin Jabal melalui ulama-ula­ma kenamaan di negeri itu.

Sahabat yang hafal al-Quran di masa ha­yat Rasulullah ini, terkenal dalam sejarah sebagai seorang yang selalu manis muka­nya, mulia budi pekertinya dan amat ting­gi toleransinya dalam pergaulan masyara­kat. Ia mempunyai kemauan yang amat tinggi dalam menegakkan keadilan sehing­ga ia disebut sebagai seorang hakim yang amat jujur dan adil di peradilan. Oleh ka­rena kejujuran dan keadilannya itu, ia te­tap dipercayai Rasulullah memegang ja­batan hakim di Yaman sampai Rasulullah wafat. Di samping itu kemauannya meng­hapuskan kebatilan demikian tinggi pula, sehingga menurut riwayat tidak berapa pe­perangan Rasulullah dalam usaha membas­mi kejahilan, yang tidak diikuti oleh saha­bat yang terkenal taat ini. Pada masa kha­lifah Abu Bakar, setelah kembali dari me­nunaikan tugas di Yaman, tidak berapa la­ma ia beristirahat di Madinah. Ia kemu­dian segera bergabung dengan angkatan bersenjata yang dikirim untuk menalcluk­kan Siria di bawah pimpinan panglima Abu Ubaidah bin al•Jarrah.

Khalifah Umar bin Khattab, sangat ba­nyak ia bantu, baik dalam menjalankan dakwah Islamiyah seperti mengajarkan ilmu keislaman di Siria, maupun dalam bi­dang kemiliteran. Umar bin Khattab per­nah berkomentar: “Wanita manakah lagi yang akan melahirkan lelaki seperti Mu’az. Andaikan ia tidak ada, aku tidak akan sukses.”

Di ketika sakit yang kemudian memba­wa wafatnya, sering ia menangis di tempat perbarMgannya. Waktu ditanya mengapa menangis padahal ia adalah seorang saha­bat Rasulullah yang sudah banyak berbak­ti, ia menjawab: “Aku menangis bukan karena takut mati dan bukan pula karena jabatan kemuliaan yang akan aku tinggal­kan. Aku menangis karena aku belum ta­hu yang mana antara dua keadaan yang akan kudapati; kebahagiaankah atau pen­deritaan.”

Di kalangan ahli hadis, ia dicatat seba­gai seorang yang tinggi nilai hadisnya. Ada 157 buah hadis dalam Sahih Bukhari dan Muslim yang berasal daripadanya. Di anta­ra Para sahabat yang pernah mengambil hadis daripadanya ialah Umar bin Khat­tab, Abdullah ibnu Umar, Abu. Qutadah, Abdullah ibnu Amru, Anas ibnu Malik, dan Abu Umamah al-Bahili. Da.ri kalangan tabiin yang pernah merawikan hadis dari­padanya antara lain adalah: Junadah ibnu Abi Umayyah, Abdurrahman ibnu Ga­nam, Abu Idris al-Khaulani dan Abu Mus­lim al-Khaulani.

Ia wafat pada 639 (18 H) dalam usia 38 tahun dan dikuburkan di satu perkam­pungan yang sekarang terletak di daerah Yordania.

Advertisement