Advertisement

Mu’awiyah lengkapnya Mu`awiyah ibnu Abi Sufyan ibnu Harb ibnu Umayyah, adalah khalifah pertama dan pendiri dinas­ti Bani Umayyah; lahir di Mekah ± 607. Ayahnya, Abu Sufyan, adalah saudagar terkemuka di kota itu dan mempunyai pengaruh besar tidak hanya terhadap ke­luarganya, Bani Umayyah, tetapi juga su­ku bangsa Quraisy pada umumnya. Ibunya Hindun, adalah wanita yang berkemauan keras dan pemberani. Mu`awiyah masuk Islam pada waktu Nabi Muhammad me­naklukkan kota Mekah 8 H bersama pen­duduk kota itu. Ia kemudian diangkat oleh Nabi sebagai salah seorang penulis wahyu. Di samping itu, Nabi juga menga­wini saudaranya, Ummu Habibah binti Abi Sufyan, suatu cara pendekatan yang biasa dilakukan oleh seorang pemimpin terhadap bekas musuhnya yang mempu­nyai pengaruh.

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar (632-634/11-13 H), Mu`awiyah diang­kat sebagai komandan bala bantuan yang dikirim ke Damaskus dalam rangka penak­lukan Syam (Siria), kemudian ia berpe­rang di sana di bawah komando kakaknya sendiri, Yazid ibnu Abi Sufyan; selanjut­nya ia memimpin pasukan sendiri dan ber­hasil menaklukkan Caesaria, Beirut dan kota-kota lain di pantai Syam. Pada masa kekhalifahan Umar ibnu al-Khattab (634— 644/13-23 H), Yazid diangkat sebagai gu­bernur di Damaskus dan Mu`awiyah di Ur-dun. Ketika Yazid kemudian meninggal karena wabah penyakit, Damaskus diga­bungkan dengan Urdun dan Mu`awiyah di­angkat sebagai gubernurnya. Pada masa kekhalifahan Usman ibnu Affan (644­656/23-36 H), khalifah yang juga dari ke­luarga Bani Umayyah ini menguasakan se­luruh wilayah Syam kepada Mu`awiyah. Dengan waktu yang cukup lama (20 ta­hun) dan bakat kepeniimpinan yang be­sar, Mu`awiyah berhasil membentuk selu­ruh wilayah Syam sebagai propinsi yang teratur dengan kekuatan minter yang be­sar dan berdisiplin tinggi, sehingga Damas­kus sebagai pusat pemerintahan gubernur, tak ubahnya sebagai ibu kota suatu impe­rium yang sedang tumbuh.

Advertisement

Terbunuhnya Khalifah Usman ibnu Af­fan oleh suatu pemberontakan sebagai aki­bat politik nepotisme yang dijalankan oleh kh.alifah tersebut, Mu`awiyah mene­gaskan bahwa dirinya berkewajiban untuk menuntut bela. Oleh sebab itu, ia tidak mau mengakui All ibnu Abi Talib sebagai khalifah menggantikan Usman dengan alasan bahwa All tidak sepenuh hati me­Iindungi Usman, dan setelah menjadi kha­lifah tidak menangkapi mereka yang ber­salah terutama yang membunuh khalifah lanjut usia tersebut. Serangkaian pertem­puran terjadi antara Mu`awiyah dan Khali-fah Ali, dan yang terpenting adalah Perang Siffin (ada yang membaca “Saffiain”). Da-lam perang tersebut, Mu`awiyah yang hampir kalah, atas saran Amru ibnu al-As mengangkat mushaf al-Quran dengan pe­ngertian ajakan damai atas nama Allah. Pi­hak Alf menerimanya dalam pengertian yang sebenarnya, bagi Mu`awiyah hanya untuk menunda pertempuran, karena da­lam perundingan damai yang dari All di­wakili Abu Musa al-Asy`ari dan dari Mu`awiyah diwakili oleh Amru ibnu al-As, hasilnya adalah tertipunya pihak pertama oleh pihak kedua. Dalam perundingan di­setujui bahwa masalah khalifah diserahkan kepada umat Islam, sehingga Abu Musa mengumumkan pemberhentian Ali sebagai khalifah. Amru ibnu al-As yang menyusuli pengumuman Abu Musa menegaskan per­setujuannya terhadap pemberhentian Ali, tetapi menetapkan Mu`awiyah sebagai khalifah. Untuk pertama kalinya dalam se­jarah, al-Quran dimanipulasikan untuk tu­juan politik. Akibat perundingan yang me­rupakan permainan politik itu, pengikut Ali pecah, sedangkan pengikut Mu`awiyah bertambah kuat, dan akhirnya Ali dibu­nuh oleh bekas pengikutnya yang membe­rontak. Al-Hasan ibnu Ali yang dinobat­kan sebagai khalifah menggantikan ayah­nya, akhirnya menyerahkan kekuasaannya kepada Mu`awiyah setelah Mu`awiyah mengirimkan kertas kosong yang sudah di-. tandatanganinya untuk diisi oleh al-Hasan mengenai syarat-syarat penyerahan. Ta­hun 661 (41 H) Mu`awiyah datang ke Ku-fah untuk menerima penyerahan kekuasa­an secara resmi. Tahun itu disebut tahun persatuan (‘am al-jams `at), karena bersatu­nya kembali umat Islam di bawah pimpin­an seorang khalifah.

Sejak itu, Damaskus menjadi ibu kata kerajaan Arab dan wilayah taklukannya. Kesederhanaan al-Khulafa ar-Rasyidin di­gantinya dengan kebesaran raja diraja. Harta Baitul-mal bukan lagi harta kaum muslimin, tetapi harta Allah yang praktek­nya adalah milik negara atau raja. Untuk pertama kalinya dalam sejarah khalifah mempunyai pengawal yang kuat. Militer diperkuat sehingga selalu siap untuk pe­naklukan atau penumpasan musuh dalam negeri. Pos-pos penjagaan diadakan di se­tiap wilayah, sehingga masa Mu`awiyah merupakan masa paling aman di dalam ne­geri. Penaklukan keluar berhasil memper­luas yang pernah dicapai sampai masa Us-man. Ia membentuk angkatan laut yang kuat, pulau Rodus dan Cyprus ditakluk­kannya, bahkan Konstantinopel pernah dikepung oleh angkatan lautnya di bawah pimpinan putranya, Yazid. Serangan-se­rangan mendadak di daerah-daerah perba­tasan sering dilakukan sehingga musuh ter­paksa hanya bertahan.

Kedudukannya sebagai raja menjadi res­mi ketika menjelang akhir hayatnya; Mu`awiyah menunjuk putranya, Yazid, se­bagai gantinya. Tradisi ba’ yang dilaku­kannya pula ialah pemisahan antara agama di satu pihak dan pemerintahan dan ke­masyarakatan di pihak lain. Masalah ke­agamaan berkembang di luar tembok ista­na. Mu`awiyah sendiri agaknya tidak lagi menjadi imam salat sebagai pendahulu­pendahulunya. la membuat rnaviirat (ruang kecil tertutup di sebelah kin peng­imaman) dalam mesjid sebagai tempat khusus buat dia untuk salat.

Mu`awiyah adalah politikus dan negara­wan yang kebesarannya hanya dapat dika­lahkan oleh Umar ibnu al-Khattab. Ia pe­nyabar, lapang dada, pemudah, ramah ta­mah, tetapi juga Heil( bila diperlukan. Ia wafat pada usia 80 tahun setelah menjadi khalifah atau raja selama 20 tahun, dan di­makamkan di pernakaman al-Bab as-Sagir.

 

Advertisement