Advertisement

Mesjid Qairawan, adalah bangunan mesjid tertua di Afrika Utara dibangun pada 670 (50 H) oleh Uqbah bin Nafi, di­kenal secara populer sebagai Sidi Uqbah (w. 683/63 H). Penaklukan Afrika Utara semenjak masa Usman yang dipimpin oleh Ibnu Abi Sarh telah mencapai Tripolita­nia, mungkin termasuk beberapa kawasan Tuniasia. Penaklukan ini terhenti akibat krisis yang texjadi berkenaan dengan pem­bunuhan atas khalifah pada 657 (36 H). Hanya setelah Mu`awiyah bin Abi Sufyan penuh berkuasa di Damaskus reorganisasi pemerintahan dijalankan, termasuk kelan­jutan penaklukan. Dengan ditunjuknya Amru bin al-As yang berpengalaman se­bagai gubernur Mesir, penaklukan ke Afri­ka Utara dihidupkan kembali. Nama pen­ting yang dihubungkan dengan misi ini adalah Mu`awiyah bin Hudaij, seorang ko­mandan kenamaan yang memimpin pe­naklukan Afrika Utara. Namun hanyalah sewaktu pimpinan penaklukan diserahkan kepada Uqbah bin Nafi kawasan yang ke­mudian dikenal Qairawan berhasil dikua­sai. Sebagaimana lazimnya sebuah pemu­kiman barn bagi para anggota pasukan muslim, sebuah garnisun sekaligus ber­fungsi multi administrasi, militer dan aga­ma. Setelah menguasai keadaan sepenuh­nya dan mendapatkan dukungan dari kalangan luas, Uqbah membangun mesjid dan “pusat pemerintahan” (dar al-imarah) dengan memanfaatkan materi tempatan yang ada. Hal ini akhirnya memberikan mesjid tersebut karakteristik unik seban­ding dengan arsitektur Laut Tengah, walaupun tentunya sentralitas mihrab dalam mesjid tetap memberinya corak Islam yang jelas.

Mesjid Qairawan mengalami berbagai renovasi. Sulit untuk mengetahui apa dan bagaimana bentuk ash mesjid tersebut. Para ahli sepakat bahwa mesjid yang ada sekarang adalah pada dasarnya hasil reno­vasi besar-beSaran yang dilakukan pengua­sa Aglabi pada abad ke-9. Sebelum itu para gubernur yang berkuasa di Qairawan telah pula mengadakan perbaikan-perbai­kan. Umpamanya Hassan bin an-Nu`man telah •menambah.kan beberapa bangunan pada mesjid. Menara serta bangunan sebe­lah kanan mesjid diperkirakan didirikan oleh Hanzalah bin Safwan semasa peme­rintahan Hisyam bin Abdul Malik (w. 743/ 125 H). Bahkan sewaktu penguasa-pe­nguasa Aglabi Ziyadat Allah I pada 836 (221 H) mengadakan restorasi atas mesjid Qairawan, menara tersebut masih tetap di­pertahankan, atau minimal dibangun kern­bali menurut aslinya. Kesetiaan memper­tahankan denah asli ini akhirnya tidak juga mengubah kiblat mesjid yang 31 de­rajat melenceng ke selatan. Penguasa Agla­bi yang lain, Abu Ibrahim Ahmad kembali menambahkan beberapa bangunan atas struktur ahli mesjid pada 863 (248 H). Setelah itu hampir bisa dikatakan tidak ada perubahan vital dalam struktur mesjid. Namun pada masa kekuasaan dinasti Ziri di bawah al-Muizz bin Badis, sebuah maq­ surah (tempat sembahyang yang khusus dipersiapkan untuk penguasa) baru telah dibangun, sedangkan yang lama digunakan sebagai perpustakaan.

Advertisement

Sewaktu Banu Aglab semakin menik­mati otonomi, Qairawan sebagai pusat pemerintahan tentu mengalami kemajuan pesat. Di samping itu peranannya sebagai sebuah linking point dan perantara bagi perdagangan antara timur-barat dan Afri­ka-Laut Tengah telah mendatangkan keun­tungan finansial luar biasa bagi Qairawan. Peranan ini rupanya tidak berdiri sendiri, sebab sewaktu kelompok Fatimiyah me­mindahkan ibukota mereka ke al-Mandi­yah di sebelah utara, kemudian pada 973 (361 H) ke Kairo, terbukti Qairawan mengalami kemunduran sebagai pusat per­dagangan. Namun hal ini pula rupanya secara tidak langsung telah menjaga origi­nalitas mesjid Qairawan. Dengan kata lain, tidak ada sponsor yang mampu dan ber­minat mengadakan renovasi total terhadap arsitektur mesjid lama. Juga serangan terencana kaum nomad seperti Banu Hilal pada pertengahan abad ke-11 kelihatan­nya tidak merusakkan bangunan mesjid Qairawan.

Mesjid Qairawan juga memainkan pe­ranan penting dalam pendidikan. Selama abad ke-2 dan ke-3 Hijrah, Qairawan di­anggap sebagai salah satu dari tiga pusat ilmu keagamaan di samping Madinah dan Kufah. Kegiatan ilmiah para ulama ke­namaan Qairawan seperti Asad bin al-Fu­rat dan Sahnun memang sebagian besar di­lakukan di mesjid Qairawan. Sampai dewasa ini Qairawan yang memiliki puluh­an zawiyah dan mesjid, termasuk mesjid besar Qairawan, tetap dianggap sebagai pusat dan simbol keagamaan terpenting di Tunisia, kendati tidak lagi dianggap “tempat suci” seperti pada zaman pertengahan.

Advertisement
Filed under : Review,