Advertisement

Mesjid Demak, adalah mesjid kota Demak, Jawa Tengah, yang pada mulanya didirikan oleh para wali sebagai pusat ke­giatan Islam, terutama kegiatan dakwah. Konon perencanaan pendirian mesjid itu merupakan hasil musyawarah yang dipim­pin oleh Sunan Giri. Saka-saka gurunya (tiang-tiang pokok) dibebankan kepada para wali, saka-saka rawanya (tiang-tiang pembantu) dibebankan kepada para muk­min waktu itu yang tentunya belum begi­tu banyak jumlahnya, dan bahan-bahan bangunan sisanya dibebankan kepada Pa­den Patah. (Dikisahkan pula bahwa di antara saka guru ada yang dibuat dan ta­tal serpihan-serpihan kayu dan itu meni­pakan karya Sunan Kalijaga).

Mengenai tahun berdirinya mesjid, ter­dapat berbagai-bagai pendapat:

Advertisement
  1. Penentuan tahun yang didasarkan atas gambar petir di pintu masuk yang di­anggap sebagai candra sengkala memet dari “Naga Salira Ward”, yaitu 1388 Saka (1466),
  2. Penentuan tahun yang didasarkan atas gambar bulus (kura-kura) di tembok pengimaman (mihrab) mesjid yang di­tafsirkan (kepala: 1, kaki: 4, badan: 0, dan ekor: 1), yang berarti 1401 Saka (1479),
  3. Menurut tulisan Jawa yang tertulis di pintu muka bagian atas yang mengata­kan bahwa mesjid itu merupakan usaha para wali tanggal 1 Zulkaedah 1428 H (1501),
  4. Menurut kitab Babad Demak, berdiri­nya mesjid itu berdasarkan candra seng­kala “Lawang Trus Gunaning Janmi” (lawang/pintu: 9, trus/terus: 2, guna: 3, dan janma/manusia: 1, dibaca dari bela­kang) yang menunjukkan 1329 Saka atau 1407. Dengan adanya 4 pendapat yang saling berbeda ini, dirasa masih perlunya diadakan penelitian lebih Ian-jut mengenai otentisitas dokumen dan yang searti serta kredibilitas isi yang terkandung di dalamnya di samping ter­percaya tidaknya penulis sumber yang

Karakteristik dari mesjid Demak buatan para wali ini adalah beratap tumpang tiga yang konon merupakan manifestasi dari keislaman pada masa wali-wali yang lebih condong ke tasawuf. Atap pertama yang paling bawah konon melambangkan sya­riat (syari`at), tarekat (tariqat) dan haki­kat (haqiqat). Bentuk atap tumpang yang semakin ke atas semakin kecil dan tingkat teratas berbentuk limas ini mirip dengan bentuk meru di Bali yang digunakan un­tuk mengatapi bangunan-bangunan tersuci dalam pura (kuil), dan ini merupakan petunjuk bahwa Islam pada mulanya menggunakan unsur-unsur bangunan yang sudah ada terlebih dulu. Bentuk mesjid serupa ini pula yang merata terdapat di Jawa pada zaman madya, meskipun jum­lah atap tumpangnya ada yang sampai li­ma, seperti mesjid Banten. Karakteristik kedua, semula mesjid De­mak ini tidak bermenara dan begitu juga di mana pun juga di Indonesia, kecuali Banten di Jawa Barat dan Kudus di Jawa Tengah. Pemberian tanda tibanya waktu salat yang utama adalah tabuh (beduk) dan tongtong di samping azan.

Advertisement