Advertisement

Mehmed Namik Kemal, adalah penga­rang, penyair dan aktivis Turki (w. 1888) terkenal karena karya-karyanya yang mengilhami jiwa reformisme, patriotisme dan kebebasan bagi bangsanya. Namik lahir dan keluarga aristokrat. Ibunya me­ninggal pada 1848 sewaktu Namik masih berumur delapan tahun. Semenjak kanak­kanak ia mendapatkan pengaruh dan pen­didikan dan ayah dan kakeknya yang menjabat gubernur (mu tasarrif). Ia turn­buh dalam lingkungan keluarga yang me­nyenangi musik, tasawuf dan syair.

Namik memulai karirnya di Istambul. Pertama kali ia menjadi seorang sekretaris di kantor perdana menteri (Bab-i Ali). Antara 1861 sampai dengan 1867 ia men• jadi anggota Dewan Penerjemahan di Bab-i Ali, sambil ikut mengorganisir sebuah ya­yasan pendidikan Islam. Selama itu, ia sempat belajar bahasa Prancis. Ia terpaksa meninggalkan jabatan tersebut karena di­tunjuk sebagai pembantu gubernur di Er­zurum.

Advertisement

Pemikiran Namik sangat dipengaruhi oleh perubahan yang terjadi di kerajaan Usmani dengan dilancarkannya reform (Tanzimat). Berkenaan dengan itu terbit­nya beberapa koran, dan majalah yang mengumandangkan reform dan pemikiran barn seperti Terjuman-i Ahwal (1860) dan Taswir-i Efkar (1862) telah memberikan dimensi intelektual tersendiri bagi Namik. Akhirnya ia ikut aktif berpartisipasi dalam kelompok-kelompok kesusastraan, dan bahkan reform. Dalam masa inirah ia me­nulis dalam beberapa media, khususnya Taswir-i Efkar, yang secara terbuka me­ngemukakan kritik terhadap kebobrokan kerajaan Usmani. Terutama karena kri­tikannya inilah ia pada 1867 disingkirkan ke Erzurum untuk menjabat pembantu gubernur. Tetapi ia memilih untuk me­ngungsi ke Paris bersama-sama dengan ko­lega-koleganya seperti Agah Effendi, Diya Pasya, dan Su`awi yang tergabung dalam kelompok Usmani Muda. Kegiatan kelom­pok ini mendapat dukungan dari Pangeran Fadil yang sedang berupaya untuk men­diskreditkan Sultan Abdul Azis (1861­1876). Di Paris para pelarian tersebut me­nerbitkan majalah Mukhbir (Pemberita). Tetapi karena timbul perbedaan pendapat tentang sikap mereka terhadap Sultan, maka Namik pada Juni 1868 menerbitkan majalah lain Hurriyyet (Kemerdekaan). Pada Oktober 1870 Namik kembali ke Istambul setelah mendapatkan pengam­punan dan izin kembali dari Sultan. Hal ini berlaku sesudah Namik dan kolega-ko­leganya menyatakan secara terbuka ten-tang ketidakterlibatan mereka dalam kritik terhadap Sultan yang dimuat dalam Hurriyyet.

Sekembalinya ke Turki dari Paris, Na­mik terus aktif menulis dan memberikan kritik. Sebenarnya pada Juli 1872 ia di­tunjuk sebagai gubernur untuk Gallipoli, mungkin sebagai satu cara bagi Sultan un­tuk mengurangi pengaruh tulisan-tulisan­nya di ibukota, Istambul. Pada akhir 1872 ia pun dipecat. Kesempatan ini rupanya digunakan untuk mementaskan karya-kar­yanya dalam drama. Bahkan pementasan dramanya di Istambul yang berjudul Wa­tan Yakhud Silistre (Tanah Air atau Silis­tria) telah mengakibatkan pengasingan bagi dirinya dan para pendukungnya ke Siprus. Sewaktu Sultan Murad naik tahta pada 1876 Namik dan kawan-kawannya yang dipenjarakan mendapatkan pengam­punan. Namik kemudian telah ditunjuk sebagai anggota Majelis Umum yang bertu­gas menciptakan Konstitusi. Dia, di anta­ranya, menolak pencantuman pasal yang memberikan wewenang kepada sultan un­tuk mengusir siapa saja, atas dasar laporan polisi, yang dicurigai. Sultan Abdul-Hamid yang berkuasa semenjak akhir 1876 telah memerintahkan (ferman) untuk menang­kap dan menahan Namik pada pertengah­an 1877. Akhirnya ia diasingkan ke pulau Mytilene di Laut Tengah. Setelah lebih dua setengah tahun, Namik ditunjuk men­jadi pembantu gubernur di beberapa tem­pat di Kepulauan Aegea hingga ia mening­gal pada Desember 1888. Selama di kawa­san Laut Tengah Namik terus aktif mem­bela kepentingan rakyat, membenahi ad­ministrasi, memberantas ketidakberesan, membina orang-orang Islam dan mengirim­kan petisi-petisi ke Istambul.

Namik meninggalkan bermacam-macam karya tulis, syair, drama, novel, sejarah, kritik social, politik dan kebudayaan. Ham­pir semua karya-karyanya mengetengah­kan terra kebebasan, patriotisme dan re­formisme, namun semuanya selalu dikait­kan dengan konteks keislaman.

Bagi Namik, Islam adalah tidak berten­tangan dengan konsep sebuah kerajaan Usmani yang modern dan konstitusional. Menurut Namik, Islam telah menurunkan satu konsep dasar tentang demokrasi yaitu  baVah (kontrak). Rakyatlah yang menen­tukan pemimpin; kalau pemimpin gagal memenuhi tugasnya dalam mengemban amanat publik, rakyat berhak menarik kembali bai`ah yang telah diberikan. Se­bagai pedoman, pemimpin harus mentaati syariat. Berdasarkan pada syariatlah hu­kum-hukum diformulasikan oleh para ula­ma dan dilaksanakan oleh para pemimpin. Dengan demikian bagi Namik konsep pembagian dan pemisahan kekuasaan menjadi legislatif, eksekutif dan yudikatif adalah sesuai dengan spirit ajaran Islam. Memang kelebihan Kelompok Usmani Muda, termasuk Namik, adalah keberhasil­annya memasukkan unsur — atau paling tidak simbol — Islam ke dalam Konstitusi yang disahkan 22 Januari 1877. Tambah­an lagi, Namik sangat gencar mengkampa­nyekan ide partriotisme dan persatuan (nasionalisme) dalam konteks yang luas. Ia mendukung semacam ikatan pan-Isla­misme yang kemudian dipopulerkan Ja­maluddin al-Afgani. Kendati konsep Na­mik tentang “nasionalisme” ini kemudian diubah sedemikian rupa oleh Kelompok Turki Usmani dan dicampakkan oleh Ata­turk tetapi Namik tetap meninggalkan wa­risan pemikiran penting dalam konteks reform secara umum.

Advertisement