Advertisement

Maulana Malik Ibrahim, disebut juga Maulana Magribi atau Syekh Magribi, merupakan wali tertua di antara wali sanga (wali sembilan) yang menyiarkan agama Islam di Jawa Timur khususnya di Gresik, sehingga dikenal pula dengan nama Sunan Gresik. Daerah asalnya, demikian pula asal­usulnya sulit dipastikan. Menurut Stam­ford Raffles dan juga Encyclopaedie van Nederlandsch Indie, ia masih keturunan Zainul Abidin bin Hassan bin Ali_ Sumber ini diragukan kebenarannya, sebab dalam buku-buku sejarah Islam tidak pernah di­temukan nama Zainul Abidin bin Hassan (dengan s. dobel). Yang ada dan terkenal adalah All Zainal Abidin ibnu al-Husein ibnu Ali ibnu Abi Talib. Mungkin pula sa­lah ucap antara Hasan dan Husein, tetapi inipun sulit dipercaya kalau Raffles dan menulis Encyclopaedie van Nederlandsch Indie tidak dapat membedakan antara Ha­san dan Husein. Kalau penambo lain ber­pendapat bahwa ia berasal dari Persi, agak­nya tak ada mubalig dari sana yang nama­nya dihubungkan dengan kata “Magrib”. Kalau dikatakan berasal dari Magrib di Afrika Utara, dari segi hubungannya ada­lah mungkin, tetapi sudah barang tentu masih memerlukan data-data pendukung lainnya.

Konon Maulana Malik Ibrahim merupa­kan ketua rombongan mini Islam yang da­tang ke Indonesia 1379 yang dalam rom­bongan itu terdapat Raja Cermin beserta putri-putrinya yang bertujuan untuk meng­islamkan raja Majapahit. Agaknya putri tersebut dipersiapkan sebagai hadiah apa­bila misinya berhasil. Sayang usahanya gagal dan kembali ke Cermin. Letak ne­gara Cermin ini juga sulit dipastikan. Ke­banyakan ahli sejarah mengatakan bahwa Cermin itu masih di wilayah Nusantara. Sedangkan Raffles berpendapat letaknya di daerah Hindustan. Malik Ibrahim mene­tap di Gresik dengan mendirikan mesjid dan pesantren untuk mengajarkan agama Islam kepada anak negeri sampai ia wafat 1419 (882 H) dan dimakamkan di Gapura Wetan, Gresik.

Advertisement

 

Advertisement