Advertisement

Maskawaih lengkapnya Abu All Ali-mad bin Muhammad Maskawaih. adalah fi­losof muslim. Nama Maskawaih, menurut sebagian penulis masa lalu, mengacu kepa­da bapaknya, tapi menurut sebagian lagi, mengacu kepada dirinya, seperti dalam entri ini. Ia hidup pada masa pemerintah­an Banu Buwaih di Irak dan Persia. Lahir di Ray pada 940 (330 H) belajar serta me­matangkan pengetahuannya di Bagdad, dan wafat di Isfahan pada 1030 (421 H). Setelah menjelajahi hampir semua cabang pengetahuan yang berkembang di masa hidupnya, ia akhirnya lebih memusatkan perhatiannya pada falsafat etika dan seja­rah. Ia berhasil menjadi ahli terkemuka pada kedua lapangan itu. Gurunya dalam lapangan sejarah adalah Abu Bakar Ah­mad bin Kamil al-Kadi, dan dalam lapang­an falsafat adalah Ibnu al-Khammar.

Berpuluh-puluh tahun ia bekerja seba­gai pustakawan pada sejumlah wazir dan amir Bani Buwaih, yakni pada Wazir Ha­san bin Muhammad al-Azdari al-Mahlabi di Bagdad (348-352 H), Wazir Abu Fadl Muhammad ibnu al-Amid di Ray (352­360 H) dan putranya, Wazir Abu al-Fath Ali bin Muhammad (360-366 H), pada Amir Addud-Daulah bin Buwaih di Bag­dad (367-372 H) dan amir-amir ber­ikutnya. Karirnya sebagai pustakawan itu tentu memberikan kesempatan yang ba­nyak baginya untuk bertekun membaca dan menulis.

Advertisement

Tumlah karyatulisnya, menurut catat­an para penulis masa lalu, ada 18 buah judul, yang kebanyakannya berkenaan dengan jiwa dan etika. Karyatulisnya yang barn dijumpai adalah al-Fauz al-Asgar (tentang kemenangan atau keberhasilan), Tajdrib al-Umam (tentang pengalaman bangsa-bangsa sejak awal sampai ke masa hidupnya), Tallith al-A khltiq (tentang_ pendidikan akhlak), Ajwibat wa Asilat fi an-Nafs wa al-Aql (tanya Lawab tentang jiwa dan akal), al-Masall

(jawaban atas masalah yang tiga), Tahlirat an-Nafs tentang kesucian jiwa), RisNat fi al-Leiat wa al-A lam fi Jauhar an-Nafs (tentang kelezatan dan kepedih­an jiwa), dan Risfflat fi Haqiqat a-Aql (tentang hakikat akal).

Maskawih menghendaki agar sejarah ditulis dengan sikap ilmiah dan filosofis. Menurutnya, sejarah bukanlah cerita hiburan tentang diri para raja, tapi hams­lah mencerminkan struktur politik, eko­nomi, dan sosial pada masa-masa terten­tu. Ia haruslah merekam naik turunnya peradaban, bangsa-bangsa, dan negara­negara. Ahli sejarah, menurutnya, harus­lah menjauhkan diri dari kecenderungan mencampuradukkan kenyataan dengan rekaan atau kepalsuan. Ia bukan raja te­kun mencari fakta, tapi juga hams kritis dalam mengumpulkan data-data. Selain itu ia janganlah sekadar menyajikan da­ta-data, tapi haruslah memberikan tin­jauan filosofis, yakni menafsirkannya da­lam kaitan dengan kepentingan-kepen­tingan, yang merupakan sebab dominan dalam peristiwa-peristiwa sejarah. Bagi Maskawaih, tiada tempat untuk “kebe­tulan” dalam sejarah. Prinsip yang dike­mukakan filosof muslim ini, berkenaan dengan penulisan sejarah, dekat sekali dengan prinsip yang dianut ahli-ahli seja­rah modern.

Selain pandangan sejarah yang mcna­rik, ia juga menganut paham evolusi. Me­nurutnya evolusi itu berlangsung dari alam mineral ke alam tumbuh-tumbuhan se­lanjutnya ke alam hewan, dan lebih lanjut lagi ke alam manusia. Transisi dan alam mineral ke alam tumbuh-tumbuhan terja­di melalui merjan (karang), dari alam turn­buh-tumbuhan ke alam hewan melalui po­hon kurma dan dan alam hewan ke alam manusia melalui kera.

Falsafat etika, yang paling banyak men­dapatkan perhatiannya, ia tulis berdasar­kan pandangan filosof-filosof Yunani. Da-lam rangka memperkuat pendapat-penda­pat yang dikemukakannya ia sering me­ngutip ayat-ayat al-Quran, hadis-hadis Na­bi, ucapan-ucapan Ali bin Abi Talib dan Hasan al-Basri, serta syair-syair Arab.

Menurutnya, keistimewaan manusia dari binatang adalah dalam kenyataan bahwa manusia memiliki daya pikir, yang dapat membedakan yang benar dan yang salah dan yang baik dan yang buruk. Yang paling sempurna kemanusiaannya adalah siapa yang paling benar aktivitas berpikirnya dan paling mulia ikhtiamya. Manusia yang paling utama adalah siapa yang pa­ling mampu mewujudkan perbuatan per­buatan yang membedakannya dari bina­tang, dan paling kuat berpegang pada sya­rat-syarat esensil yang dimiliki secara khu • sus oleh manusia. Karena itu kata Mas­kawaih, wajiblah kita menginginkan sung­guh-sungguh kebaikan-kebaikan, yang merupakan kesempurnaan kita dan tujuan penciptaan kita, kita wajib berjuang keras semaksimal mungkin untuk meraihnya, dan menjauhi kejahatan-kejahatan.

Dalam rangka mewujudkan kebaikan­kebaikan itu, perlu manusia itu bekerja sama atau saling membantu, karena manu­sia secara sendirian tidak akan mampu me­wujudkannya. Dan itu wajiblah manusia itu saling mencintai, dan menyadari bah­wa kesempurnaan dirinya tergantung pada kesempurnaan yang lain. Bila tidak saling membantu, niscaya kebahagiaan yang da­pat dicapai tidak sempurna. Maskawaih juga mengingatkan bahwa orang-orang yang mengabaikan kebutuhan-kebutuhan di dunia ini, sebenarnya bersikap tidak adil, karena mereka menginginkan layanan tanpa memberi pelayanan. Meskipun ke­butuhan mereka sedikit, namun mereka tetap membutuhkan layanan banyak orang. Karena itu wajib bagi setiap manu­sia melayani yang lain. Bila ia banyak me­layani, maka ia dapat menuntut banyak, tapi bila ia hanya sedikit melayani, maka ia hanya dapat meminta sedikit.

Advertisement