Advertisement

Mas Mansur, K.H. dilahirkan pada 25 Januari 1896 (1236 H) di Surabaya, Jawa Timur. Ayahnya, Kiai Mas Ahmad Marzu­qi, seorang ulama terkenal di Jawa Timur dan Madura. Ibunya, Raulah, seorang wa­nita yang berkecukupan, kaya. Sebagai anak seorang ulama, sejak kecil Mas Man­sur sudah memperoleh pendidikan agama. Sekitar 1906, ketika berusia 10 tahun, ia dikirim ayahnya belajar kepada Kiai Kho­lil di Kademangan, Bangkalan, Madura. Dua tahun kemudian, 1908, Mas Mansur meneruskan pelajarannya ke Mekah. Pada 1910, ia berangkat ke Mesir untuk melan­jutkan pelajaran di al-Azhar. Selama berada di al-Azhar, selain belajar, ia mulai tertarik kepada persoalan-persoalan

poli­tik yang sedang berkembang di Mesir, ter­utama tentang pergerakan nasionalisme Mesir. Ketertarikannya kepada persoalan politik, sudah barangtentu, dilatarbela­kangi oleh kondisi tanah airnya sebagai negara jajahan. Kesadaran politik nasio­nalismenya yang mulai tumbuh di Mesir ini, menjadi bekal baginya untuk terlibat aktif dalam pergerakan nasional.

Advertisement

Setelah pecah Perang Dunia I, untuk kedua kalinya, ia bermukim kembali di Mekah selama satu tahun. Sekembali dari Mekah, ia menjadi anggota Syarekat Is­lam. Kegiatannya dalam perkumpulan ini segera menarik perhatian pimpinan. Kare­nanya, tidak mengherankan jika para ang­gota Syarekat Islam menaruh kepercayaan kepada tokoh muda agama untuk meng­angkatnya menjadi penasihat pengurus be­sar Syarekat Islam. Pada 1926 bersama de­ngan H.O.S. Cokroaminoto, ia mengha­diri Muktamar Islam di Mekah, masing­masing mewakili Syarekat Islam dan Mu­hammadiyah. Dalam Kongres Muhamma­diyah yang diselenggarakan di Yogyakarta pada 1937, Mas Mansur terpilih menjadi ketua pengurus besar (1937-1942). Pada tahun yang sama, 21 September 1937, bersama dengan K.H. Muhammad Dahlan dan Kiai Wahab Hasbullah dan NU serta W. Wondoamiseno dari Syarekat Islam, K.H. Mas Mansur (dari Muhammadiyah) mendirikan Majelis Islam Ala Indonesia (MIAI). Setahun kemudian, 1938, bersa­ma dengan Dr. Sukiman, K.H. Mas Mansur pun mendirikan Partai Islam Indonesia (PII). Puncak keterlibatannya dalam per­gerakan politik nasional adalah ketika ia menjadi anggota empat serangkai bersama dengan Ir. Soekarno, Dr. Mohammad Hat­ta, dan Ki Hajar Dewantara dalam gerakan Pusat Tenaga Rakyat (Putera).

Sebelum memasuki pergerakan politik nasional, sesungguhnya, K.H. Mas Mansur mengawali karirnya dalam dunia pendidik­an. Sekembalinya ke Surabaya dari Timur Tengah pada 1913, ia menggabungkan diri ke sekolah Nandat alWathan (ke­bangkitan tanah air) sebagai seorang guru. Di antara guru lainnya yang mengajar di lembaga pendidikan tersebut adalah Haji Abdul Wahab Hasbullah. Tidak lama ke­mudian, karena tidak setuju dengan ke­biasaan yang berlaku di sekolah tersebut, K.H. Mas Mansur pun ke luar. Agaknya, salah satu alasan utamanya adalah orienta­si sekolah tersebut yang lebih bersifat tra­disional. Padahal, K.H. Mas Mansur, seba­gaimana diketahui, adalah seorang tokoh yang memiliki pandangan luas dan lebih berorientasi modern. Bahkan, K.H. Mas Mansur tercatat sebagai salah-seorang pem­baharu yang berhasil, terutama, untuk wilayah Jawa Timur. Atas dasar itu,- ke­mudian, ia mendirikan sebuah madrasah, Hizb alWathan (partai tanah air).

Ketokohan K.H. Mas Mansur, khusus­nya dalam bidang keagamaan, setidaknya, terlembagakan sejak ia — bersama dengan Pakih Hasyim dan lainnya — mendirikan cabang Muhammadiyah di ibukota Jawa Timur, Surabaya, pada 1 Nopember 1921. Melalui organisasi ini ia banyak mencurah­kan semangat perjuangan dan orientasi pembaharuannya dalam bidang keagama­an. Karena itu, ketika ia terpilih sebagai ketua pimpinan pusat 1937-1942, Mu­hammadiyah mengalami kemajuan pesat. Kemajuan tersebut dapat dicapai — kemu­dian terkenal dengan sebutan periode Mansur bukan saja karena semangat per­juangannya, juga sikap kepemimpinannya yang khas. K.H. Mas Mansur, sebagai to­koh pergerakan nasional dan pembaharu keagamaan di wilayah Jawa Timur, wafat di pengasingan — dalam tahanan Belan­da — pada 12 April 1946 (1366 H) di Su­rabaya.

Advertisement