Advertisement

Malik bin Anas adalah seorang ulama mujtahid, pendiri mazhab Malikiyah. Nama lengkapnya: Malik ibnu Anas ibnu Amir ibnu Amru al-Asbahi al-Madani, yang terkenal dengan Imam Dar al-Hijrah (Imam kota Madinah Munawwarah). Ka­keknya yang bernama Abu Amir tersebut adalah salah seorang sahabat Rasulullah.

Ia lahir di Madinah pada 93 H, dan tidak pernah merantau ke luar dari kota tempat kelahirannya itu. Dari umur yang begitu dini, ia telah hafal al-Quran, dan telah ke­lihatan kecenderungannya kepada ilmu pengetahuan keislaman. Dari ulama-ulama kenamaan di kota Madinah, ia dalami ilmu pengetahuan keislaman, seperti dari Abdurrahman bin Harmuz, Nafi bin Abi Nuaim, Nafi maula Ibnu Umar dan Ra­biah ar-Ra’yi. Mengenai gurunya yang tersebut terakhir ini ibunya pernah me­ngatakan: “Pergilah engkau anakku (Ma­lik) kepada Rabiah. Pelajarilah sopan san­tunnya lebih dahulu sebelum engkau pela­jari ilmunya.” Dalam menuntut ilmu, ia terkenal tabah serta gigih, dan banyak penderitaan yang dilaluinya. Pada waktu ia terdesak mendapatkan uang nafkah un­tuk kepentingan menuntut ilmu, ia roboh­kan loteng rumahnya dan kayunya dijual untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Advertisement

Berbagai bidang ilmu keislaman yang dikuasainya. Tetapi yang paling disenangi dan ditekuninya ialah bidang fikih dan hadis Rasulullah. Dalam bidang fikih, ia terkenal sebagai pendiri mazhab Maliki. Dan dalam bidang hadis ia sendiri pernah berkata: “Saya telah tuliskan sebanyak seratus ribu hadis dengan tanganku ini.” Mendalami hadis dan ilmunya waktu itu sangat bergantung kepada hafalan. Ia ter­kenal sebagai seorang yang paling kuat ingatannya. Berpuluh-puluh buah hadis yang baru didengarnya dari beberapa orang gurunya, seperti dicatat oleh al-Ma­ragi dalam al-Fath al-Mubin, langsung lengket dalam ingatannya.

Ia adalah ikutan masyarakat Islam Ma­dinah pada masanya. Pribadinya menarik, karena mempunyai sifat-sifat keutamaan, seperti takwa, rendah hati, dapat diperca­ya, rajin salat berjemaah, rajin ikut serta menyembahyangkan jenazah, mengunju­ngi orang sakit dan sudah menjadi kebia­saannya membantu orang yang sedang membutuhkan pertolongannya. Ia terke­nal sebagai seorang yang rajin duduk di mesjid, di mana para muridnya duduk di kelilingnya. Dalam berbicara ia dikenal sa­ngat berhati-hati: Ia tidak mengemukakan sesuatu pendapatnya, kecuali setelah benar-benar diyakininya. Pribadinya penuh wibawa. Pada satu ketika Harun ar-Rasyid, khalifah bani Abbas, berikirim surat agar ia datang menghadapnya, namun dibalas­nya dengan jawaban bahwa ilmu itu di­datangi, bukan mendatangi. Mendengar jawaban itu, Harun ar-Rasyid segera men­datanginya. Setibanya di tempat kediam­an Imam Malik, ia mengambil tempat sebagai pembesar dan duduk menyandar ke dinding. Melihat sikap angkuh Harun ar-Rasyid itu, Imam Malik lalu menasiha­tinya: “Wahai Amir ul-Mukminin adalah termasuk menghormati Rasulullah, meng­hormati ilmu yang dibawanya.” Mende­ngar nasihat itu, Harun ar-Rasyid segera mendekat dan duduk di hadapannya.

Dalam mengemukakan kebenaran yang diyakininya, ia tidak khawatir dengan an­caman dari manapun. Pada suatu hari ia ditanya mengenai hukum suatu sumpah yang dipaksa. Dengan berani ia berfatwa bahwa sumpah seperti itu tidak sah, arti­nya tidak mesti dipenuhi. Padahal ia tahu bahwa maksud pertanyaan itu adalah me­ngenai adanya faktor paksaan atas sumpah masyarakat Madinah dalam membai`at (menobatkan) Gubernur kota itu, Ja`far bin Sulaiman. Berita itu segera diketahui oleh Gubernur dan Imam Malik pun di­panggil dan dipukul sampai babak belur. Tetapi rupanya hal itu bukanlah mengu­rangi harga dirinya di Madinah bahkan bertambah dihormati orang.

Kegiatan ilmiah yang ditekuninya, se-lain mengajar, ialah mengarang. Karyanya yang paling terkenal ialah kitab al-Muwat­ta’. Kitab lain yang menghimpun fatwa­nya ialah kitab al-Mudawanah al-Kubra, dalam bidang fikih. Dan dalam kitab itu­lah terkumpul ajaran-ajaran Imam Malik.

Imam yang dijuluki dengan Imam Dar al-Hijrah (tokoh negeri tempat hijrah Ra­sulullah) ini terkenal dengan prinsipnya bahwa suatu hadis ahad (hadis yang di­riwayatkan oleh perseorangan) yang ber­tentangan dengan praktek yang disepakati oleh masyarakat Madinah (ijmak ahli Ma­dinah), tidak dapat dijadikan hujjah

Ia berpendapat, bahwa suatu hadis yang tidak dipraktekkan oleh penduduk Madinah adalah sebagai tanda bahwa hadis itu telah dinasakhkan (dicabut hukumnya). Penduduk Madinah, begitu Imam Malik berpandangan, telah mewarisi praktek­praktek para pendahulu mereka. Dan se­lanjutnya para pendahulu mereka itu te­lah pula mewarisi praktek-praktek para sahabat yang sudah tentu mereka warisi pula dan Rasulullah. Mata rantai yang begitu sudah tentu lebih kuat dari hadis yang hanya diriwayatkan oleh pribadi­pribadi (hadis ahad). Oleh sebab itu kese­pakatan penduduk Madinah harus dida­hulukan atas hadis tersebut.

Selain itu, ia terkenal sebagai seorang yang banyak menggunakan prinsip masla­hat mursalat, yaitu suatu maslahat yang tidak terdapat dalil khusus, baik yang me­nerima atau yang menolaknya, tetapi berat dugaan bahwa dengan itu akan ter­pelihara agama, diri, akal, keturunan dan harta.

Banyak pendatang dari luar Madinah seperti Mesir, Maroko, dan Andalus yang datang belajar kepada Imam Malik. Imam Syafi`i pendiri mazhab Syafi`i itu adalah muridnya. Melalui murid-muridnya maz­hab Maliki tersebar luas di dunia Islam. Di Andalus mazhab ini pernah menjadi mazhab negara, dan sampai sekarang ia adalah mazhab panutan terbanyak pen­duduk Maroko.

Ia wafat di Madinah dalam usia 86 tahun.

Advertisement