Advertisement

Mahmud Syaltut adalah seorang ula­ma terkemUka dan Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. Ia tergolong ulama yang ber­pikiran maju dan sangat gigih berjuang untuk cita-cita pembaharuan dalam pemi­kiran Islam pada umumnya dan perbaikan al-Azhar pada khususnya. Ia lahir di desa Maniah Bath Mansur, distrik Itai al-Bairud, dalam kawasan Buhairah, Mesir, pada 1893 (1311 H) dan wafat di Kairo pada 1963 (1384 H).

Sejak usia kecil ia menunjukkan kecer­dasan yang tinggi. Ia berhasil menghafal seluruh ayat al-Quran dalam usia 13 tahun, dan menamatkan studinya dalam ilmu­ilmu keislaman di al-Azhar pada 1918 (1337 H) (dalam usia 26/25 tahun) seba­gai lulusan terbaik. Setelah itu ia sangat giat mengajar di berbagai perguruan tinggi di Mesir, aktif memberikan ceramah-cera­mah dakwah dan ilmiah, serta sibuk me­nulis karya-karya ilmiah, baik dalam ben­tuk risalah untuk diskusi atau seminar, maupun dalam bentuk buku.

Advertisement

Pemikiran-pemikirannya yang maju mu­lai menampakkan diri dengan jelas, setelah ia diangkat sebagai pengajar di Universitas al-Azhar. Ia giat membantu upaya-upaya perbaikan yang dilakukan oleh Syekh Mustafa al-Maragi, pimpinan tertinggi al­Azhar, untuk perbaikan perguruan Islam terkemuka itu. Kelihatannya pandangan­pandangan Mahmud Syaltut demikian re­volusioner, sehingga kalangan pimpinan al-Azhar tidak bisa menerimanya, dan bahkan mengeluarkan Mahmud Syaltut dan al-Azhar pada 1931 (1351 H). Ken­dati demikian ia tidak berhenti mengemu­kakan pendirian-pendiriannya dengan giat, baik secara lisan maupun tulisan. Tidak lama kemudian, ia kembali diangkat men­jadi pengajar di al-Azhar, dan diberi jabat­an sebagai Wakil Dekan pada Fakultas Syariah, di samping sebagai Pengawas pada sekolah-sekolah agamanya.

Pada 1937 (1357 H) ia selaku wakil dari al-Azhar mengikuti Kongres Interna­sionai di Den Haag (Belanda), yang mem­bicarakan berbagai perundang-undangan dalam kajian perbandingan. Pada debut internasionalnya itu ia menyajikan dengan baik risalah tentang perundang-undangan Islam dan berkat partisipasinya yang ber­hasil, kongres tersebut, berkesimpulan bahwa syariat Islam merupakan syariat yang berdiri sendiri dan pantas dijadikan surnber perundang-undangan bagi umat manusia kapan dan di mana pun mereka berada. Pada 1941 (1361 H) la diangkat sebagai anggota dalam Majelis Para Ulama Besar di Mesh, setelah ia menyajikan de­ngan baik sebuah risalah dalam sidang ma­jelis tersebut berkenaan dengan pertang­gungjawaban atas perbuatan-perbuatan sipil dan kriminil menurut ajaran Islam. Selanjutnya berkat usul-usul yang ia maju­kan, al-Azhar pada 1946 (1366 1-1)_ men­dirikan lembaga bahasa serta lembaga pe­nelitian dan kebudayaan. Karirnya terus menanjak dengan berbagai jabatan yang dipercayakan kepadanya, sedang puncak­nya adalah sebagai Syekh al-Azhar (pim­pinan tertinggi al-Azhar) sejak 1958 (1379 H) sampai ia berpulang ke rahmatullah pada 1963 (1384 H). Atas jasa-jasanya yang banyak demi kemajuan Islam, Indo­nesia melalui IAIN Sunan Kalijaga. pada 1961 (1382 H) memberikan gelar Doktor Honoris Causa kepadanya.

Di antara karya-karya tulisnya yang re­latif banyak adalah: Islam: Akidah dan Syariah, Fikih al-Quran dan Sunnah, Per­bandingan Mazhab, Fatwa-Fatwa, Bim­bingan Islam, dan .Tafsir al-Quran al-Karim. Dan karya-karya tulisnya itu, orang bisa melihat dengan mudah bahwa ia adalah seorang imam besar yang berwibawa ting­gi, lebih-lebih dalam lapangan syariat (hu­kum Islam).

Sebagai ulama yang berpandangan maju dan luas, ia tampak berupaya menjelaskan kepada umat Islam mana ajaran-ajaran yang patut dijadikan akidah atau dipan­dang sebagai kebenaran yang tidak dapat diganggu-gugat, dan mana pula yang tidak demikian. Ia mengingatkan umat tentang kemestian segenap umat .berpegang (ber­pedoman) dalam kehidupan mereka kepa­ da ajaran yang termaktub dalam al-Quran dan ajaran sunnah yang pasti berasal dari Nabi Muhammad. Kendati demikian, tidak semua maksud-maksud yang terkan­dung dalam teks-teks kedua sumber ajaran Islam itu dapat dilihat dengan terang oleh para ulama; dengan kata lain ada maksud­maksud teks yang dapat dilihat dengan te­rang dan ada pula yang tidak. Yang akhir ini telah memberikan medan yang amat luas bagi tumbuhnya keberagamaan pemi­kiran di kalangan ulama, baik berkenaan dengan akidah maupun syariah, sebagai hasil ijtihad mereka. Mahmud Syaltut mengingatkan bahwa pemahaman-pema­haman’ insani yang beragam, sebagai hasil ijtihad itu, bukanlah agama yang wajib diikuti. Siapa pun bebas memilih pendiri­an terhadap hasil ijtihad: mengikuti se­buah ijtihad atau menolaknya dan memi­lih hasil ijtihad yang lain; ia tidaklah jatuh ke dalam kekafiran karena menolak suatu ijtihad. Pendirian Mahmud Syaltut ini da­pat dilihat dalam banyak pembicaraannya. Sebagai contoh, ia membicarakan akidah sebagian ulama bahwa Nabi Isa dinaikkan ke langit dan kelak akan diturunkan lagi ke bumi di akhir zaman. Menurutnya maksud ayat-ayat al-Quran yang diguna­kan mereka sebagai dalil tidaklah terang dan pasti demikian; begitu pula hadis-ha­dis yang mereka pakai sebagai dalil, dari sudut riwayat tidaklah pasti (mutawatir) dari Nabi dan dari sudut maksudnya juga tidak pasti seperti yang mereka yakni. Oleh sebab itu akidah bahwa Nabi Isa ti­dak wafat, tapi dinaikkan Tuhan ke langit dan kemudian turun di akhir zaman, me­nurut Mahmud Syaltut, bukanlah akidah yang wajib, diimani, atau bukan akidah yang menyebabkan orang yang menolak­nya menjadi kafir.

 

Advertisement