Advertisement

Luqman al-Hakim adalah seorang arif bijaksana dan seorang wali Allah (sahabat Allah). Ahli-ahli tafsir berbeda pendapat mengenai asal-usul keturunannya. Ada yang mengatakan bahwa ia adalah ketu­runan Azar ayah Nabi Ibrahim. Berdasar­kan ini nama lengkapnya adalah Luqman ibnu Ba’ur ibnu Nahur ibnu Tarikh ibnu Azar. Ada lagi yang mengatakan bahwa ia adalah dan bangsa kulit hitam Afrika. Ter­lepas dari perbedaan pendapat itu, yang jelas dalam sejarah dicatat bahwa ia adalah berkulit hitam dan berbibir tebal, sehingga banyak mendapat cemoohan dari anggota masyarakat.

Adalah suatu kebijaksanaan Ilahi bahwa satu pribadi besar tidak diketahui secara pasti dari mana asal keturunannya. Hal itu mengandung pengertian bahwa kemuliaan tidaklah harus berdasar pada keturunan atau kaum tetapi pada ketakwaan dan ke­halusan budi pekerti. Luqman al-Hakiin adalah pribadi yang takwa dan berakhlak tinggi, bijaksana dalam menentukan jalan hidup, sehingga ia dijadikan teladan di da­lam al-Quran.

Advertisement

Pada satu hari Sald ibnu al-Musayyib, seperti diceritakan oleh Qurtubi dalam Tafsir-nya, didatangi oleh seorang berkulit hitam menanyakan tentang dirinya. Sald menjelaskan agar janganlah ia sampai me-rasa rendah diri, karena kulit hitam tidak membawa kehinaan. Tiga orang dikenal dalam sejarah sebagai orang-orang yang terpuji, walaupun mereka berkulit hitam, yaitu: Bilal bin Rabah, muazin (tukang azan Rasulullah); Mahja, salah seorang m aula Umar bin Khattab; dan Luqman al-Hakim yang berbibir tebal.

Diriwayatkan pada suatu waktu ada se­orang yang kaget begitu melihat tampang Luqman yang hitam itu. Melihat hal itu Luqman berkata menenangkan: “Walau­pun engkau -lihat kedua bibirku ini tebal, namun yang diucapkannya adalah perka­taan lemah lembut yang penuh mutiara. Dan walaupun engkau kaget melihat tam­pangku yang hitam berkilat, namun hati­ku adalah putih bagaikan kaca bersih.” Oleh karena demikian tinggi budi pekerti dan ketaatannya, ia diberi Allah gelar al-Hakim, yaitu seorang arif bijaksana, se- hingga setiap ucapan dan perbuatannya mengandung hikmah-hikmah kebijaksa­naan.

Syekh Hasanuddin dalam bukunya Anekdot Kehidupan Luqman al-Hakim menceritakan, bahwa pada satu hari istri majikan Luqman al-Hakim jengkel kepa­da suaminya. Lalu suaminya itu segera mencari makanan juadah untuk mem­bujuk istrinya itu. Setelah mendapatkan juadah, kepada Luqman ia berkata: “Per­gilah engkau pulang membawa makanan ini dan berikan kepada kesayanganku.” Luqman segera pulang membawa makan­an itu dan memberikannya kepada seekor anjing kesayangan majikannya. Waktu ma­jikannya pulang, bertanyalah ia kepada istrinya, apakah ia ada menerima kiriman juadah yang dibawakan Luqman. Istrinya menjawab,. bahwa Luqman tidak memba­wa apa-apa untuknya. Dengan berang ma­jikan memanggil Luqman dan menanya­kan kepada siapa juadah itu ia berikan. Luqman menjawab: “Juadah itu aku beri­kan kepada kesayangan tuan sebagaimana tuan pesankan, yaitu anjing tuan. Anjing adalah hewan yang patut disayangi. Ia tahan menderita dan tahan dihina. Sekali­pun tuan memukulnya, namun ia tidak akan meninggalkan tuan. Adapun istri tuan itu, pada hakikatnya bukanlah ke­sayangan tuan yang sejati, karena sering ia minta dicerai tanpa sesuatu sebab.”

Qurtubi menceritakan dalam Tafsir-nya bahwa setelah Luqman menjadi terkenal, ada seorang yang bertanya kepadanya: “Bukankah engkau ini yang pernah menja­di hamba sahaya si pulan?”

Luqman menjawab: “Benar.”

“Lalu apa yang membuat engkau terke­nal?” lanjut lelaki itu.

Luqman menjawab: “Kekuasaan Allah! Aku adalah seorang yang selalu menunai­kan amanah, berkata benar dan mening­galkan sesuatu yang tidak berfaedah.”

Khalid ar-Rab`i berkata, lanjut Qurtubi, bahwa satu hari Luqman disuruh majikan­nya menyembelih seekor kambing dan mengambil dagingnya yang terbaik untuk jamuan bagi tamu. Luqman lalu segera pergi mernbeli clan menyembelih kambing yang dimaksud dan mengambil lidah dan hatinya, dan langsung dibawa pulang. Se­telah dimasak dan disajikan, ternyata ma­jikannya tidak menyukainya. Dengan jengkel majikan menanyakan mengapa li­dah dan hati yang dipliih Luqman. Yang terakhir ini menjelaskan bahwa tidak ada daging yang lebih baik selain lidah dan ha-ti. Selanjutnya majikan itu sekali lagi me­nyuruh Luqman menyembelih kambing dan agar dibuang dagingnya yang paling jelek. Mematuhi perintah majikannya itu Luqman segera melakukannya dan setelah kambing disembelih, ia langsung mem­buang hati dan lidahnya. Setelah mengeta­hui perbuatan Luqman itu, majikan lalu bertanya: “Apa tujuanmu wahai Luqman? Dulu aku suruh engkau mengambil daging yang terbaik, lalu engkau ambil hati dan lidahnya. Sekarang aku suruh engkau membuang daging yang terjelek, lalu eng­kau buang hati dan lidahnya.”

Luqman menjelaskan: “Tidak satu pun yang lebih baik dari hati dan lidah apabila keduanya digunakan kepada yang baik, dan tidak ada satu pun yang lebih jelek daripada hati dan lidah, apabila keduanya digunakan kepada sesuatu yang tidak baik.”

Luqman al-Hakim satu pribadi besar dan mulia yang diakui oleh Allah. Dalam al-Quran didapati satu surat yang disebut dengan surat Luqman. Nasihat-nasihat ke­manusiaan Luqman al-Hakim diakui ,oleh Allah di dalam al-Quran sebagai nasihat yang Qurani, yang seharusnya menjadi pedoman terutama bagi orang tua dan ahli didik. Di antara nasihatnya yang terkenal terdapat dalam ayat 17 surat Luqman yang artinya: “Wahai ,anakku, dirikanlah salat, suruhlah orang berbuat baik, cegah­lah perbuatan buruk, dan bersabarlah atas sesuatu yang menimpa dirimu, sesungguh­nya sikap yang demikian itu adalah ge­suatu yang dicita-citakan.”

Advertisement
Filed under : Review,