Advertisement

MENGENAL KUDADU – Sebuah desa di Gunung Penanggungan, Jawa Timur, menjadi tempat pengungsian Raden Wijaya setelah Singasari jatuh karena diserang oleh Raja Kediri Jayakatwang. Menurut Prasasti Gunung Butak yang terdapat di Mojokerto, nama Kudadu merupakan anugerah ketika Raden Wijaya sudah menjadi Raja Majapahit pertama. Prasasti itu dibuat oleh Raja Kertarajasa Jayawardana, yakni nama Abiseka Raden Wi­jaya pada tahun Saka 1216 atau 1294 M. Piagam itu sekarang lebih dikenal dengan nama Piagam Kudadu.

Dalam piagam itu diceritakan rasa terima kasih Ra­ja Kertarajasa kepada kepala dusun Kudadu yang per­nah menerimanya dengan ramah-tamah, sewaktu raja singgah di dusun tersebut dalam perjalanannya menu­ju Madura. Ia serta pengikutnya merasa tertimpa ba­haya yang sangat besar. Pada saat seperti itu, kepala desa Kudadu menerimanya dengan ramah, memberi­nya minuman dan makanan, juga menyediakan tem­pat sembunyi agar tidak diketahui oleh musuh yang mencarinya. Kemudian ia diantar sampai Rembang, untuk melanjutkan perjalanannya ke Madura. Sebagai rasa terima kasih atas sambutannya itu, raja menge­luarkan piagam yang menyatakan bahwa seluruh ta­nah Kudadu diberikan kepada ketua desa dan diberi status merdeka, bebas dari segala pajak, yang dapat diwariskan untuk keturunannya. Secara terperinci ta­pal batas desa itu dinyatakan dalam piagam, guna menghindari sengketa dengan daerah tetangga di ke­mudian hari.

Advertisement

Menurut para arkeolog, apa yang diceritakan dalam Piagam Gunung Butak atau Piagam Kudadu ini pada dasarnya sama dengan apa yang terbaca dalam Ki­dung Panji Wijayakrama Pupuh 1/106-115. Yang ber­beda hanya nama dusunnya. Panji Wijayakrama me­nyebut Dusun Pandak, sedangkan Piagam Gunung Butak menyebut Dusun Kudadu. Dengan kata lain, Dusun Kudadu yang disebut dalam Piagam Gunung Butak tidak lain adalah Dusun Pandak yang disebut dalam Panji Wijayakrama.

Advertisement