MENGENAL KRESNA

adsense-fallback

MENGENAL KRESNA – Lazim pula disebut Sri Kresna atau Prabu Kresna. Dalapi pewayangan di Indonesia, kadang-ka­dang ia disebut pula Batara Kresna, karena raja DwaT rawati itu merupakan titisan Batara Wisnu. Karena itulah dalam keadaan terdesak, ia dapat melakukan tiwikrama, yakni mengubah diri menjadi raksasa yang amat besar, sakti, dan tanpa lawan.

adsense-fallback

Kresna adalah putra kedua Prabu Basudewa dari negeri Mandura. Kakaknya bernama Baladewa. yang setelah dewasa mewarisi kedudukan ayahnya sebagai raja. Adiknya, yang bernama Subadra atau Bratajaya, diperistri oleh Arjuna. Pada masa kanak-kanak mere­ka bertiga diasuh oleh Demang Antagopa dan Nyai Sagopi di Kademangan Widarakandang.

Raja berkulit hitam itu mempunyai empat orang is­tri. Istrinya yang pertama bernama Dewi Jembawati, putri seorang pendeta berwujud kera, Kapi Jemba- wan. Mereka mendapat seorang putra yang diberi na­ma Samba. Istrinya yang kedua bernama Dewi Ruk- mini, putri Prabu Rukma dari negeri Kumbina. Dari perkawinan ini mereka memperoleh seorang putri cantik bernama Siti Sundari, yang sesudah dewasa diperistri oleh Abimanyu, putra Arjuna. Setyaboma adalah istrinya yang ketiga, putri Prabu Setyajid dari negeri Lesanpura. Darinya Kresna mendapat seorang putra yang diberi nama Setyaka. Istrinya yang keem­pat bernama Dewi Pratiwi, putri Sang Hyang Antabo- ga dari Saptapertala. Dari istri ini, Kresna mendapat seorang putra yang diberi nama Boma atau Bomanta- ra. Karena sengketa perbatasan wilayah, Boma ber­selisih dengan Gatotkaca. Akhirnya anak Kresna itu mari ‘ialam perkelahian dengan Gatotkaca.

Prabu Kiesna memiliki senjata pusaka berupa anak panah bernama Cakra. Dalam pewayangan mata pa­nah Cakra berwujud roda bergerigi. Senjata pemus­nah yang merupakan senjata titisan Dewa Wisnu itu mempunyai banyak kegunaan, tergantung pada kema- uan pemiliknya. Selain itu Kresna juga mempunyai ajimat bernama bunga Wijayakusuma yang berkha­siat dapat menghidupkan orang mati, asal orang itu belum sampai pada takdirnya. Kresna juga memiliki kemampuan mengetahui segala hal yang akan terjadi.

Prabu Kresna pernah menjadi utusan Pandawa gu­na merundingkan pengembalian negara Astina. Kres­na datang ke Astina- dan berunding dengan Kurawa yang dipimpin oleh Duryudana. Perundingan itu ga­gal, bahkan Kresna lalu dikepung. Pada saat itulahKresna lalu bertiwikrama, sehingga Kurawa mohon ampun.

Menjelang pecahnya Baratayuda, yaitu perang be­sar antara keluarga Kurawa dan Pandawa yang meli­batkan banyak negara, Kresna menjadi rebutan. Baik Kurawa maupun Pandawa minta agar Kresna memi­hak pada mereka masing-masing. Kresna kemudian mempersilakan Duryudana sebagai pimpinan Kurawa untuk memilih: seluruh pasukan yang dimiliki negara pwarawati lengkap dengan segala persenjataannya, atau diri Kresna sendiri selaku pribadi, tanpa senjata apa pun. Duryudana memilih yang pertama. Dengan demikian, Arjuna yang mewakili Pandawa mendapat kepastian bantuan Kresna secara pribadi. Jadi dalam Baratayuda, Kresna berada di pihak lawan dari tenta­ranya sendiri.

Peranan Kresna dalam membantu Pandawa ter­nyata amat menentukan dalam mencapai keme­nangan. Kresna bertindak sebagai penasihat, pendam­ping spiritual, pengatur siasat, dan kadang-kadang juga membantu peperangan secara langsung, jika ban­tuan itu tidak terlihat secara mencolok.

Misalnya, di tengah berlangsungnya perang, Arju­na merasa ragu dan patah semangat karena ia sadar bahwa dalam peperangan itu ia terpaksa berhadapan dengan saudara serta gurunya sendiri. Kresna dengan bijaksana memberi nasihat yang memulihkan sema­ngat Arjuna. Nasihat Kresna ini terangkum dalam Ba- gawad Gita.

Pada hari tuanya, Kresna hidup dengan jiwa yang menderita. Seluruh keturunan dan bangsanya punah karena berkelahi satu sama lain. Kresna lalu mengem­bara dan akhirnya bertapa. Namun seorang pemburu tanpa sengaja telah melepaskan panah dan mengenai kakinya hingga ia tewas.

Dalam pewayangan di Indonesia, terutama di Pulau Jawa, tokoh Kresna mempunyai sifat dan peng­gambaran yang berlainan dengan tokoh Khrisna da­lam Mahabarata yang asli. Dalam Mahabarata, Khris­na dilukiskan sebagai perwujudan Dewa Wisnu di dunia, sehingga sifat-sifat Wisnu sebagai dewa lebih menonjol daripada sifat manusianya. Dalam pewa­yangan, Kresna adalah seorang raja, manusia, yang di­tirisi oleh Wisnu. Jadi sifat manusiawinya lebih me­nonjol. Sifat Wisnu hanya muncul pada keadaan- keadaan tertentu saja.

Itulah sebabnya dalam pewayangan di Indonesia Kresna kadang-kadang dirasa bersifat licik oleh peng­gemar wayang. Siasat Kresna memperdayakan Bambang Ekalaya sehingga tewas, dan usaha Kresna membantu anaknya. misalnya, mencerminkan sifat Kresna sebagai manusia.

 

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback