Advertisement

Ki Hajar Dewantara dilahirkan pada 2 Mei 1889 (1303 H) di Yogyakarta. Ki Hajar Dewantara, yang nama aslinya Suwardi Suijaningrat, keturunan Paku Alam. Ayah­nya, Suryaningrat, putra Paku Alam III. Sebagai seorang keluarga ningrat, pendi­dikan dasarnya diperoleh di sekolah ren­dah Belanda (Europeesche Lagere School, ELS). Kemudian, ia melanjutkan ke Seko­lah Guru (Kweek School); tetapi sebelum sempat menyelesaikannya, ia pindah ke STOVIA (School tot Opleiding van In­dische Artsen). Rupanya, di sekolah ini pun is tidak sempat menamatkan pendi­dikannya, dikarenakan ayahnya mengalami kesulitan ekonomi. Sejak itu, ia memilih terjun ke dalam bidang jurnalistik, suatu bidang yang kelak mengantarkannya ke dunia pergerakan politik nasional.

Pada 1912, sesungguhnya, Ki Hajar De­wantara termasuk tokoh muda Indonesia yang mendapat perhatian Cokroaminoto untuk memperkuat barisan Syarekat Islam cabang Bandung. Karena itu, bersama de­ngan Wingnyadisastra dan Abdul Muis, yang masing-masing diangkat sebagai ke­tua dan wakil, Ki Hajar Dewantara diang­kat sebagai sekretaris. Namun keterli­batannya di Syarekat Islam ini relatif cukup singkat, tidak genap satu tahun. Karena, sebagaim ana diketahui, bersama  dengan E.F.E. Dowes Dekker dan Cipto Mangunkusumo, ia diasingkan ke Belanda (1913) atas dasar orientasi politik mereka yang cukup radikal. Selain alasan tersebut, Ki Hajar Dewantara pun, jauh lebih meng­aktifkan dirinya di Indische Partij yang didirikan pada 6 September 1912. Berda­sarkan latar belakang ini, sesungguhnya, Ki Hajar Dewantara tidak pernah menjadi tokoh penting di lingkungan Syarekat Islam.

Advertisement

Ki Hajar Dewantara, sebagai tokoh per­gerakan politik dan tokoh pendidikan nasional — yang ditandai oleh upayanya mendirikan sekolah dan sistem pendidikan Taman Siswa pada 1922 — wafat pada 26 April 1959 (1376 H). Karena jasanya yang demikian besar dalam dunia pendidikan nasional, tanggal kelahirannya, 2 Mei, di­jadikan sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Advertisement