Advertisement

Khaidir adalah seorang nabi, dan ada yang mengatakan bahwa ia hanya seorang wali Allah (sahabat Allah yang dekat kepa­da-Nya). Namanya Balyan bin Malkan. Nama-nama lain baginya ialah Ilya, al­Muammar, Armiya, Balya, Ibliya, Amir dart Ahmad. Gelarnya yang paling populer terutama di kalangan sufi ialah al-Khidr. Masyarakat muslimin di Indonesia menye­butnya Khaidir. Al-Khidr dalam bahasa Arab berarti hijau. la digelari karena, disebut di dalam sebuah hadis, bahwa pada suatu waktu ia tinggal di satu tempat yang tandus. Setelah beberapa waktu tempat itu pun menjadi hijau di­tumbuhi tumbuh-tumbuhan.

Khaidir lahir, seperti diceritakan oleh Ibnu Jarir at-Tabari dalam atTdrah, pa­da masa Raja Afridun ibnu Asfiyan, raja Persi pada masa Nabi Musa.

Advertisement

Ulama berbeda pendapat, apakah ia se­orang nabi, atau hanya seorang wali Allah. Menurut kebanyakan ulama tafsir, ia ada­lah seorang nabi. Pendapat ini didasarkan atas ayat 65 surat al-Kahfi yang menjelas­kan bahwa Allah memberikan rahmat ke­padanya. “Rahmat” dalam ayat tersebut dipahami sebagai wahyu dan kenabian, se­perti yang dijelaskan di dalam Tafsir an­Nasafi. Di kalangan sufi ia dikenal sebagai seorang wall Allah, seperti disebutkan di dalam kitab Ruh al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an.

Menurut ahli-ahli tafsir, di antaranya Ibnu Kasir di dalam buku tafsirnya al­Khaidir inilah yang dimaksud dengan al­`abda,ssalih yang ditemui Musa seperti diceritakan di dalam al-Quran, surat al­Kahfi. Hal tersebut disepakati oleh kalang­an ahli di luar Islam, seperti dalam agama Yahudi.

Perbedaan pendapat antara Islam dan Yahudi menurut ulama tafsir ialah tentang siapa sebenarnya Musa yang bertemu de­ngan Khaidir itu. Menurut pandangan Islam, seperti ditemui dalam buku-buku tafsir, bahwa Musa yang bertemu dengan Khaidir itu ialah Musa bin Imran, Rasulul­lah yang kepadanya diturunkan kitab at­Taurat, sedangkan menurut Yahudi, bukan Nabi Musa bin Imran, tetapi Musa bin Maisya bin Yusuf bin Yequb. Diriwa­ yatkan bahwa Yusuf mempunyai dua orang anak, pertama bernama Maisya dan kedua bernama Afrisin. Anaknya yang bernama Maisya tersebut mempunyai putra bernama Musa yang mendapat rah-mat kenabian sebelum lahirnya Nabi Musa bin Imran. Nabi Musa bin Maisya inilah menurut kalangan Yahudi yang bertemu dengan ,as-salih (Khaidir) yang di­ceritakan dalam kitab suci. Kalangan Ya­hudi berkeberatan jikalau Nabi Musa bin Imran belajar kepada orang lain sesama manusia. Khaidir, walaupun diakui kena­biannya di kalangan mereka, tetapi tidak­lah sampai ke derajat kenabian Musa bin Imran.

Pandangan Islam yang tersebut di atas didasarkan atas satu hadis yang menyata­kan bahwa pada satu waktu Nabi Musa bin Imran berpidato memberi pelajaran agama di hadapan khalayak bath Israil sampai orang meneteskan air mata. Sete­lah ia selesai berbicara, seorang lelaki ber­diri dan bertanya: “Ya Rasulullah, apakah ada di muka bumi yang lebih alim dari­padamu?”

Nabi Musa menjawab : “Tidak.” Allah membantah pernyataan Musa itu dan memberitahukan bahwa ada di antara ma­nusia yang lebih tinggi pengetahuannya terbanding Nabi Musa. Dengan petunjuk Allah, ia berangkat menuju satu tempat di tepi laut, di mana ia bertemu dengan al­abd as-salih (surat al-Kahfi).

Diceritakan, setelah selesai pertemuan bersejarah antara dua orang hamba yang dikasihi Allah itu, Nabi Musa mohon nasi­hat dari Khaidir. Lalu yang terakhir ber­kata: “Jadilah engkau seorang yang ber­manfaat bagi manusia, dan janganlah men­jadi seorang yang mendatangkan mala­petaka. Jadilah engkau seorang yang ber­manis muka, dan janganlah bersikap pem­berang. Buanglah sikap bermusuhan dan janganlah berpergian tanpa ada kebutuh­an. Janganlah suka menyebut kesalahan orang lain, tetapi sadarilah kesalahanmu sendiri.” Selanjutnya Nabi Musa bertanya: “Dengan apa. Allah rida memperlihatkan yang gaib kepadamu?”

Khaidir menjawab: “Dengan menjauhi maksiat.” percayaan sepenuhnya kepadanya. Misal­nya, setahun setelah ia menyatakan keis­lamannya, pada 9 H, ia dipercayakan un­tuk memimpin pasukan kaum muslimin ke Daumat al-Jandal guna menyongsong pasukan laskar Romawi yang telah siap menggempur kaum muslimin di perbatas­an Palestina.

Rupanya, Khalifah Abu Bakar as-Siddik pun kemudian meneruskan kepercayaan Nabi terhadap Khalid untuk melanjutkan perjalannya ke Hirah, perbatasan Irak se­belah Utara sungai Efrat. Setelah itu, dite­ruskannya sampai ke Syam dan Palestina. Akan tetapi Khalifah Umar mempunyai pandangan dan kebijaksanaan yang berbe­da terhadap Khalid. Kepanglimaannya yang sangat cakap dan perkasa dicopot Umar, dan digantikan oleh Abu Ubaidah. Kebijaksanaan Umar ini sempat mengaget­kan kaum muslimin, namun samasekali ti­dak membuat Khalid patah semangat un­tuk tetap terlibat bersama kaum muslimin di medan perang. Ketika ditanyakan orang tentang pemecatannya, ia menjawab, “Aku berperang karena Allah, bukan kare­na Umar.”

Menurut suatu analisa mengapa Umar memecat kepanglimaan Khalid adalah ka­rena Umar khawatir terhadap kecakapan Khalid justeru akan menimbulkan otoritas kepemimpinan yang terpecah. Sehingga, Umar tidak menghendaki kaum muslimin terbingungkan oleh instruksi, siapa, khu­susnya dalam bidang kemiliteran, kelak yang harus dipatuhi manakala terjadi per­bedaan pandangan antara Umar dengan Khalid. Untuk menghindari kemungkinan semua ini, Umar terpaksa harus memecat kepanglimaan Khalid bin Walid sang Pe­dang Allah. Khalid wafat pada 652 (21 H) di Hims atau Madinah.

 

Advertisement