Advertisement

Kesultanan Johor, adalah Kerajaan Islam di semenanjung tanah Melayu (seka­rang: Malaysia Barat) yang didirikan oleh Raja Ali, putra Sultan Mahmud Syah, raja terakhir kerajaan Malaka yang jatuh ke ta­ngan Portugis 1511. Setelah berpindah da­ri satu tempat ke tempat lain untuk meng­hindari kejaran Portugis, Sultan Mahmud Syah sampai ke Kampar yang rajanya di­asingkan oleh Portugis ke Goa. Oleh te­tua kerajaan Kampar, ia diangkat sebagai raja, tetapi 1529 ia wafat digantikan oleh Raja Ali dengan gelar Sultan Alauddin Riayat Syah II (yang pertama adalah raja Malaka). Kampar ia tinggalkan, menuju Pahang yang diperintah oleh sepupunya, Sultan Mansyur Syah, kawin dengan putri raja itu, Putri Kusuma Dewi, kemudian menuju Johor, dan memerintah negeri itu antara 1529-1550. Penggantinya sebagai raja Johor II adalah putranya, Sultan Muzaffar Syah. Istananya dipindahkan ke Kota Batu Selujut, dan di sinilah ia mangkat setelah sebelumnya mendapat se­rangan dan Portugis. Penggantinya adalah Sultan Abdul Jalil I, kemenakan Muzaffar Syah, tetapi meninggal ketika baru berusia 9 tahun. Penggantinya adalah Raja Umar, ayah Abdul Jalil I dengan gelar Abdul Jalil Riayat Syah II. Pada masa pemerintahan-

nya, pusat kerajaan dipindahkan ke Batu Sawar, dan ketika diserang oleh Portugis, Batu Sawar dapat dipertahankannya se­hingga Portugis terpaksa kembali ke Mala­ka dengan kerugian besar. Pusat kerajaan dipindah lagi ke Sungai Damar dan nama negeri itu diganti menjadi Makam Tauhid. Mesjid besar dan surau-surau didirikan, dan kepada rakyat ditanamkan akan ba­haya Portugis. Oleh karena itu, dua kali serangan Portugis ke kota itu dapat di­tangkis dengan menimbulkan banyak ke­rugian di pihak penyerang. Pada masa pe­merintahan raja ini, kerajaan Johor meng­alami zaman keernasannya, sampai ia mangkat 1597. Ia digantikan oleh putra­nya, Alauddin Riayat Syah III (1597­1615). Karena raja ini kurang sekali perha.- tiannya terhadap pemerintahan, pemerin­tahan sehari-hari dilakukan oleh adiknya Raja Abdullah. Tahun 1602, untuk perta­ma kalinya Belanda di bawah pimpinan van Heemskerck mengadakan hubungan dagang dengan Johor. Ketika 1603 Johor diserang Portugis, Belanda datang mengha­launya sehingga hubungannya dengan Jo­hor bertambah erat. Tahun 1606, datang pula armada kapal Belanda yang lebih be­sar dipimpin oleh Admiral Cornelis Mate-lief untuk menyampaikan perjanjian da­gang baru dan tentang Malaka yang dikua­sai Portugis. Sementara itu Portugis yang menyadari kelemahannya dalam mengha­dapi Belanda, menawarkan kepada Johor perjanjian yang lebih menguntungkan da­ripada yang dijanjikan Belanda, sehingga Johor menerima tawarannya dan modal sebesar 10.000 dolar dibekukan. Beberapa tahun kemudian ada pula usaha Belanda untuk mencairkan modalnya di Johor ter­sebut, tetapi tidak berhasil. Dalam pada itu, Sultan Iskandar Muda di Aceh yang tidak senang melihat Johor bersahabat de­ngan Portugis maupun Belanda, menyerbu Johor 1613. Sultan Alauddin Riayat Syah beserta adiknya dibawa ke Aceh, tetapi se­tahun kemudian dikembalikan ke Johor dan memerintah di bawah naungan Aceh, sedangkan adiknya, Raja Abdullah, dika­winkan dengan adik Sultan Iskandar Mu­da. Tahun berikutnya ketahuan bahwa Jo­hor bekerjasama dengan Pahang guna menjalin persahabatan dengan Portugis. Oleh sebab itu, 1615 Aceh kembali -me­nyerbu Johor, Sultan Riayat Syah yang sudah menyingkir dikejar terus sampai ter­tangkap, dibawa ke Aceh dan dihukum mati. Raja Abdullah diangkat sebagai gan­tinya, tetapi harus tetap tinggal di Aceh, dan 1623 ia diusir pula, menyingkir ke Tembelaan dan mangkat di sana.

Advertisement

Dengan mangkat Sultan Iskandar Muda, Johor terlepas dari genggaman Aceh, dan dengan mangkatnya Raja Abdullah, naik tahtalah putra Riayat Syah III, Sultan Ab­dul Jalil Syah III yang pada 1639 dihu­bungi oleh Belanda untuk bersama-sama merebut Malaka dari tangan Portugis. Ta­hun 1640, persekutuan itu berangkat me­nuju Malaka. Pertempuran sengit terjadi, dan akhirnya jatuhlah benteng Portugis di Malaka 1641 setelah dikuasainya selama 130 tahun. Malaka dikuasai oleh Belanda, dan sebagai imbalannya, kedaulatan Johor dihormati, bahkan Belanda menjadi pen­damai antara Johor dan Aceh. Akhirnya, Sultan’ Abdul Jalil Syah III mangkat 1673 pada waktu Jambi menyerang Johor. Penggantinya adalah keluarganya dari Pa­hang, Raja Ibrahim, yang lalu bergelar Sul­tan Ibrahim Syah I (1673-1685) dan pu­sat pemerintahannya dialihkan ke Bintan (Riau). Dan Bintan ini, Johor dapat dire-but kembali dari tangan Jambi, dan dires­mikanlah dia sebagai Sultan Johor, Pa­hang, Riau dan Lingga. Penggantinya ada­lah putranya, Sultan Mahmud Syah II (1685 —1699) yang berperangai buruk, se­hingga dibunuh oleh seorang pembesar ke­rajaan, Megat Srirama, karena istrinya di­suruh dibunuh oleh raja hanya karena istri yang sedang ngidam ini memakan nangka di kebun kerajaan. Dengan mangkatnya Sultan Mahmud Syah II ini, habislah ketu­runan raja-raja Malaka yang memerintah Johor.

 

Advertisement