Advertisement

Kesultanan Cirebon, adalah kerajaan Islam di ujung timur Jawa Barat yang ber­sama dengan Banten di ujung baratnya di­rintis oleh Fatahillah yang juga bernama Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Tahun 1552, Banten diserahkan kepada putranya, Hasanuddin, dan ia pindah ke Cirebon sampai wafatnya 1570. Cirebon yang semula merupakan desa nelayan itu, lalu terkenal dengan kesultanan dan raja­nya yang pertama adalah putra Sunan Gu­nung Jati di Cirebon, Pangeran Pasarean. Kemudian memerintah berturut-turut: Pangeran Dipati Ratu, Pangeran Dipati Anom Carbon, dan Panembahan Girilaya. Panembahan Girilaya berputra 3 orang: Pangeran Martawijaya, Pangeran Kaita­wijaya dan Pangeran Wangsakarta. Agak­nya sudah sejak berdirinya Mataram, Cirebon berada di bawah pengaruh Mata­ram. Pada waktu Mataram diduduki oleh Trunojoyo 1677 (lihat: Trunojoyo, Pe-rang), ketiga putra Sultan Cirebon terse-but berada di Mataram, lalu dibawa oleh Trunojoyo ke Kediri, tetapi ketiganya me­larikan diri ke Banten yang waktu itu rajanya adalah Sultan Ageng Tirtayasa dan se­dang konflik dengan putranya Sultan Ha­ji. Oleh Tritayasa, ketiganya disuruh kern­bali ke Cirebon dan membagi kekuasaan di Cirebon dengan adil, tetapi persahabat­an dengan Belanda hendaknya dihindari. Kesultanan Cirebon yang pusat keratonnya adalah Pakungwati dipecah dua: Kasepuh­an dan Kanoman.

Pangeran Martawijaya menjadi Sultan Sepuh I dengan gelar Sul­tan Raja Syamsuddin; Pangeran Wangsa­karta menjadi wakilnya (habis sampai dua keturunan) dengan gelar Panembahan Toh Pati. Pangeran Kartawijaya menjadi Sul­tan Anom I dengan gelar Sultan Muham­mad Badruddin. Setelah Sultan Kanoman I wafat, Kesultanan Kanoman dipecah dua pula: Kesultanan Pangguran yang berpusat di Gedung Keprabonan dengan sultan­nya Rama Guru Pangeran Raja Adipati Keprabonan dan Kesultanan Kanoman dengan rajanya Sultan Anom Raja Madu­reja Kadiruddin yang juga bergelar Pange­ran Raja Madenda. Tahun 1681, Cirebon terpaksa menandatangai perjanjian dengan Belanda dan sejak itu Belanda memegang monopoli dagang. Kekuasaan Cirebon ma-kin lama makin dipersempit dan pada 1700 Belanda mengangkat seorang resi­den, Jacob Palm, untuk pertama kalinya. Sejak itu, kekuasaan Cirebon dapat dika­takan tak ada lagi. Tahun 1788, Cirebon berontak melawan Belanda di bawah pim­pinan Mirsa yang mendapat bantuan para guru agama, tetapi dapat dipatahkan Be­landa. Tahun 1793, 1796, dan yang terbe­sar 1802, Cirebon berontak pula, tetapi semuanya dapat dipadamkan oleh Belan­da, bahkan gelar Sultan pun tak boleh di­pakai lagi.

Advertisement

Advertisement