Advertisement

Kesultanan Brunei, kini secara resmi dikenali sebagai Negara Brunei Darussalam dengan Bandar Seri Begawan sebagai ibu­kota. Wilayahnya meliputi 5,765 km2, berpenduduk 227.000, termasuk 27.000 yang bukan warga negara. Bangsa Melayu merupakan kelompok mayoritas, dan se­muanya beragama Islam.

Brunei merupakan sebuah kerajaan tua di kepulauan Nusantara. Sumber Cina 860 (246 H) menyebutnya Po-ni dan nama ini terus digunakan sehingga abad ke-15. Pra­panca dalam Negarakertagama 1368 (769 H) menyebutnya sebagai Buruneng/Buru­ne.

Advertisement

Semasa zaman keemasannya pada awal abad ke-14 Brunei menguasai keseluruhan kepulauan Filipina dan pantai utara Kali­mantan. Pada pertengahan abad itu Brunei ditaklukkan Majapahit, dan kemudian penguasa Sulu juga merebut kepulauan

Hanya pada abad ke-16 Brunei kembali menjadi kuat dan memulihkan kekuasaannya atas negeri-negeri yang per­nah tunduk kepadanya. Zaman keemasan kedua ini mulai mengalami kemunduran terutama dengan kehadiran Spanyol di Fi­lipina dan kemudian Inggris di Selat Mala­ka. Menjelang abad ke-20 Brunei sudah menjadi sebuah kesultanan yang berwila­yah kecil, seperti keadaannya sekarang. Keseluruhan kepulauan Filipina jatuh ke tangan Spanyol (kemudian Amerika Seri­kat), sedangkan pantai utara Kalimantan dikuasai lnggris. Pada 1906, Brunei akhir­nya jatuh di bawah perlindungan Inggris. Kedudukan ini berubah sedikit pada 1959 sewaktu Perlembagaan (Konstitusi) diper­kenalkan. Ia memberi Brunei taraf peme­rintahan sendiri. Pada 1 Februari 1984, Brunei memperoleh kemerdekaan sepe­nuhnya di bawah Sultan Hassan al-Bol­kiah, sultan yang kedua puluh sembilan.

Dalam sejarah Brunei, Islam memain­kan peranan yang penting. Kontak awal dengan Islam mungkin telah berlaku sebe­lum 977 (366 H) sewaktu seorang Arab bernama Abu All diangkat menjadi pim­pinan rombongan Brunei yang menghadap Kaisar Cina. Bagaimanapun hanya pada abad ke-15 diketahui secara pasti bahwa Islam diterima oleh penduduk Brunei. Ra­ja Brunei yang pertama memeluk Islam, dipercayai, bernama Awang Alak Betatar yang kemudian bergelar Sultan Muham­mad, yang oleh sumber Cina 1397 (799 H) disebut sebagai Mo-ho-mo-sa. Walaupun kepastian tahun tersebut masih diragukan para ahli tetapi yang jelas bahwa Islam te­lah berakar dengan kuat. Di sekitar Ban­dar Seri Begawan terdapat beberapa batu nisan orang-orang Islam yang mencatat­kan tahun-tahun 1418 (821 H), 1424 (828 H), 1432 (836 H), dan 1444 (848 H). Dari Brunei Islam disebarkan ke kawasan-ka­wasan lain di pantai utara Kalimantan hingga ke Manila di belahan utara

Dalam proses penyebaran dan pengajar­an Islam di dalam negeri sendiri, sultan-sultan Brunei sangat berperanan. Umpa­manya, terlihat dan tindakan para sultan menegakkan undang-undang Islam. Sultan Brunei awal yang dipercayai memainkan peranan penting dalam hal ini adalah Sul­tan Hassan (memerintah antara akhir abad ke-16 sampai dengan awal abad ke-17). Sultan Hassan, dikatakan, telah memper­kenalkan Kanun Brunei. Pemerintahannya dikenal cukup keras, tetapi adil, berdasar­kan ajaran Islam. Kedudukan Islam yang strategis ini tetap bertahan bahkan semasa zaman kolonial Inggris.

Dengan diumumkannya pengundangan Perlembagaan 1959, Islam dinyatakan se­bagai agama resmi berdasarkan mazhab Imam Syafil dalam fikih dan Ahlus Sun­nah wal-Jameah dalam akidah. Sebagian besar isi Perlembagaan ini diabadikan se­waktu Brunei memproklamirkan kemerde­kaan pada 1984, termasuk kedudukan Is­lam sebagai agama resmi serta persyaratan bahwa perdana menteri dan para menteri harus orang Melayu dan beragama Islam.

Pengaturan urusan keislaman dalam lembaga formal yang modern bermula de­ngan pembentukan Majelis Mesyuarat Sya­riat pada awal 1950-an. Kemudian pada 1959 nama ini diganti menjadi Majelis Me­syuarat Agama. Majelis ini berfungsi se­bagai penasihat dalam bidang agama kepa­da sultan yang berkedudukan sebagai Ke­tua Agama Islam. Kemudian pada 1955 didirikan Jabatan Hal Ehwal Agama Islam yang peranan strukturalnya melaksanakan keputusan-keputusan Majelis Agama Islam. Pada 1986 Jabatan Hal Ehwal Agama Is­lam ditingkatkan posisinya menjadi Ke­menterian Hal Ehwal Agama Islam yang dipimpin seorang menteri.

Selain mengendalikan masalah dan tu­gas umum yang berkenaan dengan Islam, Kementerian Hal Ehwal Agama Islam juga bertanggung jawab menjalankan dan meng­awasi pendidikan Islam. Memang sekolah­sekolah agama dan tingkat rendah sampai tinggi telah didirikan. Di samping itu, pe­lajaran agama juga diberikan kepada para pelajar di sekolah-sekolah negeri.

Minyak dan gas merupakan hasil utama Brunei. Penemuan minyak pada 1924, te­lah menyelamatkan Brunei dari kemiskin­an dan kini menjadikannya salah satu ne­gara yang terkaya di dunia. Brunei mengeluarkan minyak sebanyak 150.000 ton se­hari pada 1988; di bawah kapasitas yang semestinya. Sedangkan gas telah mulai di­produksi semenjak 1973. Dengan kekaya­an yang prinsipnya berasal dari minyak dan gas ini Brunei telah mampu memprak­tekkan sistem “negara kebajikan” (wel­farestate). Hampir semua fasilitas umum, termasuk pengobatan, pendidikan, dan ke­sejahteraan orang berusia lanjut, diberikan kepada rakyatnya secara cuma-cuma. Sele­pas mencapai kemerdekaan penuh Brunei telah menjadi anggota PBB, ASEAN dan Organisasi Konferensi Islam (OIC).

 

Advertisement