MENGENAL KERAJAAN TERNATE

adsense-fallback

Salah satu kerajaan Islam di Maluku sekitar abad ke-15. Kerajaan ini merupakan kerajaan pertama yang menganut Islam di antara kerajaan-kerajaan yang ada di Maluku. Kerajaan-kerajaan lain yang juga dikategorikan besar adalah Tidore, Bacan, dan Jailolo. Kerajaan-kerajaan ini muncul setelah runtuhnya kekuasaan Majapahit di Jawa dan setelah masuknya agama Islam ke daerah Maluku. Namun di antara kerajaan-kerajaan yang ada, Kerajaan Ternate dan Tidorelah yang memain-kan peranan paling menonjol dalam perluasan daerah kekuasaan pada sekitar abad ke-15.

adsense-fallback

Kerajaan Ternate memperluas kekuasaannya di Halmahera, Kepulauan Bacan dan Obi, bahkan sam-pai ke Pulau Sula (wilayah Sulawesi Tengah). Di pihak lain, Kerajaan Tidore berhasil pula memperluas pengaruhnya di Halmahera, pulau-pulau Raja Ampat, dan daerah Irian Jaya. Akhirnya Maluku terbagi atas dua wilayah kekuasaan, yakni persekutuan Uli Lima di bawah pimpinan Kerajaan Ternate dan persekutuan Uli Siwa di bawah pimpinan Kerajaan Tidore.

Sejak abad ke-16 timbul perkembangan baru di Maluku, yakni adanya perhatian dari orang-orang Barat terhadap daerah yang kaya akan rempah-rempah ini. Mereka menemukan jalan dagang ke Maluku dan berlomba-lomba mendapatkan rempah-rempah. Dalam usaha memenuhi ambisi untuk menguasai perdagangan rempah-rempah, bangsa Barat (dalam hal ini Portugis) tidak hanya membatasi pada penguasaan dalam bidang perdagangan (monopoli dagang), namun mereka juga mengadakan peperangan.

Untuk menghadapi peperangan yang dilancarkan oleh Portugis, seluruh anggota Uli Lima (Ternate) dan Uli Siwa (Tidore) bersatu di bawah pimpinan Sultan Baabullah dari Ternate. Perang yang berkobar sekitar lima tahun (1570-1575) ini dimenangkan oleh Baabullah. Orang Portugis meninggalkan Maluku dan kemudian mendirikan benteng di Ambon. Kemenangan Baabullah ini sangat penting artinya dalam menghidupkan kembali perdagangan rempah-rempah, sekaligus menghidupkan kembali kegiatan perdagangan para pelaut dan raja-raja Nusantara, serta daerah-daerah seperti Makasar, Jawa Timur, Banten, Palembang, Banda Aceh, serta daerah-daerah Nusantara lainnya yang sebelumnya dikuasai oleh Portugis.

Di bawah kekuasaan Baabullah, Kerajaan Ternate berkembang pesat dan memperluas daerah kekuasa-an. Armada-armadanya menaklukkan daerah yang membentang dari Maluku Utara sampai Pulau Buru, Seram, Sulawesi Utara, dan tempat-tempat sekitar Teluk Tomini. Daerah-daerah taklukan ini kemudian diwajibkan membayar semacam pajak tahunan kepada Kerajaan Ternate.

Sikap monopoli Portugis telah menimbulkan rasa sentimen rakyat Maluku terhadap bangsa asing. Oleh karena itu, bangsa asing lain, misalnya orang-orang Spanyol, juga tidak disukai oleh rakyat Maluku, sehingga mereka akhirnya menarik diri dari Maluku dan menetap di Filipina. Spanyol meninggalkan Maluku sesuai dengan Perjanjian Saragosa yang ditandatangani 22 April 1529 oleh pemerintah Portugis dan Spanyol, yang merupakan revisi dari Perjanjian Tordesillas (7 Juni 1494). Namun dalam perkembangan selanjutnya Kerajaan Ternate menjalin hubungan baik dengan bangsa asing, yakni Belanda. Hubungan antara kedua belah pihak untuk pertama kali terjadi pada tahun 1607. Hubungan keduanya didasarkan atas saling menguntungkan. Berbeda dengan Portugis, pihak VOC mengakui kekuasaan Ternate. ; Kekacauan mulai timbul di Maluku ketika rakyat dilarang menjual rempah-rempah, terutama cengkeh, kepada pedagang-pedagang asing selain VOC yang langsung datang dan membuat perkampungan di kota-kota pelabuhan. Larangan ini disepakati dalam perjanjian-perjanjian Ternate-Belanda yang dibuat pada tahun 1607. Penduduk tetap melakukan transaksi besar-besaran dalam bentuk cengkeh dengan pedagangi pedagang asing, karena satu-satunya alat bayar yang kuat milik rakyat adalah cengkeh. Selain itu, pedagang-pedagang asing tidak hanya membeli rempah- rempah, seperti yang dilakukan VOC, tetapi juga memberikan manfaat dalam segi-segi lain. VOC me-namakan transaksi-transaksi dengan pedagang asing ini “perdagangan gelap”.

Dalam rangka menumpas “perdagangan gelap» VOC melancarkan operasi penebangan pohon-pohon cengkeh yang menimbulkan kesengsaraan penduduk setempat. Hal ini mengakibatkan kemarahan penduduk, sehingga mereka melakukan tindakan menentang VOC.

Selama Sultan Hamzah memegang kendali peme-rintahan Kerajaan Ternate, ia tidak mempunyai poli-tik memusuhi VOC secara terbuka. Sultan Hamzah bahkan memerintahkan kepada para bawahannya untuk mengatasi kerusuhan-kerusuhan yang dilakukan rakyat menentang imperialisme VOC. Pada tahun 1937 Sultan Hamzah dan Gubernur Jenderal Belanda van Diemen datang ke Maluku Tengah untuk meredakan ketegangan antara penduduk dan VOC, tetapi usaha itu tidak berhasil. Sikap pejabat-pejabat VOC vang tidak disukai penduduk bahkan membakar amarah yang lebih besar lagi. Dari hari ke hari perlawanan makin meningkat. Benteng-benteng VOC satu per satu dapat direbut oleh penduduk. Keadaan semacam ini sangat menggelisahkan para pejabat VOC.

Karena keadaan sudah sangat genting, VOC segera mengadakan kontak dengan pemerintah pusat di Batavia. Armada VOC yang berada di Batavia segera diberangkatkan untuk menumpas perlawanan rakyat. Pergolakan rakyat tidak hanya ditujukan kepada VOC, tetapi juga kepada Sultan Mandarsyah yang dianggap rakyat terlalu dekat hubungannya dengan VOC. Untuk menyelamatkan kekuasaan Sultan Mandarsyah, armada yang didatangkan dari Batavia ditugaskan membebaskan Sultan Mandarsyah dan membawanya ke Batavia. Di Batavia Mandarsyah diakui oleh Belanda sebagai Sultan Ternate yang sah. Sebagai imbalannya Sultan Mandarsyah harus menandatangani suatu perjanjian baru. Perjanjian tahun 1652 itu menentukan bahwa VOC diberi hak penuh mengadakan penebangan semua pohon cengkeh yang berada di wilayah Kerajaan Ternate, di Maluku Utara dan Maluku Selatan. Disetujui juga bahwa wilayah Kerajaan Ternate di Maluku Tengah diperintah langsung oleh Gubernur VOC yang berada di Ambon.

Sejak sekitar tahun 1683 Belanda berhasil menjadikan Ternate sebagai daerah jajahannya. Meskipun demikian, perlawanan rakyat Ternate menentang VOC terus berkobar.

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback