Advertisement

Kerajaan Muwahhidun, (Almohacle Empire) adalah nama suatu kerajaan Islam di Magrib, Afrika Utara, yang pada mula­nya merupakan gerakan keagamaan yang dilakukan oleh Ibnu Tumart. Ia berasal dari suku bangsa Nasmudah dan di pegu­nungan Atlas, kawasan Sus di Magrib. Ia pernah melakukan studi ke Timur, belajar usul fikih yang di Barat tidak dipelajari orang, kemungkinan sekali mempelajari teori-teori al-Gazali, mengenal dengan baik aliran Asrariyah dalam teologi dan tampaknya juga mengetahui dengan baik tulisan-tulisan Ibnu Hazm, penganut aliran zahiri dari Spanyol. Menurut pendapat­nya, sumber ajaran Islam adalah al-Quran, al-Hadis dan konsensus (ijmak) sahabat nabi Muhammad (waktu itu, sumber satu­satunya yang dianut di Magrib dan Spa­nyol adalah fikih Malik ibnu Anas atau mazhab Maliki yang dalam keadaan mun­dur, sampai-sampai belajar tafsir al-Quran dan al-Hadis pun tidak perlu karena hal itu sudah dilakukan oleh Imam Malik). Ia menolak penetapan hukum dengan rasio (ra’yu)jdemikian juga dengan analo­gi (qiyas `aqli). Dalam teologi, ia penganut aliran Asrariyah yang fanatik. Siapa pun yang menafsirkan al-Quran secara literal, tidak akan terlepas dari antropomorfisme (tajsim), yaitu konsepsi materialistik ten-tang Allah, dan orang yang melakukan dan mempercayainya menjadi kafir. Oleh karena kepercayaan seperti itu sudah me­luas di kalangan masyarakat, ia berpen­dapat bahwa yang salah adalah penguasa (waktu itu yang menjadi penguasa al-Mu­rabitun). Oleh karena itu jihad untuk menghancurkan al-Murabitin wajib hukum­nya. Sejak itu, Ibnu Tumart berdakwah ke mana-mana, terutama kepada anggota sukunya sendiri, Masmudah, tempat ia mengajarkan al-Quran dan dasar-dasar ke­percayaan yang benar. Setelah mendapat

kepercayaan penuh dari orang-orang ter­kemuka dari sukunya, ia mengaku sebagai al-Mandi (1121/515 H) dan bertekad un­tuk mendirikan pemerintahan meskipun ibu kotanya barn didirikan 25 tahun ke­mudian.

Advertisement

Sahabat pertama yang ia percayai ada­lah Abdul .Mu`min, seorang Barbar dari suku Kumiyah. Oleh Ibnu Tumart, ia di­ajari tentang keyakinan Islam yang dianut­nya, tujuan dakwahnya dan mungkin juga rencananya untuk masa depan.

Semenjak mengaku sebagai al-Mandi, Ibnu Tumart berhasil menghimpun sejum­lah benar orang Barbar yang ketua-ketua­nya adalah sahabat atau muridnya. Mere­ka dinamai al-Muwahhidun, pengikut ajar-an tauhid, sebagai lawan dari penganut paham tajsim. Mereka disusun, sesuai de­ngan organisasi politico-religius, sebagai berikut:

  • Rakyat al-Muwahhidun merupakan suatu kesatuan sosial yang beriman secara Di luar mereka adalah kafir yang hams diperangi,
  • Kesatuan sosial itu dipimpin oleh Imam, yang pertama: al-Mandi, dan selan­jutnya khalifah-khalifah,
  • Al-Mandi dibantu oleh Dewan 10 orang (Ahl alAsyrat), yang dipilih dari kalangan pengikut-pengikutnya yang ter­tua dan berfungsi sebagai kabinet peme­ Mereka di samping punya hak suara dalam pemerintahan, dapat menjadi komandan militer atau mewakili al-Mandi sebagai imam salat,
  • Dewan 50 orang yang anggota ang­gotanya terdiri dari cabang-cabang Barbar yang merupakan bagian dari masyarakat al-Muwahhidun yang fungsinya sebagai Penasihat,
  • Dewan 70 orang yang fungsinya mi­rip dengan DPR masa kini.

Kontak pertama dengan al-Murabitin terjadi ketika gubernur di Sus dengan pa­sukannya menyerang suku Harga yang membangkang, tetapi dapat dipukul mun­dur. Dengan kemenangan pertama ini, pengikut al-Mandi maju pesat. Ia lalu pin­dah ke dusun di Tinmal dan membangun pusat pemerintahannya yang pertama.

Tahun 1125 (517 H), dengan kekuatan yang besar ia menyerang Marakusy (pusat pemerintahan al-Murabitin), tetapi pasu­kan yang dipimpin oleh Abdul Mu’min, sahabat dan murid terpercaya al-Mandi, dapat dihancurkan al-Murabitin. Ia me­ninggal, menurut Ibnu Khaldun 1128 (522 H), tetapi pengarang-pengarang lain mengatakan 1130 (524 H). Perbedaan ini terjadi, agaknya karena hari meninggalnya dirahasiakan, sampai rakyatnya siap mene­rima kenyataan itu, dan Abdul Mu’min sudah kuat kedudukannya, sehingga ke­tika diadakan pemilihan, ialah yang ter­pilih, kemudian dinobatkan oleh Dewan 10 orang 1130 (524 H) dan bergelar khali­fah dengan sebutan Amir al-Mukminin. Perjuangan dilanjutkan sampai al-Murabi­tun dapat dihancurkan 1146 (541 H). Pe­naklukan ke Spanyol sudah dimulai sebe­lum al-Murabitin jatuh dan al-Muwahhi­dun berhasil menguasai hampir semua wilayah Spanyol Islam.

Untuk pertama kalinya sejak Islam ter­sebar ke Barat, terjadi persatuan di bawah satu pemerintahan, al-Muwahhidun, sejak dari teluk Gabes sampai ke Lautan Atlan­tik ditambah dengan Spanyol Islam. Di­nasti ini bertahan hampir satu setengah abad. Pada 1235 (633 H), Yagmurasan ibnu Zaiyan timbul di Tlemcen dan men­dirikan kerajaan Bani Abdul-Wadid di Ma­grib Pusat, dan pada 1236 (634 H), Abu Zakariya, gubernur al-Muwahhidun di If­riqiya menyatakan berdiri sendiri dan me­ngambil Tunis sebagai ibu kota. Akhirnya, 1269 (683 H) Bani Mann menduduki Marakusy, pusat pemerintahan al-Muwah­hidun.

Nama-nama penguasa al-Muwahidun adalah:

  • Muhammad ibnu Tumart al-Mandi, 1121-1128 (515-522 H),
  • Abdul Mu’min Amir al-Mukminin, 1128-1163 (522-558 H),
  • Abu Ya’qub Yusuf 1163-1184 (558-580 H),
  • Abu Yusuf al-Mansur 1184-1198 (580-595 H),
  • Muhammad an-Nasir 1198-1213 (595-610 H),
  • Yusuf al-Mustansir, 1214-1224 (611-620 H),
  • Abdul-Wahid al-Makhlu, 1224 (620 —621 H),
  • Al-Adil, 1224-1227 (621-624 H)
  • A1-Ma’mun, 1227-1232 (624-629 H),
  • Ar-Rasyid, 1232-1242 (630-640 H),
  • As-Said, 1242-1248 (640-646 H)
  • Al-Murtada 1248-1266 (646-665 H, dan

Abu Ula, 1266-1269 (665-668 H).

Advertisement